Lastboy

Anak laki-laki terakhir, suka wisata, dan kuliner

Bakmi Amoy, Kuliner Khas Tionghoa yang Populer di Glodok

Akhir Januari lalu saya mengunjungi kawasan Petak Sembilan yang terletak di Glodok, Jakarta Barat. Kawasan ini dikenal sebagai Pecinan atau pemukiman etnis Tionghoa di Jakarta. Tak jarang kita akan menemukan beragam kuliner khas Tionghoa, mulai dari kue keranjang, berbagai macam bakmi, nasi hainam, dan yang lainnya. Kebetulan posisi saya saat itu berada di gang sempit yang terkenal dengan jejeran kuliner khas Tionghoa, Gang Gloria. Di sana terdapat warung bakmi populer bernama Bakmi Amoy.

Warung Bakmi Amoy di Gang Gloria, Glodok (Foto: Lastboy Tahara)

Sebenarnya nama warung ini hanya Amoy saja, bisa dilihat di papan yang mereka pasang dan tulisan di etalase menu mereka. Tapi orang terbiasa menyebutnya sebagai Bakmi Amoy, mungkin karena menu andalan mereka adalah Bakmi. Di sini mereka menyajikan Bakmi Ayam, Kwetiau Bakso, Bakso Goreng, Bihun Pangsit, Nasi Goreng, Nasi Campur, Nasi Hainam, Nasi Tim-Swi Kiau, dan Pangsit Goreng.

Setelah menentukan pesananan, saya harus susah payah mencari bangku kosong. Di sini tempatnya tidak terlalu lengang. Terletak di gang sempit dan ramai pelanggan, membuat banyak orang antri sambil berdiri.

Saya akhirnya menumpang di warung kosong sebelah yang sedang tutup dan meminjam bangku. Saya pikir bakal ditegur, ternyata di sini juga sudah biasa untuk menumpang di warung yang tutup. Pelanggan lain pun juga dituntun oleh pelayan mereka untuk mencari bangku-bangku kosong di warung kosong terdekat.

Suasana Warung Bakmi Amoy di Gang Gloria (Foto: Lastboy Tahara)

Setelah mendapatkan bangku, tak lama kemudian pesanan saya datang. Saat itu saya memesan satu porsi Bakmi, Bakso Goreng, dan Nasi Campur. Satu porsi Bakmi Amoy terdiri dari potongan daging yang gurih, sayur sawi, dan semangkuk kecil kuah sup segar yang tidak terlalu asin.

Bakmi Amoy paling enak bila dipadukan dengan bakso goreng yang tebal dan gurih, apa lagi kalau bakso masih tersaji hangat. Bagi yang suka pedas, bisa ditambahkan sambal agar terasa lebih menggigit. Satu porsi Bakmi harganya kira-kira Rp 25.000.

Satu porsi Bakmi Amoy (Foto: Lastboy Tahara)

Satu porsi Nasi Campur (Foto: Lastboy Tahara)

Sedangkan untuk satu porsi Nasi Campur Amoy terdiri dari potongan babi merah, potongan babi panggang, dan satu tusuk sate. Daging yang mereka sajikan sangat empuk dan juicy. Lemak dagingnya juga pas, sehingga sangat nikmat di setiap gigitan. Dan yang paling bikin nambah adalah aroma dagingnya yang harum. Satu porsi Nasi Campur harganya kira-kira Rp 35.000.

Untuk soal rasa, sebenarnya semua kuliner di Gang Gloria memang patut diacungi jempol, bukan hanya warung Amoy. Karena kuliner khas Tionghoa di sana otentik dan biasanya diolah langsung oleh pemiliknya. Namun, menurut saya, yang membuat banyak orang berkunjung adalah sensasi menikmati kuliner di gang kecil. Berbaur dengan pengunjung lain dan berbagi meja. Di sini semua orang bisa setara untuk menikmati kuliner istimewa yang tidak ada di restaurant mewah.

Penasaran ingin mencoba? Langsung saja ke Gang Gloria, Glodok, Jakarta Barat.

Lumernya Keju Raclette Steak Bikin Ngiler

Di daerah Kembangan, Jakarta Barat, terdapat restaurant steak yang populer di instagram bernama Willie Brothers Steakhouse. Salah satu menu yang fenomenal adalah Raclette Steak, menu steak yang disajikan dengan keju meleleh di atasnya. Steak ini paling banyak dibagikan di instagram karena tampilannya yang menggiurkan.

Pertama kali mengunjungi Willie Brothers Steakhouse, saya disambut tata ruang dekorasi yang apik dan kental suasana natal. Ada lampu kerlap-kerlip dan hiasan natal yang serba merah, begitu juga dengan kursinya yang diikat pita kain merah. Saya belum tahu bagaimana dekorasi awalnya bila bukan saat natal.

Untuk mendapatkan pelayanan saya tidak perlu repot untuk menunggu, sebab selalu ada pelayan yang stand by. Mereka juga sangat apik dalam berkomunikasi dengan pelanggan, seperti memberikan sapaan atau menjelaskan menu-menu steak yang saya tidak begitu paham dengan istilahnya. Salut atas interaksi dan komunikasi mereka yang baik dengan pelanggan.

Setelah telunjuk saya berputar-putar di buku menu, ternyata pilihan tetap saja jatuh ke menu Raclette Steak yang menawan. Instagramable kalau anak muda kekinian mengatakannya. Secara visual saya suka, namun untuk segi rasa, saya tidak begitu ahli untuk menilai steak seperti apa yang enak. Maka dari itu saya tidak ambil pusing untuk memilih menu.

Tidak menunggu lama, Raclette Steak akhirnya sampai di meja saya. Salah seorang pelayan kemudian membawa potongan keju setengah lingkaran dan langsung menuangkannya di atas steak di depan saya. Mengesankan, lelehan keju raclette yang masih berasap dan meluncur ke daging steak sungguh menggoda selera. Saya jadi tidak sabar untuk segera menyantapnya selagi hangat.

Tampilan Raclette Steak di Willie Brothers Steakhouse (Foto: Lastboy Tahara S)

Karena saya awam soal steak, saya hanya bisa menilai bahwa steak ini enak secara awam pula. Kematangan dagingnya pas, empuk dan juicy. Mungkin saus steak yang mereka gunakan juga berperan. Kombinasi antara keju dengan steak baru pertama kali ini saya coba. Rasanya mengejutkan, ada perpaduan gurihnya keju dan smoky dari steak. Hanya saja bila terlalu lama, keju akan semakin padat dan mengental. Teksturnya menjadi lebih kenyal, tidak lagi leleh dan mudah dipisahkan dengan garpu.

Saya rasa, menu Raclette Steak masih akan tetap eksis, mengingat tren kuliner dengan keju masih booming di Jakarta. Terlebih lagi Willie Brothers Steakhose adalah restaurant pertama yang menyajikan menu Raclette Steak di Jakarta.

Bagi Anda yang penasaran untuk mencoba, langsung saja menuju Jalan Pesanggrahan Raya No. 9, Meruya Utara, Kembangan, Kota Jakarta Barat. Restaurant ini buka mulai dari jam 11.00 WIB – 23.00 WIB.

Menikmati Secangkir Kopi Guatemala di Louie Coffee

Hari ini saya berkesempatan mengunjungi coffee shop baru di kawasan Pondok Pinang, Louie Coffee. Berdiri pada November 2016, coffe shop ini hadir dengan konsep speciality coffee. Tempat yang pas bagi penikmat kopi kualitas premium yang diolah langsung dari tangan-tangan barista handal. Coffee shop ini dimiliki oleh Louise Leny Yohana Lihar, semi finalis Indonesia Barista Championship 2015.

Pertama kali menuju lokasi Louie Coffee, coffee shop ini bisa dikenali melalui logo biru terang bertuliskan “Louie” di depan kafe. Tampilan luarnya tampak segar dengan tanaman-tanaman cantik di terasnya. Beberapa kursi dan meja juga tersusun rapi bagi pengunjung yang ingin menikmati kopi dengan suasana outdoor.

Tampilan depan Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara S)

Suasana outdoor di Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara S)

Ketika masuk ke dalam, Louie Coffee tidak seperti coffee shop lainnya. Sebelum menuju kafe, terdapat satu ruangan yang dikelilingi kaca. Di sana saya disambut dengan ramah oleh seorang resepsionis dan mempersilahkan saya untuk masuk. Pelayanan yang bagus menurut saya, menimbulkan kesan “spesial” bagi pengunjung.

Setelah itu di bagian dalam kafe, ruangannya tampak terang dengan pencahayaan yang natural. Sebab bagian depan kafe menggunakan dinding kaca yang mudah tertembus oleh cahaya matahari.

Sedangkan untuk interior di dalamnya, coffee shop ini sangat kental dengan nuansa kayu. Hampir seluruhnya menggunakan kayu, mulai dari lantai, meja barista, meja pelanggan, dan kursi. Suasananya akan sangat cantik bila menjelang sore, warna coklat dari kayu berpadu dengan lampu kuning yang temaram.

Salah satu meja yang menghadap jendela (Foto: Lastboy Tahara S)

Nuansa kayu di Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara S)

Di bagian meja barista, saya bertemu dengan Tengku dan Angga. Mereka berdua adalah barista yang familiar bagi saya. Sebab saya pernah bertemu dengan mereka berdua bekerja di salah satu coffee shop ternama di kawasan Gandaria. Sedangkan Angga, namanya cukup dikenal di kalangan barista Indonesia. Tahun 2015 lalu ia masuk finalist dalam kompetisi Bandung Brewers Cup 2015.

Dilayani oleh barista-barista handal Louie Coffee, saya memesan V60 Guatemala El Pilar. Karakter fruity dari kopi dengan rasa sweet candy dan orange candy terasa pas di lidah. Sembari menikmati kopi, saya juga berkesempatan ngobrol dengan Tengku. Ia menjelaskan bahwa kopi di sini memiliki blend khas, yang mereka beri nama Louie Blend, perpaduan biji kopi El Savador dan Ethiopia.

Secangkir Kopi Guatemala El Pilar dari Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Coffee shop ini memang masih sepi pengunjung, namun bila masyarakat sudah mengenal dan tahu siapa yang berada di belakangnya, saya rasa coffee shop ini akan menjadi hype di kalangan penikmat speciality coffee. Dimiliki oleh semi finalis Indonesia Barista Championship 2015 dan kopi diolah langsung dari tangan-tangan barista terlatih, saya rasa tak perlu ada kata ragu untuk menikmati secangkir kopi premium Louie Coffee.

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Louie Coffee langsung saja ke Jalan Ciputat Raya No. 5, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Buka mulai dari jam 8 pagi hingga jam 7 malam.

Lambatnya Bersepeda di Jalur CFD Jakarta

Di Jakarta aktifitas Car Free Day atau yang akrab disebut dengan CFD selalu menarik perhatian masyarakat. Setiap Minggu pagi ratusan warga Jakarta selalu memenuhi jalur khusus CFD untuk berolahraga. Saking ramainya aktifitas ini juga sering dipakai perusahaan untuk menyelenggarakan event yang berkaitan dengan olahraga dan tempat berkumpul. Terakhir kali saya mengikuti CFD Jakarta adalah saat mengikuti acara kantor, bukan berolahraga dan menyusuri jalan-jalan yang dibuat khusus CFD.

Saat ada kesempatan, saya langsung memutuskan untuk bersepeda ke area CFD di daerah Sudirman pada Minggu pagi. Saya bersiap dari Jalan Palmerah Barat sekitar pukul setengah 5 pagi. Memang sih masih gelap, tapi saya rasa itu adalah waktu yang tepat untuk bisa menikmati sensasi pagi di Jakarta. Dengan menggunakan sepeda standar Polygon Monarch 2.0 saya siap untuk memulai aktifitas CFD pertama saya di Jakarta.

Polygon Monarch 2.0

Polygon Monarch 2.0

Di sepanjang jalan, meskipun pagi masih gelap di Jakarta, aktifitas warganya masih ramai. Di sana saya masih sering menemui kendaraan berlalu-lalang, baik kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Bahkan di Jalan Palmerah Barat kendaraan angkot beroperasi 24 jam. Jadi jangan harap bahwa pagi hari di Jakarta benar-benar sejuk tanpa polusi.

Namun suasana ramai tersebut berubah ketika saya memasuki kawasan Stadion Gelora Bung Karno. Di sini masyarakat lebih memilih memarkirkan kendaraannya, lalu berolahraga di kawasan tersebut. Ada yang lari pagi, bersepeda, senam, atau sekedar meregangkan otot. Biasanya mereka berolahraga di dalam stadion untuk lari pagi, namun karena sedang direnovasi untuk Sea Games, stadion ditutup untuk sementara waktu.

Warga berolahraga di kawasan Stadion GBK | Foto: Lastboy Tahara .S

Warga berolahraga di kawasan Stadion GBK | Foto: Lastboy Tahara .S

Memasuki kawasan Sudirman jalanan sudah dipenuhi oleh warga yang sedang berolahraga. Di sini jalanan ditutup bagi kendaraan bermotor selama CFD, jadi warga bisa leluasa untuk berolahraga di sepanjang jalan. Suasana pagi yang menyenangkan, segar dan bebas polusi. Sangat berbeda bila kita mengunjunginya saat hari kerja, jalan penuh dengan kendaraan bermotor.

Ratusan warga memadati jalur CFD Jakarta untuk berolahraga

Ratusan warga memadati jalur CFD Jakarta untuk berolahraga | Foto: Lastboy Tahara .S

Hanya saja untuk bersepeda, saya rasa ini bukan lah tempat yang tepat. Di sini saya tidak bisa mengkayuh sepeda dengan cepat, sebab kawasan Jalan Sudirman terlalu padat oleh warga yang berolahraga. Saking padatnya, kadang saya harus menuntun sepeda tersebut. Baru lah ketika agak lengang, sepeda bisa dipacu agak cepat. Sepertinya saya harus mencari rute baru untuk bersepeda pagi-pagi di Jakarta.

Tapi pengalaman pertama saya menyusuri jalur-jalur khusus CFD kali ini sungguh menyenangkan. Bisa berolahraga dan menikmati suasana pagi di Jakarta. Memang hanya sehari, tapi lumayan lah daripada tidak sama sekali. Salut untuk penggagas ajang CFD di Jakarta, warga jadi bisa berolahraga pagi dengan bebas tanpa gangguan kendaraan bermotor dan polusi.

Page 1 of 17

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén