Lastboy

Suka jalan-jalan dan kuliner

Mencicipi Masakan Italia yang Autentik di Restoran Ocha & Bella

Masakan Italia sangat mudah ditemui di berbagai belahan dunia. Ini karena masakan Italia merupakan hasil pengaruh kuliner-kuliner Barat dan Timur Tengah seperti Yunani dan Arab. Sehingga rasa masakannya dapat dinikmati oleh masyarakat di belahan dunia barat dan timur.

Restoran Ocha & Bella di Jalan Wahid Hasyim adalah salah satu restoran Italia yang cukup dikenal di Jakarta. Mereka mampu menyajikan berbagai masakan Italia dengan rasa yang mendekati autentik atau mirip dengan masakan rumahan orang Italia asli.

Saya mengetahui restoran ini seusai menginap di Hotel Morrissey, yang kebetulan keduanya memang bersebelahan. Saat itu saya mengunjungi restoran untuk makan siang. Pertama kali masuk, di bagian depan tampak kursi dan sofa-sofa kecil tertata dengan rapi. Suasana restoran agak sedikit gelap karena interiornya didominasi material kayu berwarna gelap. Lampu yang digunakan juga berwarna kuning yang menimbulkan kesan kalem dan hangat.

Suasana indoor di restoran Ocha & Bella. (Foto: Lastboy Tahara S)

Suasana indoor di restoran Ocha & Bella. (Foto: Lastboy Tahara S)

Masih di bagian depan, pengunjung disambut oleh aroma saus, keju, dan roti. Hal ini karena restoran Ocha & Bella mengusung konsep open kitchen, dimana mereka dapat melihat langsung para cheff mengolah makanan. Tak jarang kita juga dapat melihat langsung proses pembuatan pizza, mulai dari membuat adonan hingga memasukkannya ke tungku. Setelah matang, barulah aroma harum pizza mengelilingi ruangan.

Di Restoran Ocha & Bella pizza merupakan salah satu menu andalan mereka, maka tak heran bila tungku pemanggangan pizza selalu menyala. Selain pizza, di sini terdapat berbagai sajian masakan khas Italia, mulai dari appetizer, soup, salad, pasta dan yang lainnya. Daftar menunya pun menggunakan bahasa Italia. Misalnya untuk menu pizza, ada varian lain dalam bahasa Italia seperti margherita, calzone proscuitto e funghi, contadina, frutti di mare, dan masih banyak lagi.

Untuk orang yang awam dengan masakan Italia, pasti sedikit bingung ketika melihat daftar menu yang mereka berikan. Untungnya mereka juga memberikan keterangan dalam bahasa Inggris tentang bahan makanan yang mereka gunakan dalam satu menu. Sehingga pengunjung yang masih awam, dapat mengira-ngira seperti apa rasanya. Contohnya untuk menu pizza margherita dengan keterangan tambahan “tomato sauce, mozzarella, basil, and extra virgin olive oil”.

Beragamnya masakan Italia di resto Ocha & Bella, membuat para penggemar kuliner lokal tak perlu pergi ke Italia untuk merasakan sensasi masakan Italia. Hal ini tidak lepas dari peran cheff restoran Ocha & Bella yang kompeten untuk menghadirkan masakan Italia dengan rasa yang autentik. Beruntung, saat itu saya dapat ngobrol langsung dengan cheff mereka, Stephen Komala. Ia mengenalkan kepada saya beberapa menu appetizer dan main course yang ada di restoran Ocha & Bella.

Sous cheff restoran Ocha & Bella, Stephen Komala (Kiri) (Foto: Lastboy Tahara S)

Namun saya lebih tertarik dengan main course yang ia kenalkan, yaitu pizza dan pasta. Sebab dua makanan inilah yang menjadi ciri khas kuliner Italia. Berani mengangkat tema restoran Italia, pasti kedua makanan ini akan tersaji special di restoran Ocha & Bella. Benar saja, saat itu ia mengenalkan kepada saya satu porsi pizza quattro formaggi. Pizza ini memiliki cita rasa keju yang amat kuat , dalam satu porsi menggunakan 4 jenis keju.

 

“Di bawahnya cuman cheese base doang, dikasih keju 4 jenis (mozzarella,gorgonzolla, taleggio, dan grana padano), 4 rasa,” terang Stephen.

Ketika saya mencoba satu potong, rasanya tidak dapat dijelaskan, kejunya terasa gurih tapi ada campuran rasa manis dan pedas. Pizza ini cocok sekali bagi pecinta keju, sebab ada banyak kombinasi rasa keju di dalamnya. Misalnya saja pengaruh keju taleggio pada pizza yang membuat rasanya sedikit manis. Teksturnya yang amat lunak dan mudah mencair membuat tekstur pizza menjadi creamy.

Pizza quattro formaggi di Restoran Ocha & Bella yang memiliki empat rasa

Pizza quattro formaggi yang memiliki empat rasa. Pizza seharga Rp 150 ribu ini merupakan salah satu menu pizza andalan restoran Ocha & Bella. (Foto: Lastboy Tahara S)

Kemudian selanjutnya ada menu capellini AOP (Aglio Olio e Peperoncino), jenis pasta khas Italia yang amat tipis. Dari segi tampilan, pasta ini amat menggugah selera, pasalnya pasta terlihat lembut dengan balutan saus dari minyak zaitun. Kemudian pada bagian atas, diberi potongan udang dan taburan seledri serta potongan cabai.

Menu capellini AOP (Aglio Olio e Peperoncino) di Restoran Ocha & Bella. Capellini merupakan jenis pasta khas Italia yang amat tipis. (Foto: Lastboy Tahara S)

Sesuai dengan namanya, pasta ini menggunakan bahan bawang putih (aglio), minyak olive/zaitun (olio), dan cabai (peperocino). Campuran ketiga bahan tersebut membuat pasta terasa gurih dan sedikit pedas. Teksturnya yang lembut juga membuat sensasi makan menjadi menyenangkan.

Usai menikmati sajian spesial Ocha & Bella, sejauh mata memandang restoran ini ternyata cukup luas. Saya baru menyadari bahwa restoran ini juga memiliki tempat outdoor atau luar ruang, tepat di samping kiri meja bar. Untuk bagian outdoor, hanya berupa teras parquet dengan deretan meja dan kursi. Namun di sebelahnya lagi, ada tempat berupa gazebo yang cukup lengang dengan pepohonan di dekatnya. Ada pula satu set sofa panjang dan pendingin ruangan yang membuat suasana semakin santai.

Suasana outdoor di restoran Ocha & Bella. (Foto: Lastboy Tahara S)

Suasana outdoor di restoran Ocha & Bella dengan gazebo. (Foto: Lastboy Tahara S)

Sepertinya bakal seru kalau kesini ramai-ramai dengan menempati satu gazebo. Menikmati sore dan menyantap hidangan Italia sambil bersenda gurau. Tertarik untuk mengunjungi restoran Ocha & Bella juga? Berikut alamat lengkapnya:

  • Hotel Morrissey, Jl. KH Wahid Hasyim No. 70, Menteng, Jakarta. Panduan peta bisa klik di sini.
  • Waktu buka: 11:00 – 24:00 WIB

Nyamannya Menginap di Hotel Morrissey, Serasa Rumah Sendiri

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk menginap di Hotel Morrissey yang terletak di Jl. K.H. Wahid Hasyim, Jakarta. Hotel ini sangat istimewa, mereka mengusung konsep apartemen servis. Tamu yang menginap tak hanya menikmati layanan layaknya hotel, tapi juga dimanjakan dengan perabotan dan interior layaknya hunian atau apartemen.

Pertama kali memasuki Hotel Morrissey, ruang lobbynya tidak begitu luas layaknya hotel berbintang empat pada umumnya. Namun kesigapan para concierge hotel patut diacungi jempol. Belum saya menuju meja resepsionis, saya langsung disambut oleh concierge dan menawarkan bantuan. Karena saya tidak membawa apa pun, maka saya langsung diarahkan ke meja resepsionis.

Pelayanan receptionist juga bagus, saya suka bagaimana mereka menyapa tamu yang datang, ramah dan sopan. Proses pemesanan kamar juga dilayani dengan baik. Dari meja resepsionis, saya kemudian diberi segelas jus jeruk dan cemilan. Ternyata lobby yang tak terlalu luas, bukan berarti pelayanan mereka terbatas. Setiap tamu yang datang serba dipermudah dan dilayani dengan maksimal.

Usai dari lobby saya kemudian menuju kamar. Saat itu kamar yang saya tempati tipe studio dengan satu tempat tidur. Fasilitas yang saya terima berupa dapur mini lengkap dengan peralatan memasak, kulkas mini, brankas, setrika, pengering rambut, dan mesin cuci yang disediakan di luar kamar. Lemari pakaian yang disediakan juga lumayan besar.

Fasilitas dapur Hotel Morrissey

Fasilitas dapur Hotel Morrissey (Foto: Lastboy Tahara S)

Fasilitas self service laundry dari Hotel Morrissey yang disediakan di ruangan terpisah. (Foto: Lastboy Tahara S)

Kelengkapan fasilitas seperti ini merupakan kelebihan dari hotel dengan konsep apartemen servis. Semua disediakan untuk memudahkan tamu menginap di hotel layaknya di rumah sendiri. Bagi saya, fasilitas paling menarik adalah dapur mini dengan peralatan masak yang lengkap. Fasilitas ini sangat jarang dimiliki hotel pada umumnya. Sangat mempermudah tamu yang ingin menikmati masakan sendiri.

Lalu untuk desain kamar, Hotel Morrissey mengusung tema industrial modern. Hal tersebut bisa dilihat dari dinding kamar yang menggunakan batu bata ekspos yang dicat putih. Kemudian langit-langit kamar juga tidak dilengkapi lampu gantung yang mewah, hanya polos dengan beton tanpa finishing. Lampu-lampu yang digunakan dalam kamar juga cenderung temaram dengan warna kuning yang hangat, kecuali lampu untuk meja kerja.

Interior kamar Hotel Morrissey tipe studio (Foto: Website Hotel Morrissey)

Tampilan kasur untuk dua orang. Kualitasnya bagus, sangat nyaman untuk beristirahat. (Foto: Lastboy Tahara S)

Interior dinding kamar dengan gaya industrial berupa ekspos batu bata putih. (Foto: Lastboy Tahara S)

Interior yang disajikan memang sederhana tapi tetap moderen. Justru jauh dari kesan mewah, membuat suasana kamar tampak kalem dan membuat saya betah. Selain itu salah satu kelebihan hotel dengan apartemen servis adalah luas kamar yang lumayan lengang. Pada bagian tengah misalnya, terdapat sofa yang cukup panjang dan bisa dijadikan sebagai ruang tamu kecil.

Kemudian untuk tempat tidur, disediakan satu kasur yang muat untuk dua orang. Semuanya disediakan dengan rapi dan bersih. Kualitasnya juga sangat baik, membuat saya nyaman untuk beristirahat. Di depan tempat tidur disediakan pula televisi kabel dan DVD sebagai sarana hiburan.

Secara keseluruhan pengalaman menginap satu hari di Hotel Morrissey sangat puas. Dengan konsep apartemen servis, tamu bisa menikmati berbagai fasilitas dan pelayanan. Jadi, tamu tidak sekadar untuk tinggal di kamar tapi juga hidup di dalamnya.

Hotel Morrissey cocok bagi mereka yang ingin tinggal dengan waktu yang lama dan menginap bersama keluarga. Dari segi finansial, tinggal di hotel dengan konsep apartemen servis seperti Hotel Morrissey jauh lebih murah daripada di hotel reguler. Sebab fasilitas yang diberikan sangat lengkap dan bisa digunakan secara gratis. Sayang, saat itu saya hanya menginap selama sehari. Bila ada kesempatan lagi untuk staycation (liburan hemat dalam kota), saya tidak ragu untuk memilih Hotel Morissey sebagai tempat menginap.

Ingin mencoba menginap di Hotel Morrissey juga? Berikut alamat dan kontak yang bisa dihubungi:

  • Jl. KH. Wahid Hasyim No.70, Kb. Sirih, Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340. Panduan peta bisa klik di sini.
  • Telepon: (021) 29933333

Indahnya Bangunan Warna-warni ala Kampung Eropa di Devoyage Bogor

Spot wisata populer di Bogor kini tak hanya kawasan Puncak. Sebab ada destinasi wisata baru yang hit di media sosial bernama Devoyage Bogor. Di sini pengunjung dapat merasakan suasana ala kampung Eropa dengan aneka rumah warna-warni. Ada pula bangunan-bangunan ikonik khas Eropa seperti miniatur Menara Eiffel, Kincir Angin ala Belanda, dan Gondola ala Venesia.

Tempat wisata yang memiliki luas 1,5 hektare ini memiliki banyak spot swafoto berupa bangunan-bangunan bergaya Eropa. Misalnya saja seperti rumah yang beratap miring dan tinggi serta jendela-jendela yang berukuran besar. Miniatur Menara Eiffel adalah spot swafoto favorit pengunjung. Terletak di tengah-tengah kali buatan, desain kerangka Menara Eiffel ini tampak seperti aslinya. Bila menjelang malam, menara akan tampak cantik dengan lampu yang berkilauan.

Suasana kampung ala Eropa dengan rumah-rumah beratap miring dan berjendela besar. (Foto: Lastboy Tahara S)

Miniatur Menara Eiffel di Devoyage Bogor

Miniatur Menara Eiffel di Devoyage Bogor. (Foto: Lastboy Tahara S)

Salah satu spot yang mirip kampung Eropa, lengkap dengan jalan setapak, lampu jalan klasik gaya Victoria, dan rumah-rumah khas Eropa yang berjejer. (Foto: Lastboy Tahara S)

Selain asyik untuk swafoto,  Devoyage Bogor juga menyuguhkan aneka wahana yang menambah kesan nyata tinggal di Eropa. Yang paling menarik perhatian adalah wahana perahu dayung berwarna-warni bak di Venesia. Di sini pengunjung dapat menyewanya senilai Rp 40 ribu untuk dua kali putaran. Dengan desain ramping dan panjang, satu perahu dapat menampung dua orang dewasa.

Setelah pengunjung dirasa siap, perahu bisa langsung didayung menyusuri kali buatan. Rute yang dilalui perahu cukup menarik, pengunjung akan dibawa melewati bangunan-bangunan khas Eropa seperti Menara Eiffel, rumah kincir angin khas Belanda, dan rumah warna-warni.

Gondola ala Venesia melintasi rumah warna-warni di Devoyage Bogor. (Foto: Lastboy Tahara S)

Satu scoop Gelato untuk menemani jalan-jalan mengelilingi area Devoyage (Foto: Lastboy Tahara S)

Puas menikmati wahana di Devoyage, jangan lupa untuk mencicipi aneka kulinernya. Menu yang populer berupa masakan ala barat seperti pizza, pasta, varian steak, fish & chips, sea food, dan yang lainnya. Ingin sesuatu yang dingin dan manis? Di sini juga tersedia menu gelato dengan berbagai varian rasa.

Bila ingin mengunjungi Devoyage Bogor, Anda hanya perlu menyiapkan uang tiket masuk sebesar Rp 25 ribu untuk hari biasa dan Rp 35 ribu saat akhir pekan. Sedangkan untuk alamatnya terletak di Jalan Boulevard Bogor Nirwana Residence Mulyaharja Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. Untuk lebih jelas Anda bisa menggunakan panduan peta berikut ini. Jadwal buka Devoyage Bogor dimulai dari pukul 10.00 WIB – 18.00 WIB.

Ngopi Sambil Menikmati Panorama Alam di Pondok Kopi Umbul Sidomukti

Mudik ke Semarang paling asyik mengunjungi kafe Pondok Kopi Umbul Sidomukti. Kafe yang terletak di Bandungan ini menawarkan keindahan panorama alam dari kaki Gunung Ungaran. Meski lokasinya lumayan jauh dari pusat Kota Semarang, kafe ini selalu ramai dikunjungi oleh para muda-mudi.

Kafe Pondok Kopi memiliki dua jenis ruangan, yaitu indoor dan outdoor. Di bagian indoor terbagi lagi menjadi dua lantai. Untuk lantai pertama kita akan disambut dengan ruangan bernuansa kayu dan klasik. Meja-meja yang terbuat dari kayu besar tampak tersusun dengan rapi, masing-masing dapat menampung 4 hingga 6 orang.

Sedangan untuk ruangan indoor di lantai dua, desain ruangannya masih menggunakan tema kayu. Hanya saja suasananya tampak lebih terang karena didesain tanpa dinding, membuat cahaya matahari dapat leluasa untuk masuk dalam ruangan. Melalui dinding yang terbuka itu lah pengunjung dapat menikmati kopi sambil memandangi alam dari ketinggian.

Suasana lantai 2 di Pondok Kopi Umbul Sidomukti dengan pemandangan terbuka. (Foto: Lastboy Tahara S)

Bila ingin menikmati pemandangan alam lebih jelas, paling asyik memilih ruangan outdoor yang terletak di bagian depan kafe. Bentuknya berupa taman kecil yang dikelilingi rerumputan hijau dan terdapat pohon palem di setiap meja. Di sini kita juga dapat melihat lereng Gunung Ungaran yang ditumbuhi pepohonan hijau. Karena Pondok Kopi terletak di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut, hawa dingin akan amat terasa bila kita memilih ruangan outdoor.

Suasana outdoor di Pondok Kopi Umbul Sidomukti dengan panorama lereng Gunung Ungaran. (Foto: Lastboy Tahara S)

Bagian outdoor tampak cantik dan asri dengan pohon palem di setiap meja. (Foto: Lastboy Tahara S)

Saat sore tiba, suasana berubah menjadi hangat dengan nyala lampu-lampu kuning yang temaram. Pemandangan panorama alam di luar juga tampak kalem dengan cahaya langit yang semakin meredup dan berwarna kekuningan. Hingga akhirnya semuanya tertutup oleh kabut dan menyisakan malam gelap yang dihiasi kerlap-kerlip lampu kota Semarang dari kejauhan. Dengan menawarkan suasana panorama alam yang luar biasa, setiap sesapan kopi menjadi istimewa.

speciality coffee di Pondok Kopi Umbul Sidomukti

Ini yang dicari di Pondok Kopi Umbul Sidomukti, ngopi santai sambil menikmati panorama alam. (Foto: Imelda S)

Selain menyajikan menu kopi sebagai andalannya, kafe Pondok Kopi juga menyajikan menu minuman lain seperti teh, wedang jahe, bajigur, coklat hangat dan yang lainnya. Bila perut terasa lapar, kita dapat memesan aneka makanan ringan atau berat seperti roti bakar, kentang goreng, singkong goreng, nasi goreng, mie goreng, dan masih banyak lagi. Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau, setiap menunya hanya di kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu.

Bagaimana, tertarik untuk mengunjungi Pondok Kopi? Meski sedikit jauh dari pusat Kota Semarang, informasi jalan menuju Umbul Sidomukti sangat mudah untuk dipahami. Dari Semarang Anda bisa mengikuti rute Jl. Semarang – Surakarta atau Jl. Semarang – Yogyakarta menuju Jl. Jimbaran. Harap diperhatikan, ketika mendekati Pasar Jimbaran ambil rute ke kanan memasuki desa Sidomukti.

Ketika di desa, kondisi jalan mulai agak menyempit, Anda harus bersabar saat berpapasan dengan kendaraan lain. Anda bisa saja menggunakan aplikasi google maps untuk menuju ke sana, tapi bila Anda bingung dengan banyaknya jalan kecil, jangan ragu untuk bertanya jalan pada penduduk setempat. Setelah memasuki kompleks wisata Umbul Sidomukti, langsung saja ikuti petunjuk jalan yang menuju Pondok Kopi Umbul Sidomukti.

Sedikit saran, untuk suasana terbaik datanglah ketika pagi atau menjelang sore, cuacanya sudah tidak terik dan mulai dingin. Jumlah pengunjung juga masih relatif sepi, sebab ketika mendekati malam sudah mulai ramai. Takutnya Anda tidak dapat memilih posisi tempat duduk yang nyaman untuk melihat pemandangan alam. Sayang bukan, bila jauh-jauh ke Pondok Kopi tapi malah ngopi sambil memandang tembok?

Jam buka Pondok Kopi dimulai dari Jam 08.00 WIB hingga 24.00 WIB. Alamat lengkap: Desa Sidomukti, Jl. Goa Jepang, Jimbaran, Bandungan, Jimbaran, Bandungan, Semarang, Jawa Tengah. Untuk mempermudah, peta jalan menuju Pondok Kopi Umbul Sidomukti dari Semarang, bisa klik di sini.

Page 1 of 23

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén