Lastboy

Anak laki-laki terakhir, suka wisata, dan kuliner

Menikmati Secangkir Kopi Guatemala di Louie Coffee Jakarta

Hari ini saya berkesempatan mengunjungi coffee shop baru di kawasan Pondok Pinang, Louie Coffee Jakarta. Nama aslinya sebenarnya hanya cukup Louie Coffee, namun karena ada nama brand yang sama dari luar negeri, maka saya tambah kata “Jakarta” sebagai pembeda.

Berdiri pada November 2016, coffe shop ini hadir dengan konsep speciality coffee. Tempat yang pas bagi penikmat kopi kualitas premium yang diolah langsung dari tangan-tangan barista handal. Coffee shop ini dimiliki oleh Louise Lenny Lihar, semi finalis Indonesia Barista Championship 2015.

Pertama kali menuju lokasi Louie Coffee, coffee shop ini bisa dikenali melalui logo biru terang bertuliskan “Louie” di depan kafe. Tampilan luarnya tampak segar dengan tanaman-tanaman cantik di terasnya. Beberapa kursi dan meja juga tersusun rapi bagi pengunjung yang ingin menikmati kopi dengan suasana outdoor.

Tampilan depan Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara S)

Suasana outdoor di Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara S)

Ketika masuk ke dalam, Louie Coffee tidak seperti coffee shop lainnya. Sebelum menuju kafe, terdapat satu ruangan yang dikelilingi kaca. Di sana saya disambut dengan ramah oleh seorang resepsionis dan mempersilahkan saya untuk masuk. Pelayanan yang bagus menurut saya, menimbulkan kesan “spesial” bagi pengunjung.

Setelah itu di bagian dalam kafe, ruangannya tampak terang dengan pencahayaan yang natural. Sebab bagian depan kafe menggunakan dinding kaca yang mudah tertembus oleh cahaya matahari.

Sedangkan untuk interior di dalamnya, coffee shop ini sangat kental dengan nuansa kayu. Hampir seluruhnya menggunakan kayu, mulai dari lantai, meja barista, meja pelanggan, dan kursi. Suasananya akan sangat cantik bila menjelang sore, warna coklat dari kayu berpadu dengan lampu kuning yang temaram.

Salah satu meja yang menghadap jendela (Foto: Lastboy Tahara S)

Nuansa kayu di Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara S)

Di bagian meja barista, saya bertemu dengan Tengku dan Angga. Mereka berdua adalah barista yang familiar bagi saya. Sebab saya pernah bertemu dengan mereka berdua bekerja di salah satu coffee shop ternama di kawasan Gandaria. Sedangkan Angga, namanya cukup dikenal di kalangan barista Indonesia. Tahun 2015 lalu ia masuk finalist dalam kompetisi Bandung Brewers Cup 2015.

Dilayani oleh barista-barista handal Louie Coffee, saya memesan V60 Guatemala El Pilar. Karakter fruity dari kopi dengan rasa sweet candy dan orange candy terasa pas di lidah. Sembari menikmati kopi, saya juga berkesempatan ngobrol dengan Tengku. Ia menjelaskan bahwa kopi di sini memiliki blend khas, yang mereka beri nama Louie Blend, perpaduan biji kopi El Savador dan Ethiopia.

Secangkir Kopi Guatemala El Pilar dari Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Coffee shop ini memang masih sepi pengunjung, namun bila masyarakat sudah mengenal dan tahu siapa yang berada di belakangnya, saya rasa coffee shop ini akan menjadi hype di kalangan penikmat speciality coffee. Dimiliki oleh semi finalis Indonesia Barista Championship 2015 dan kopi diolah langsung dari tangan-tangan barista terlatih, saya rasa tak perlu ada kata ragu untuk menikmati secangkir kopi premium Louie Coffee.

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Louie Coffee langsung saja ke Jalan Ciputat Raya No. 5, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Buka mulai dari jam 8 pagi hingga jam 7 malam.

Lambatnya Bersepeda di Jalur CFD Jakarta

Di Jakarta aktifitas Car Free Day atau yang akrab disebut dengan CFD selalu menarik perhatian masyarakat. Setiap Minggu pagi ratusan warga Jakarta selalu memenuhi jalur khusus CFD untuk berolahraga. Saking ramainya aktifitas ini juga sering dipakai perusahaan untuk menyelenggarakan event yang berkaitan dengan olahraga dan tempat berkumpul. Terakhir kali saya mengikuti CFD Jakarta adalah saat mengikuti acara kantor, bukan berolahraga dan menyusuri jalan-jalan yang dibuat khusus CFD.

Saat ada kesempatan, saya langsung memutuskan untuk bersepeda ke area CFD di daerah Sudirman pada Minggu pagi. Saya bersiap dari Jalan Palmerah Barat sekitar pukul setengah 5 pagi. Memang sih masih gelap, tapi saya rasa itu adalah waktu yang tepat untuk bisa menikmati sensasi pagi di Jakarta. Dengan menggunakan sepeda standar Polygon Monarch 2.0 saya siap untuk memulai aktifitas CFD pertama saya di Jakarta.

Polygon Monarch 2.0

Polygon Monarch 2.0

Di sepanjang jalan, meskipun pagi masih gelap di Jakarta, aktifitas warganya masih ramai. Di sana saya masih sering menemui kendaraan berlalu-lalang, baik kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Bahkan di Jalan Palmerah Barat kendaraan angkot beroperasi 24 jam. Jadi jangan harap bahwa pagi hari di Jakarta benar-benar sejuk tanpa polusi.

Namun suasana ramai tersebut berubah ketika saya memasuki kawasan Stadion Gelora Bung Karno. Di sini masyarakat lebih memilih memarkirkan kendaraannya, lalu berolahraga di kawasan tersebut. Ada yang lari pagi, bersepeda, senam, atau sekedar meregangkan otot. Biasanya mereka berolahraga di dalam stadion untuk lari pagi, namun karena sedang direnovasi untuk Sea Games, stadion ditutup untuk sementara waktu.

Warga berolahraga di kawasan Stadion GBK | Foto: Lastboy Tahara .S

Warga berolahraga di kawasan Stadion GBK | Foto: Lastboy Tahara .S

Memasuki kawasan Sudirman jalanan sudah dipenuhi oleh warga yang sedang berolahraga. Di sini jalanan ditutup bagi kendaraan bermotor selama CFD, jadi warga bisa leluasa untuk berolahraga di sepanjang jalan. Suasana pagi yang menyenangkan, segar dan bebas polusi. Sangat berbeda bila kita mengunjunginya saat hari kerja, jalan penuh dengan kendaraan bermotor.

Ratusan warga memadati jalur CFD Jakarta untuk berolahraga

Ratusan warga memadati jalur CFD Jakarta untuk berolahraga | Foto: Lastboy Tahara .S

Hanya saja untuk bersepeda, saya rasa ini bukan lah tempat yang tepat. Di sini saya tidak bisa mengkayuh sepeda dengan cepat, sebab kawasan Jalan Sudirman terlalu padat oleh warga yang berolahraga. Saking padatnya, kadang saya harus menuntun sepeda tersebut. Baru lah ketika agak lengang, sepeda bisa dipacu agak cepat. Sepertinya saya harus mencari rute baru untuk bersepeda pagi-pagi di Jakarta.

Tapi pengalaman pertama saya menyusuri jalur-jalur khusus CFD kali ini sungguh menyenangkan. Bisa berolahraga dan menikmati suasana pagi di Jakarta. Memang hanya sehari, tapi lumayan lah daripada tidak sama sekali. Salut untuk penggagas ajang CFD di Jakarta, warga jadi bisa berolahraga pagi dengan bebas tanpa gangguan kendaraan bermotor dan polusi.

Tanamera Coffee Populerkan Biji Kopi Lokal ke Dunia

Saya akhirnya berkesempatan mengunjungi kedai kopi ternama di Jakarta, Tanamera Cofee. Bagi para penikmat kopi, nama kedai ini dikenal menggunakan 100% biji kopi lokal berkualitas dan sering memenangkan kompetisi kopi di tingkat internasional. Prestasi terakhir yang diraih Tanamera Coffee adalah menyabet medali emas di ajang Australian International Coffee Award (AICA) 2016 dengan biji kopi dari Gunung Malabar (Jawa Barat), Malabar Natural.

Ciri khas Tanamera Coffee memang ahli dalam menyajikan biji kopi lokal berkualitas. Jadi, Anda tidak perlu menanyakan apakah ada biji kopi yang di datangkan dari luar negeri. Mereka juga memiliki mesin roaster sendiri di Serpong, sehingga mampu menjaga kualitas biji kopi tanpa campur tangan perusahaan lain. Dengan tagline “Fresh Roast Artisant” mereka konsisten menyajikan biji kopi segar kepada konsumen.

Kedai kopi Tanamera memiliki beberapa cabang, dan yang saya kunjungi saat ini berada di Thamrin City Office Park, Jakarta Pusat. Berdiri diantara gedung perkantoran yang menjulang, kedai kopi ini tampil minimalis dengan pintu kaca dan jeruji besi di belakangnya. Bila sore tiba, di depan kedai kopi akan dipasang payung lebar untuk pengunjung yang menginginkan suasana outdoor.

Sedangkan untuk bagian indoor, pengunjung akan disambut aroma kopi saat memasuki ruangan. Pasalnya meja barista meracik kopi sangat dekat dengan pintu masuk. Selain itu kita bisa melihat langsung proses pembuatan kopi dari dekat, bagaimana mereka menyeduh kopi atau membuat latte art. Sedangkan di belakang barista berjejer rapi kantong-kantong biji kopi berwarna merah yang terbuat dari kertas.

Bagian Depan Tanamera Coffee (Thamrin) | Foto: Lastboy Tahara .S

Bagian Depan Tanamera Coffee (Thamrin) | Foto: Lastboy Tahara .S

Di sana saya memesan secangkir Cafe latte dan menu Wraps: Tuna Mayo. Untuk menu kopi, sebenarnya paling pas bila memesan single origin lokal seperti Malabar Natural, Rasuna Natural, Papua Wamena, Mandheling, dan yang lainnya. Single origin yang paling dicari di Tanamera adalah Rasuna Natural. Sedangkan yang paling susah dicari adalah Papua Wamena, karena lokasi produksi yang jauh dan sedikitnya penyuplai kopi di Papua. Informasi tersebut saya dapat dari karyawan logistik Tanamera Coffee (Thamrin), Septian Hadi.

Cafe Latte dari Tanamera Coffee | Foto: Lastboy Tahara .S

Cafe Latte dari Tanamera Coffee | Foto: Lastboy Tahara .S

Wraps Tuna Mayo dari Tanamera Coffee | Foto: Lastboy Tahara .S

Wraps Tuna Mayo dari Tanamera Coffee | Foto: Lastboy Tahara .S

Berbicara tentang kopi Papua Wamena membuat saya teringat dengan artikel Nurullah di Kompasiana yang berjudul “Kopi Emas dari Tanah Papua”. Di artikel tersebut ia membahas kopi Mungme Gold dari Papua yang mahal dan sulit ditemukan di luar Papua. Hal itu karena pengangkutan biji kopi dari petani ke koperasi harus menggunakan Helikopter. Biaya sewa Helikopter yang mencapai jutaan rupiah itu lah yang menyebabkan harga biji kopi ikut naik. Selain itu biji kopi juga hanya dijual di kawasan Mimika, sebab para petani kopi belum sanggup untuk memproduksinya dalam jumlah besar.

Bisa menikmati biji kopi Papua di Tanamera, saya rasa adalah hal yang luar biasa, karena kita tidak perlu repot jauh-jauh ke Papua untuk mendapatkannya. Mungkin bila saya berkunjung ke sana lagi, saya akan memesan manual brew Papua Wamena. Semoga makin banyak kedai kopi yang bangga menggunakan biji kopi lokal seperti Tanamera Coffee, supaya biji kopi lokal dikenal luas oleh masyarakat dunia.

Kira-kira biji kopi lokal apa lagi yang akan diangkat Tanamera? Kita tunggu saja.

Nikmatnya Aneka Masakan Khas Batak di Pasar Senen

Masakan khas Batak memang sudah tersebar di berbagai daerah, namun tidak semua daerah bisa menyajikan masakan khas Batak dengan rasa yang otentik. Maksudnya, rasa masakan yang hampir sama dengan  rasa masakan di daerah suku Batak, Sumatera Utara. Karena masakan khas suku Batak juga menggunakan bumbu khas yang hanya bisa diperoleh di Sumatera, misalnya andaliman atau onje.

Di Jakarta masakan khas Batak dengan rasa otentik sangat mudah ditemui, sebab ketersediaan rempah dan bumbu khas Batak sangat melimpah. Pasar Senen blok IV adalah salah satu pasar yang menjual bumbu khas Batak paling lengkap. Saking lengkapnya, sebagian aneka rempah dari Pasar Senen juga dikirim ke Pasar Mayestik di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Suasana Pasar Senen. Sayang, kurang bersih dan tidak terawat. | Foto: Lastboy Tahara

Suasana Pasar Senen. Sayang, kurang bersih dan seperti tidak terawat. | Foto: Lastboy Tahara

Menu masakan khas Batak yang sering tersedia di Pasar Senen adalah  Saksang, Na Niura, Ikan Mas Arsik, dan Babi Panggang khas Batak. Masakan tersebut tentu saja menggunakan bumbu khas Batak seperti andaliman. Maka jangan heran bila rasanya berbeda dengan masakan lain, karena Anda akan menemukan sensasi rasa pedas dan “getir”.

Babi Panggang adalah salah satu menu masakan khas Batak yang populer di Pasar Senen. Akan terasa nikmat bila dipadu dengan sambal cabe hijau, terlebih lagi bila ditemani nasi hangat. Selain itu, cara masak yang benar akan membuat rasa daging terasa gurih dan juicy. Belum lagi bila mendapat kulit babi panggang yang krispi, gurihnya nikmat bukan main!

Masakan Khas Batak: Ikan Mas Na Niura (Warna Kuning), Babi Panggang Khas Batak, Sup | Foto: Lastboy Tahara

Ikan Mas Arsik (Warna Kuning), Babi Panggang Khas Batak, Sup | Foto: Lastboy Tahara

Saksang juga masakan Batak yang paling banyak dicari, karena makanan ini paling cocok bila dipadu dengan andaliman. Saksang biasanya diolah menggunakan daging babi dan dipadu dengan banyak rempah, sehingga memiliki aroma yang khas.  Warna sajiannya agak coklat kehitaman dan menggunakan bumbu yang kental. Sedangkan dari segi rasa, Saksang memiliki rasa pedas yang menggigit akibat campuran bumbu andaliman.

Bila bosan dengan menu daging, masakan khas Batak juga ada yang berupa ikan. Salah satu yang cukup dikenal adalah Ikan Mas Arsik. Sesuai dengan namanya, menu ini menggunakan ikan mas sebagai bahan utama dan bumbu arsik yang berwarna kuning keemasan. Sama seperti masakan khas Batak lainnya, Ikan Mas Arsik menggunakan aneka rempah dan andaliman, sehingga rasanya menjadi khas dan getir di lidah. Selain itu tekstur dagingnya juga lembut karena ikan dan bumbunya diolah dengan cara direbus.

Badak, Minuman Soda Khas Siantar

Badak, Minuman Soda Khas Siantar

Puas menikmati masakan khas Batak yang dominan rasa pedas dan kaya rempah, Anda bisa memesan minuman Sarsaparila soda khas Pematang Siantar, Badak.  Minuman segar ini dikemas dalam botol kaca bening yang bertuliskan “Badak” dengan huruf berwarna hijau. Hal yang menarik, minuman ini kabarnya sudah berumur 100 tahun.

Berdasarkan berita di Kompas.com yang berjudul “Badak, Legenda Sebotol Minuman”, minuman Badak mulanya diproduksi pabrik minuman bersoda dan es batu NV Ijs Fabriek Siantar pada 1916. Pabrik ini didirikan oleh pria kelahiran Swiss bernama Heinrich Surbek. Setelah berganti kepemilikan, nama pabrik berubah menjadi PT Pabrik Es Siantar hingga sekarang.  Di Medan dan Pematang Siantar minuman Badak lumayan digemari. Mungkin karena banyak orang Batak di Jakarta yang rindu minuman ini, botol-botol Badak beredar hingga ke Jakarta.

Page 1 of 17

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén