Lastboy

Suka jalan-jalan dan kuliner

Category: Travel (Page 1 of 10)

Hutan Puncak Gunung Ungaran Terbakar, Rencana Mendaki Pun Gagal

Ingin rasanya memiliki pengalaman mendaki gunung. Tak sekadar untuk wisata, tapi juga mengukur kemampuan diri untuk hidup di alam bebas. Sebagai pemula, saya memilih untuk mendaki Gunung Ungaran yang memiliki ketinggian 2.050 mdpl.

Saat keputusan sudah bulat, saya kemudian mengambil cuti dari kantor dan bertolak dari Jakarta menuju Semarang. Supaya pengalaman mendaki pertama kali berjalan lancar, peralatan dan perbekalan pun saya siapkan matang-matang. Semua harus sesuai standar keselamatan.

Perlengkapan mendaki sudah saya siapkan. (Foto: www.lastboytahara.com)

Pos Mawar merupakan salah satu jalur pendakian Gunung Ungaran, masih ada dua jalur lain yaitu Gedong Songo dan Medini. (Foto: www.lastboytahara.com)

Sesampainya di Semarang, saya memutuskan untuk mendaki Gunung Ungaran saat akhir pekan (Sabtu, 13/10/2018). Saya berangkat sore hari dari Tembalang, melalui rute Tol Tembalang-Ungaran. Sampai di Pos Mawar, ternyata saya kurang beruntung. Jalur pendakian Gunung Ungaran ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Pengumuman jalur pendakian Gunung Ungaran ditutup

Pengumuman penutupan jalur pendakian Gunung Ungaran di gerbang Pos Mawar. (Foto: www.lastboytahara.com)

Penutupan jalur pendakian Gunung Ungaran ini, saya rasa merupakan imbas dari kebakaran hutan pada Minggu 7 Oktober 2018. Berdasarkan laporan Metrotvnews.com, kebakaran di puncak gunung menghanguskan 7 hektare lahan hutan. Sejak itu jalur pendakian Gunung Ungaran mulai ditutup.

Area yang terbakar di puncak Gunung Ungaran, Minggu, 7 Oktober 2018. (Foto diunduh dari metrotvnews.com)

Salah satu spot perkemahan di sekitar Pos Mawar. Di sini terdapat tenda-tenda yang sudah didirikan oleh pengelola dan disewakan. (Foto: www.lastboytahara.com)

Adanya penutupan jalur pendakian, pupus sudah harapan saya untuk bisa berdiri di puncak Gunung Ungaran dan menyaksikan matahari terbit. Namun kesedihan itu tidak berlangsung lama. Saya akhirnya beristirahat sejenak di Pos Mawar, menikmati secangkir kopi hitam di tengah dinginnya hawa pegunungan. Selain itu terpampang pula pemandangan indah dari atas pos berupa lautan kerlip lampu-lampu kota Semarang.

Setelah puas saya kemudian kembali lagi ke Semarang dan pulang ke Jakarta. Akan saya coba lagi untuk mendaki Gunung Ungaran di lain kesempatan. Semoga Gunung Ungaran cepat pulih dari musibah kebakaran hutan dan kembali hijau.

Salam lestari.

Ayo! Rasakan Langsung Semarak Asian Games 2018 di Asian Fest GBK

Masih ada kesempatan untuk mengunjungi Asian Fest GBK (Foto: Lastboy Tahara S)

Tak terasa ajang Asian Games 2018 akan segera usai. Pesta olah raga se-Asia ini dijadwalkan akan menjalani upacara penutupan pada Minggu (2/9/2018) di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta. Bagi Anda yang terlambat merasakan momen Asian Games secara langsung, jangan berkecil hati. Sebab masih ada area Asian Fest di kawasan GBK. Di sana terdapat festival dan bazaar bertemakan Asian Games.

Untuk masuk ke area ini, pengunjung cukup membayar tiket sebesar Rp 10 ribu. Tiket ini bisa dibeli secara resmi di gate 1, 5, 6, dan 7 melalui petugas yang membawa tanda berwarna biru bertuliskan “Ask Me for Festival Tiket”. Di dalam Asian Fest GBK, terdapat tiga Zona yang bisa dikunjungi, yakni Bhin Bhin, Atung, dan Kaka.

Zona Bhin Bhin terletak di dekat gate 5. Di sini tersedia berbagai sajian kuliner khas Asia, seperti aneka nasi goreng, mie, kebab, nasi kebuli, rice bowl, hingga sushi. Namun yang lebih seru adalah adanya panggung hiburan yang menghadirkan musisi lokal dan luar negeri.

Salah satu yang selalu menyita perhatian pengunjung adalah penampilan para penyanyi asal Korea Selatan. Aliran musik K-Pop khas negeri gingseng yang sudah tak asing lagi di Indonesia saat ini, membuat para pengunjung tak kesulitan untuk ikut bernyanyi. Selain dihibur dengan musik, sesekali host juga memberikan kuis menarik yang berhadiah voucher makan gratis.

Kemudian Zona Atung yang terletak dekat Stadion Akuatik, terdapat layar raksasa yang menampilkan pertandingan olah raga langsung atau rekaman ulang. Zona ini juga dikenal akan keindahannya. Di sepanjang jalan digantung hiasan ornamen lampu beserta payung kecil warna-warni. Para muda-mudi sering mengunjungi zona ini untuk berfoto.

Lalu yang terakhir adalah Zona Kaka yang menjual aneka pernak-pernik. Warga asing paling banyak mengunjungi zona ini untuk membeli kerajinan produk lokal sebagai buah tangan. Dan yang paling menyenangkan, di sini terdapat toko-toko kecil yang menjual suvenir resmi Asian Games. Barang yang dijual beragam, mulai dari yang paling kecil seperti pensil, kipas, gantungan kunci, dan tas. Ada pula suvenir unik yang menjadi incaran pengunjung adalah replika medali emas yang dijual seharga Rp 320 ribu.

Bila ingin membeli suvenir yang lebih lengkap, pengunjung bisa menuju area Super Store yang terletak di seberang zona Bhin Bhin. Tak hanya menjual suvenir hiasan, di sini ada pula aneka jenis fesyen bertemakan Asian Games seperti kaus, jaket, tas, dan topi. Namun, mayoristas pengunjung yang datang ke sini hanya mengincar tiga boneka maskot Asian Games, yaitu Bhin Bhin, Atung, dan Kaka. Menjelang Asian Games berakhir, suvenir boneka ini mulai susah didapat karena selalu ludes terjual.

Bagaimana, tertarik untuk berkunjung? Asian Fest GBK dibuka mulai jam 10.00 hingga 22.00 WIB.

Nyamannya Menginap di Hotel Morrissey, Serasa Rumah Sendiri

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk menginap di Hotel Morrissey yang terletak di Jl. K.H. Wahid Hasyim, Jakarta. Hotel ini sangat istimewa, mereka mengusung konsep apartemen servis. Tamu yang menginap tak hanya menikmati layanan layaknya hotel, tapi juga dimanjakan dengan perabotan dan interior layaknya hunian atau apartemen.

Pertama kali memasuki Hotel Morrissey, ruang lobbynya tidak begitu luas layaknya hotel berbintang empat pada umumnya. Namun kesigapan para concierge hotel patut diacungi jempol. Belum saya menuju meja resepsionis, saya langsung disambut oleh concierge dan menawarkan bantuan. Karena saya tidak membawa apa pun, maka saya langsung diarahkan ke meja resepsionis.

Pelayanan receptionist juga bagus, saya suka bagaimana mereka menyapa tamu yang datang, ramah dan sopan. Proses pemesanan kamar juga dilayani dengan baik. Dari meja resepsionis, saya kemudian diberi segelas jus jeruk dan cemilan. Ternyata lobby yang tak terlalu luas, bukan berarti pelayanan mereka terbatas. Setiap tamu yang datang serba dipermudah dan dilayani dengan maksimal.

Usai dari lobby saya kemudian menuju kamar. Saat itu kamar yang saya tempati tipe studio dengan satu tempat tidur. Fasilitas yang saya terima berupa dapur mini lengkap dengan peralatan memasak, kulkas mini, brankas, setrika, pengering rambut, dan mesin cuci yang disediakan di luar kamar. Lemari pakaian yang disediakan juga lumayan besar.

Fasilitas dapur Hotel Morrissey

Fasilitas dapur Hotel Morrissey (Foto: Lastboy Tahara S)

Fasilitas self service laundry dari Hotel Morrissey yang disediakan di ruangan terpisah. (Foto: Lastboy Tahara S)

Kelengkapan fasilitas seperti ini merupakan kelebihan dari hotel dengan konsep apartemen servis. Semua disediakan untuk memudahkan tamu menginap di hotel layaknya di rumah sendiri. Bagi saya, fasilitas paling menarik adalah dapur mini dengan peralatan masak yang lengkap. Fasilitas ini sangat jarang dimiliki hotel pada umumnya. Sangat mempermudah tamu yang ingin menikmati masakan sendiri.

Lalu untuk desain kamar, Hotel Morrissey mengusung tema industrial modern. Hal tersebut bisa dilihat dari dinding kamar yang menggunakan batu bata ekspos yang dicat putih. Kemudian langit-langit kamar juga tidak dilengkapi lampu gantung yang mewah, hanya polos dengan beton tanpa finishing. Lampu-lampu yang digunakan dalam kamar juga cenderung temaram dengan warna kuning yang hangat, kecuali lampu untuk meja kerja.

Interior kamar Hotel Morrissey tipe studio (Foto: Website Hotel Morrissey)

Tampilan kasur untuk dua orang. Kualitasnya bagus, sangat nyaman untuk beristirahat. (Foto: Lastboy Tahara S)

Interior dinding kamar dengan gaya industrial berupa ekspos batu bata putih. (Foto: Lastboy Tahara S)

Interior yang disajikan memang sederhana tapi tetap moderen. Justru jauh dari kesan mewah, membuat suasana kamar tampak kalem dan membuat saya betah. Selain itu salah satu kelebihan hotel dengan apartemen servis adalah luas kamar yang lumayan lengang. Pada bagian tengah misalnya, terdapat sofa yang cukup panjang dan bisa dijadikan sebagai ruang tamu kecil.

Kemudian untuk tempat tidur, disediakan satu kasur yang muat untuk dua orang. Semuanya disediakan dengan rapi dan bersih. Kualitasnya juga sangat baik, membuat saya nyaman untuk beristirahat. Di depan tempat tidur disediakan pula televisi kabel dan DVD sebagai sarana hiburan.

Secara keseluruhan pengalaman menginap satu hari di Hotel Morrissey sangat puas. Dengan konsep apartemen servis, tamu bisa menikmati berbagai fasilitas dan pelayanan. Jadi, tamu tidak sekadar untuk tinggal di kamar tapi juga hidup di dalamnya.

Hotel Morrissey cocok bagi mereka yang ingin tinggal dengan waktu yang lama dan menginap bersama keluarga. Dari segi finansial, tinggal di hotel dengan konsep apartemen servis seperti Hotel Morrissey jauh lebih murah daripada di hotel reguler. Sebab fasilitas yang diberikan sangat lengkap dan bisa digunakan secara gratis. Sayang, saat itu saya hanya menginap selama sehari. Bila ada kesempatan lagi untuk staycation (liburan hemat dalam kota), saya tidak ragu untuk memilih Hotel Morissey sebagai tempat menginap.

Ingin mencoba menginap di Hotel Morrissey juga? Berikut alamat dan kontak yang bisa dihubungi:

  • Jl. KH. Wahid Hasyim No.70, Kb. Sirih, Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340. Panduan peta bisa klik di sini.
  • Telepon: (021) 29933333

Page 1 of 10

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén