Lastboy

Anak laki-laki terakhir, suka wisata, dan kuliner

Andai Jadi Presiden, Saya Akan Lakukan 3 Hal Sederhana Ini

Presiden Joko Widodo berpidato di depan puluhan blogger Kompasiana (Dokumentasi Setneg RI)

Presiden Joko Widodo berpidato di depan puluhan blogger Kompasiana (Dokumentasi Setneg RI)

Bermimpi itu gratis, bahkan bisa menjadi acuan kita dalam mencapai sesuatu. Seorang perenang putra AS yang pernah meraih rekor medali terbanyak, Michael Phelps, mengatakan “Semakin Tinggi Mimpi yang Kamu Punya, Semakin Besar Pencapaian yang Akan Kamu Dapat”. Lalu apa mimpi saya? Menjadi Presiden! Mungkin terlihat mengada-ada, tapi kembali lagi, tak ada yang salah dengan bermimpi. Bahkan saya sudah merancang hal-hal apa saja yang akan saya lakukan bila diberi kesempatan menjadi Presiden Indonesia.

Andai jadi Presiden, saya akan lakukan 3 hal sederhana ini untuk Indonesia. Meski sederhana, saya harap ide ini dapat membuat Indonesia lebih baik

Berkirim Pesan untuk Seluruh Anak Indonesia yang Menerima Beasiswa di Luar Negeri

Pemerintah Indonesia sangat mendukung para pelajar Indonesia yang ingin belajar di luar negeri. Tahun 2016 ini misalnya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menargetkan 5.000 penerima (awardee) beasiswa untuk anak Indonesia yang ingin melanjutkan studi di dalam maupun luar negeri. Tujuannya baik, yaitu meningkatkan SDM yang dimiliki Indonesia.

Tapi bila hanya sekedar mengirimkan ke luar negeri dan berharap berkontribusi bagi negara, saya rasa masih kurang. Pemerintah harus terus menjalin relasi dengan mereka yang belajar di luar negeri, supaya program beasiswa ini tidak sekedar menjadi ajang balas budi bagi negara ketika mereka sudah kembali ke tanah air.

Andai jadi Presiden saya akan membuat surat secara personal untuk para pelajar yang sekolah di Luar Negeri. Isinya sederhana saja, seperti menanyakan kabar mereka, hal-hal apa saja yang sudah dipelajari, kendala apa yang terjadi di sana, apa yang pemerintah bisa bantu kembali dan memberikan harapan kepada mereka untuk selalu ingat dengan tanah air

Bertemu dengan Pengembang Startup Lokal di Istana

Bila saya menjadi Presiden, saya akan mengadakan pertemuan dengan para pengembang startup berbasis teknologi di istana negara. Karena saya yakin bahwa bisnis berbasis teknologi bisa membantu Indonesia dalam meningkatkan pendapatan nasional.

Dalam pertemuan tersebut saya juga akan mengundang Badan Ekonomi Kreatif untuk duduk bersama dengan mereka, membicarakan hal-hal apa saja yang menjadi kendala bagi pengembang start-up di Indonesia. Bila kendalanya adalah soal dana dan penyediaan infrastruktur, saya akan merancang budget pada hari itu juga bila memungkinkan, terlepas seberapa lama birokrasi bisa mewujudkannya. Hadirnya Presiden di tengah-tengah mereka adalah bukti bahwa pemerintah hadir untuk mendukung perkembangan startup lokal.

Bila semakin banyak startup Indonesia yang tumbuh dengan sukses, maka akan membuka lowongan pekerjaan yang luas bagi masyarakat. Contoh startup lokal yang sukses adalah Gojek, perusahaan aplikasi pemesanan jasa ojek yang saat ini sudah memiliki lebih dari 10.000 driver Gojek yang tersebar di Jakarta dan daerah lainnya.

Membuat Kampanye Digital di Media Sosial tentang Cyberbully

Sebagai presiden saya tidak ingin generasi muda penerus bangsa menjadi rusak sia-sia hanya karena menjadi korban olok-olok di dunia maya atau cyberbully. Karena berdasarkan penelitian yang dilakukan UNICEF tahun 2014 dengan 400 responden di 17 provinsi, ditemukan 58 persen anak masih belum paham dengan masalah cyber bullying. Mereka masih belum menyadari resiko-resiko yang terjadi bila diantara mereka ditindas di dunia maya.

Di Indonesia sendiri, kasus cyberbullying yang berujung kematian pernah terjadi pada 26 Mei 2013. Kejadian tersebut menimpa  Yoga Cahyadi, pria asal Yogyakarta, yang melakukan bunuh diri dengan menabrakkan dirinya ke kereta api yang melintas. Yoga tidak tahan dengan tekanan dan hujatan yang dilakukan oleh teman-temannya karena dianggap gagal sebagai penyelenggara sebuah acara hiburan.

Andai jadi Presiden Indonesia, saya membuat kampanye digital di media sosial tentang bahaya cyberbully. Dengan kemudahan konten yang bisa dibagikan di jejaring pertemanan, kampanye tersebut diharapkan dapat diterima oleh khalayak, baik oleh orang dewasa atau anak-anak.

Membuat kampanye digital saya rasa tidak membutuhkan waktu yang lama, saya sebagai Presiden bisa saja mengundang anak muda kreatif untuk membuat konten digital supaya lebih cepat terlaksana. Karena konten di media sosial sangat mudah ditangkap dalam bentuk visual, maka saya akan membuatnya  dalam bentuk video pendek atau poster.

Pesan yang akan saya sampaikan pada konten digital tersebut tentu saja tentang bahaya cyberbully bagi anak-anak dan konsekuensi yang akan diterima bila menjadi pelaku cyberbully, yaitu bisa dijerat dengan UU ITE pasal 27 ayat (3) tentang penghinaan dan pencemaran nama baik. Semoga dengan adanya kampanye ini tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang menjadi korban cyberbully. Melindungi generasi muda dari hal-hal buruk, berarti menyiapkan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik di masa depan.

Previous

FBI Akhirnya Berhasil Meretas iPhone 5C

Next

Mini Album Breaking Ice In Britain Mengusung Tema Eclectic

1 Comment

  1. Fikri Nathiq

    Mantap sekali. Memang terdengar sangat remeh. Tetapi memang inilah yang harus dilakukan. Menumbuhkan karakterlah yang harus segera dilakukan.

    Btw saya paling tertarik dengan poin 1. Sangat efektif menurut saya, ada prospek yg baik di sana

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén