Lastboy

Anak laki-laki terakhir, suka wisata, dan kuliner

(Podcast EP 1) Mengenal Linguistik

Kue Pancong, Kudapan yang Gurih dan Mengenyangkan

Kue Pancong, kue tradisional yang menggunakan bahan baku utama santan dan garam. Rasanya gurih dan memiliki tekstur lembut di dalamnya. (Foto: Lastboy Tahara S)

Kue Pancong adalah kudapan favorit saya di pagi hari, karena porsinya yang kecil namun cukup mengenyangkan dan nikmat. Kue ini berbentuk setengah lingkaran dan berwarna kecoklatan. Terbuat dari santan dan menggunakan garam, rasanya amat gurih. Kue tradisional ini dapat dengan mudah ditemui di pulau Jawa. Konon kue pancong berasal dari Jakarta. Di beberapa daerah kue ini memiliki nama yang beragam, misalnya di Bandung disebut dengan bandros dan di Jawa Tengah disebut kue rangin.

Saat ini penjual kue pancong tradisional makin sulit ditemui karena tergeser dengan kudapan yang lebih modern. Dulu masih banyak penjual pancong berkeliling sambil berjalan kaki dan memanggul loyang, mereka hanya berhenti untuk memasak pancong bila ada yang memesan. Meski kian tergeser dari jalanan, kue pancong masih tetap eksis, sebab beberapa restaurant sudah mengadopsinya sebagai dessert. Bahkan di Jakarta, kue ini sudah dimodifikasi dalam bentuk yang lebih modern, misalnya dipadukan dengan es krim, karamel, selai, dan yang lainnya.

Meski kini memiliki banyak varian, saya tetap menyukai versi original alias tanpa dipadukan topping apapun. Bagian dalamnya masih berwarna putih dengan kulit berwarna kecoklatan. Bila baru matang, rasanya akan terasa sedikit krispi dan lembut di bagian dalam. Dari segi rasa, versi original didominasi rasa kelapa yang gurih. Bisa juga ditaburi sedikit gula pasir jika dirasa terlalu asin.

Untuk menikmati kue pancong original harganya masih sangat murah. Para penjaja tradisional biasanya masih menjual Rp 10.000 untuk satu porsi. Namun bila sudah masuk rumah makan modern atau restaurant, harganya akan sedikit lebih mahal, terlebih lagi bila menggunakan topping. Misalnya satu porsi kue pancong dengan taburan messes coklat, biasanya dihargai Rp 20.000 atau dengan es krim bisa mencapai Rp 30.000.

Mi Gomak, Mi Khas Batak yang Lembut dan Gurih

Mi Gomak goreng dengan potongan daging ayam dan baso (Foto: Lastboy Tahara S)

Mi Gomak merupakan mi khas Batak hampir tersaji di seluruh provinsi Sumatera Utara. Makanan ini sekilas mirip dengan spaghetti bila sudah masak, namun diameternya sedikit lebih besar. Mi Gomak memiliki tekstur kenyal, lembut, dan berwarna kuning. Masyakarat batak biasanya menyajikannya dengan direbus atau digoreng. Satu hal yang menjadi pembeda Mi Gomak dengan menu mi lain adalah menggunakan bumbu khas batak, andaliman.

Namun kini bila ingin menikmati Mi Gomak, kita tidak perlu jauh-jauh ke Sumatera Utara, sebab Mi Gomak sudah dapat dinikmati di berbagai rumah makan khas batak yang tersebar di berbagai daerah. Di Jakarta misalnya, karena banyak etnis batak yang sudah menetap, kita dapat dengan mudah menemukan Mi Gomak di rumah makan khas Batak. Pasar Senen adalah salah satu lokasi yang terkenal dengan kuliner khas Batak.

Di Pasar Senen kita juga dapat membeli Mi Gomak yang masih mentah atau berbentuk lidi, supaya dapat diolah sendiri di rumah. Supaya terasa otentik, kita juga dapat sekalian membeli bumbu andaliman di Pasar Senen. Sedangkan untuk bumbu dasar Mi Gomak terdiri dari bawang putih, bawang merah, cabai, kunyit, merica, dan lengkuas.

Cara memasak Mi Gomak sangat mudah, cukup rebus Mi Gomak hingga kenyal dan tiriskan. Kemudian campurkan dengan bumbu yang sudah dihaluskan, setelah itu tumis hingga berwarna kecoklatan. Bila ingin menggunakan kuah, campurkan santan sambil diaduk. Setelahnya bisa ditambahkan dengan menu lain sesuai selera, misalnya sayur, daging, udang, dan yang lainnya.

Dari segi rasa, Mi Gomak memiliki rasa yang dominan pedas dan gurih karena kaya akan rempah. Campuran bumbu andaliman juga menimbulkan sensasi getir di lidah. Mi Gomak akan terasa lebih segar bila disajikan dengan cara direbus, kuah yang kaya akan bumbu akan menambah selera makan. Mi Gomak juga pas ditemani dengan sepotong bakwan dan kerupuk.

Bila ingin menikmati Mi Gomak tanpa repot, Anda bisa membelinya di rumah makan khas Batak. Harga satu porsi Mi Gomak beragam, di Jakarta misalnya, harga satu porsi Mi Gomak berkisar Rp 18.000 – Rp 25.000.  Harganya akan semakin mahal bila topping yang disajikan semakin banyak, seperti ekstra daging, bakso, udang, dan yang lainnya.

Menikmati Gurih dan Pedasnya Bebek Goreng Pak Ndut Balikpapan

Lokasi Pak Ndut Balikpapan (Foto: Lastboy Tahara S)

Ketika saya berkunjung ke Balikpapan, saya sempat mencicipi kuliner bebek goreng di rumah makan Pak Ndut Balikpapan. Di sini terdapat berbagai macam olahan bebek, mulai dari bebek goreng original, bebek goreng sangan, bebek goreng remuk, dan bebek goreng bumbu lada hitam manis. Salah satu menu yang favorit adalah bebek goreng sangan, karena diolah tanpa menggunakan minyak dan memiliki aroma yang khas.

Bebek goreng sangan Pak Ndut disajikan bersama sambel korek dan aneka lalapan. Pertama kali mencoba, daging bebeknya cukup lembut dan gurih. Akan semakin nikmat jika dagingnya dicocol sambal korek yang pedas. Dari tampilannya saja sambal ini sangat menggugah selera, merah dan terlihat biji-biji cabainya.

Bebek Goreng Pak Ndut Balikpapan (Foto: Lastboy Tahara S)

Di bebek goreng Pak Ndut juga tersedia berbagai jenis sambal, mulai dari sambal ijo, sambal korek, sambal sangan, dan sambal tomat. Sambal buatan mereka juga terkenal mantap, sebab tak asik rasanya bila daging bebek yang enak tidak dipadukan dengan sambal. Bagi penyuka pedas, sambal korek adalah pilihan yang paling tepat.

Tapi bila ingin merasakan rasa pedas yang khas, mereka menyediakan sambal sangan. Cara mengolahnya pun sama dengan bebek goreng sangan, yaitu tidak menggunakan minyak dan dibuat di atas wajan yang terbuat dari tanah liat. Setelah itu ditambahkan pula daun kemangi, bawang, dan tomat pada sambal sangan. Hasilnya sambal sangan menyajikan cita rasa pedas yang khas, tanpa minyak, dan aroma yang sedap.

Menurut saya rumah makan ini sangat pas bagi penikmat kuliner bebek, karena mereka mampu menyajikan menu bebek goreng dengan baik. Tidak hanya dari kualitas kematangan daging bebek yang baik, mereka juga tidak main-main dengan menu pendampingnya. Misalnya penyajian aneka sambal dengan tingkat kepedasan yang berbeda dan lalapan segar. Tempatnya juga luas dan nyaman, sehingga tidak perlu berpikir dua kali bila ingin menikmati bebek goreng dengan para kerabat.

Bagi Anda yang ingin menikmati Bebek Goreng Pak Ndut Balikpapan, silakan kunjungi di Jl. Syarifuddin Yoes No.253, Sepinggan, Balikpapan.

Page 1 of 19

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén