Lastboy

Suka jalan-jalan dan kuliner

Category: Travel (Page 2 of 6)

Asyiknya Berkemah di Ranca Upas, Bangun Pagi Disuguhi Keindahan Alam

Bulan Februari ini saya mengambil jatah libur singkat dari kantor, yaitu selama tiga hari. Saya langsung menggunakan kesempatan ini untuk berlibur bersama rekan-rekan ke Bandung, pilihan yang pas untuk liburan singkat, sebab perjalanan Jakarta ke Bandung hanya beberapa jam. Lokasi wisata yang kami pilih adalah Ranca Upas, bumi perkemahan yang tengah populer di media sosial karena panorama bukit dan matahari terbit.

Singkat cerita, kami tiba di Ranca Upas pada sore hari dengan kondisi gerimis. Setelah itu kami langsung bergegas mencari spot mendirikan tenda. Kami harus cepat-cepat, sebab gerimis semakin deras dan cuaca mulai dingin. Tidak mungkin kami terus-terusan di dalam mobil. Bisa-bisa, jadinya bermalam di mobil, bukan berkemah. Hahahaha…

Cukup ribet juga ternyata ketika liburan di musim hujan. Tanah yang kami pijak sangat becek dan terkadang ada lubang tanah yang tak terlihat.  Berkeliling mencari spot tenda menjadi menguras tenaga.

Jalan di area perkemahan menjadi becek sehabis hujan (Foto: lastboytahara.com)

Di sini area untuk mendirikan tenda amat luas, pengunjung dapat bebas memilih. Menurut pengamatan saya, lokasi mendirikan tenda ada dua jenis, yaitu area dengan lapisan beton dan area yang hanya beralaskan rumput. Kami memilih area beralaskan rumput, sebab di area ini kita dapat melihat matahari terbit tepat di depan tenda.

Usai menentukan spot, kami kemudian menyewa perlengkapan berkemah. Di sini pengunjung tidak perlu repot untuk berkemah, pengelola ranca upas dan warung-warung makan turut menyewakan perlengkapan berkemah. Mulai dari tenda dengan berbagai macam ukuran, sleeping bag, kayu bakar, senter, dan yang lainnya. Tenda yang disewa pun sudah langsung dipasangakan di lokasi yang diinginkan.

Ketika malam hari tiba, tidak ada banyak hal yang kami lakukan. Hujan deras yang mengguyur Bandung seharian hanya menyisakan udara dingin yang menggigit, suhunya bisa mencapai 17 derajat Celsius. Langit malam hari juga hanya gelap gulita, mungkin karena tertutup awan mendung. Kalau tidak, kami bisa menikmati pemandangan hamparan bintang-bintang di angkasa.

Malam itu kami terpaksa hanya meringkuk di dalam tenda sambil berbagi cerita. Hingga akhirnya, satu per satu dari kami tertidur. Tenggelam dalam cuaca dingin dan lelah.

– – –

Keesokan harinya saya bangun pukul setengah enam pagi. Perlahan-lahan tenda saya buka, berharap silaunya matahari terbit tidak menyilaukan mata. Baru saja tali pintu tenda saya tarik sepanjang 30 cm, udara dingin langsung masuk merambat ke kaki. Brrr! Cuacanya masih dingin menggigit! Setelah pintu tenda terbuka semua, tampaklah cahaya pagi beserta hamparan rumput yang amat segar.

Pagi hari disambut pemandangan bukit yang diselimuti kabut. (Foto: lastboytahara.com)

Memandang lebih jauh, tersaji panorama alam yang menakjubkan berupa hamparan rumput dan bukit yang hijau. Kumpulan kabut yang mengintip dari pepohonan di bukit juga menampilkan suasana pagi yang magis. Sayang, hari ini saya tidak bisa menyaksikan matahari terbit karena sedikit mendung. Saat pukul 7 pagi barulah pesona bukit-bukit di depan tenda mulai terlihat jelas, tanpa tertutup kabut.

Keindahan alam di bumi perkemahan Ranca Upas dengan hamparan rumput dan bukit yang hijau. (Foto: lastboytahara.com)

Pemandangan dari dalam tenda yang langsung menghadap bukit. (Foto: lastboytahara.com)

Setelahnya saya bersiap untuk berkeliling kawasan ranca upas. Di sini ada berbagai spot menarik untuk wisata, seperti waterboom, panahan, outbond, dan penangkaran rusa. Tempat paling hit adalah penangkaran rusa, dimana pengunjung dapat memberi makan rusa dan berfoto. Asyiknya, pengunjung dapat melihat rusa dari jarak yang sangat dekat, tanpa dibatasi kandang.

 

Bersambung…

(Lanjutan) Serunya Memberi Makan Rusa dari Dekat di Ranca Upas

Kolam Renang Vila Meruya yang Bersih dan Nyaman

Pagi ini saya menikmati hari libur dengan berenang di Kolam Renang Vila Meruya yang terletak di kawasan perumahan Vila Meruya, Kembangan, Jakarta Barat. Rekan saya merekomendasikan kolam renang ini karena airnya yang bersih dan kolamnya yang besar. Selain itu ekspektasi saya terhadap kolam renang ini juga besar, sebab terletak di area perumahan, pasti kualitas pelayanan kolam renang juga bagus.

Jadwal buka Kolam Renang Vila Meruya dimulai dari pukul 06.00 – 21.00 WIB. Waktu yang sangat panjang menurut saya, biasanya kolam renang hanya buka sampai jam 5 sore atau jam 7 malam. Mungkin karena terletak di area perumahan, banyak pengunjung yang datang untuk berenang. Sedangkan untuk harga tiket, khusus hari libur Rp 55.000 dan hari biasa sepertinya Rp 45.000, saya agak lupa untuk harga tiket khusus hari biasa.

Saat membayar tiket, saya awalnya kaget harus membayar Rp 55.000 yang menurut saya cukup mahal. Sebab biasanya saya berenang hanya membayar tiket paling mahal di kisaran harga Rp 20.000 sampai Rp 30.000. Tapi setelah melewati pintu loket dan memasuki area kolam, saya rasa harga tiket tersebut sepadan.

Air kolam renang Vila Meruya tampak bersih (Foto: Lastboy Tahara S)

Sejuknya Kolam Renang Vila Meruya karena dikeliling pepohonan (Foto: Lastboy Tahara S)

Kolam Renang Vila Meruya memiliki 3 jenis kolam, yaitu kolam untuk dewasa, anak-anak, dan area bermain prosotan. Airnya juga sangat bersih, bening, tidak ada dedaunan berceceran di atas air. Lantai di pinggir kolam juga sudah dirancang aman untuk berjalan tanpa alas kaki, dilengkapi karpet kasar dan bebatuan agar tidak licin.

Karena berada di area perumahan, suasana kolam renang sangat sejuk. Di pinggir kolam juga disediakan bangku-bangku untuk pengunjung dengan payung. Peralatannya sangat bagus, bangku dan meja tampak terawat dengan baik. Area makan juga disediakan tempat khusus, sehingga kotoran atau sampah makanan tidak mencapai area kolam renang dan selalu bersih.



Untuk kolam khusus anak-anak saya rasa masih sama dengan kolam renang pada umumnya, kecil dan sangat dangkal. Sedangkan untuk kolam dewasa cukup besar dan memiliki kedalaman yang bervariasi, yaitu 1 meter – 2,5 meter. Di setiap kolam terdapat penjaga yang selalu memantau keadaan kolam renang, meminimalisir korban bila ada kecelakaan saat berenang.

Satu hal lagi yang membedakan kolam renang ini dengan yang lainnya adalah terdapat fasilitas papan luncur dan ember tumpah. Papan luncur dibagi 2 jenis, yang pertama hanya menurun ke bawah dan yang satunya memiliki lintasan cukup panjang dan berkelok.

Fasilitas papan luncur yang dibagi menjadi dua lintasan (Foto: Lastboy Tahara S)

Saya rasa kolam renang ini sangat pas bagi keluarga, pengunjung bisa berenang dan anak-anak bisa menikmati fasilitas bermain papan luncur. Adanya penjaga di setiap kolam juga membuat kolam renang ini terjamin dari segi keamanan. Bisa menikmati hari libur dengan rasa aman adalah impian setiap orang.

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Kolam Renang Vila Meruya:

  • Perumahan Vila Meruya, RT.2/RW.6, Meruya Sel., Kembangan, Kota Jakarta Barat
  • Jam operasional: 06.00 WIB – 21.00 WIB

Melihat Fasilitas Olahraga Chevron Indonesia Company

Beberapa waktu yang lalu saat berwisata ke Balikpapan, saya sempat mengunjungi kantor Chevron Indonesia Company di Pasir Ridge Complex, Jalan Attaka Besar, Balikpapan. Chevron Indonesia Company adalah perusahaan minyak dan gas di Indonesia yang perusahaan induknya berada di Amerika. Produksi migas Chevron Indonesia Company sebagian besar dari lepas pantai Kutai, Kalimantan Timur.

Chevron masuk dalam deretan perusahaan migas terbesar di dunia, maka tak heran bila kantornya sangat bagus dan nyaman. Selain suasana, satu hal yang membuat saya takjub adalah fasilitas olahraga yang mereka miliki, yaitu kolam renang dan ruang fitness.

Untuk fasilitas kolam renang, air dan fasilitas pendukungnya sangat bersih. Semuanya tampak dirawat dengan baik. Kolam renang ini bisa digunakan pada hari Senin sampai Minggu, mulai dari jam 7 pagi sampai jam 6 malam. Keluarga dan anak karyawan boleh menggunakan kolam renang ini.  Meski fasilitas kolam renang berada di ruangan terbuka, dilarang keras untuk merokok.

Fasilitas kolam renang untuk karyawan Chevron Indonesia Company (Foto: Lastboy Tahara S)

Di atas kolam renang terdapat restaurant (Foto: Lastboy Tahara S)

Kemudian di belakang kolam renang terdapat ruangan fitness. Dengan beralaskan karpet empuk, ruangan fitness ini juga dilengkapi pendingin udara, sungguh sangat nyaman. Sedangkan untuk peralatan fitness, mereka merawatnya dengan baik, tidak ada cat terkelupas atau berkarat. Sangat beruntung karyawan yang menyukai olahraga fitness, karena mereka tidak perlu membuang waktu ke tempat Gym, karena semua sudah tersedia dengan baik di sini.

Fasilitas olahraga fitness di Chevron Indonesia Company (Foto: Lastboy Tahara S)

Secara pribadi saya sangat mengapresiasi Chevron Indonesia Company menyediakan fasilitas olahraga bagi karyawannya. Sebab sangat jarang ada kantor yang menyediakan fasilitas olahraga bagi karyawan. Terlebih lagi di Jakarta yang minim lahan, gedung-gedung kantor sudah berbentuk vertikal, menjulang seperti menara.

Kantor yang menyediakan area olahraga di Jakarta setahu saya hanya Kompas (Palmerah Selatan), di sana terdapat lapangan futsal, lapangan basket, lapangan bulu tangkis/tennis, dan ruangan karate. Untuk kantor lain yang minim lahan biasanya hanya menyediakan fasilitas olahraga yang tidak membutuhkan area luas seperti meja ping pong atau ruangan fitness.

Area khusus olahraga dapat dimanfaatkan oleh karyawan untuk mengolah tubuh agar lebih bugar. Olahraga juga dapat menyehatkan mental, yang tentunya dapat meningkatkan konsentrasi dan produktifitas karyawan dalam bekerja.  Maka dari itu pembangungan fasilitas olahraga di lingkungan kantor sangatlah penting. Karyawan sehat dan produktif, keuntungan perusahaan terus meningkat.

Menikmati Pesona Hutan Hujan Tropis dari Puncak Canopy Bridge

Indonesia ternyata memiliki tempat wisata berupa Canopy Bridge (Jembatan Tajuk) di Bukit Bangkirai yang terletak di Kutai Kartanegaram Kalimantan Timur. Jembatan ini merupakan Jembatan Tajuk pertama di Indonesia dan kedelapan di dunia. Dibuat oleh para ahli dari Amerika Serikat pada 1998, kabarnya jembatan ini mampu bertahan selama 15-20 tahun.

Penasaran, saya pun tertarik untuk mengunjunginya dari Balikpapan dengan menggunakan mobil. Di awal perjalanan jalur yang dilalui masih beraspal dan lancar, namun ketika memasuki daerah hutan jalur mulai berbatu. Untung pada hari itu cuaca cukup cerah, saya tidak bisa membayangkan bila turun hujan dan jalanan menjadi tergenang atau berlubang. Sebab mobil saya sempat terseok ketika melewati jalan berlubang yang tergenang oleh air bekas hujan semalam. Tantangan selama perjalanan ternyata tidak hanya jalan berlubang, terkadang ada pula jurang yang menganga di sisi jalan atau jalanan yang curam dan menikung. Pengemudi harus selalu waspada dengan memperhatikan setiap rambu-rambu yang ada.

Jalur menuju Bukit Bangkirai yang masih terbuat dari tanah dan batuan. (Foto: Lastboy Tahara S)

Hal yang menarik selama perjalanan adalah kita akan selalu diiringi oleh suara-suara serangga dan dikawal oleh pepohonan yang rimbun. Suasana hutan akan semakin terasa ketika kaca mobil dibuka. Merasakan desiran angin segar dari hutan Bangkirai. Di sana saya juga sempat melihat rumah-rumah warga sekitar yang masih berupa bangungan semi permanen. Jarak antar rumah juga masih berjauhan.

Sekitar 2 jam kemudian akhirnya saya sampai di gerbang wisata Bukit Bangkirai yang bertuliskan PT. Inhutani I. Sebelum memasuki kawasan hutan wisata, di sana terdapat pula tempat peristirahatan berupa rumah panggung dari kayu, tempat makan, dan penginapan. Fasilitas yang cukup baik menurut saya, pengunjung bisa istirahat sejenak setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari kota.

Tempat makan dan istirahat di kawasan wisata hutan Bukit Bangkirai (Foto: Lastboy Tahara S)

Untuk masuk ke area kawasan wisata hutan Bangkirai pengunjung harus membayar biaya sebesar Rp 6000 per orang untuk dewasa dan Rp. 4000 per orang untuk anak-anak. Sedangkan biaya untuk mencoba Canopy Bridge sebesar Rp. 25.000 per orang untuk pengunjung lokal dan Rp. 75.000 untuk turis mancanegara. Selain Canopy Bridge terdapat destinasi lain yang dikenakan biaya seperti Tree Walking Rope, Out Bound, Perahu Dayung, Flying Fox, dan yang lainnya.

Sedangkan akses menuju Canopy Bridge, pengunjung harus menempuh jarak 500 meter dari titik loket pendaftaran dengan berjalan kaki. Selama perjalanan saya melewati aneka pepohonan lebat, hanya sedikit sinar matahari yang mampu menembus hingga ke tanah melalui sela-sela dedaunan. Sesekali terdengar suara serangga yang nyaring. Benar-benar nuansa hutan yang asri.

Gapura Menuju Canopy Bridge (Foto: Lastboy Tahara S)

Beginilah track di kawasan wisata hutan Bukit Bangkirai, masih berupa tanah dan penuh dengan akar pohon yang menjalar. (Foto: Lastboy Tahara S)

Kekayaan pohonnya juga dijaga dengan baik. Di sepanjang jalan menuju Canopy Bridge pohon-pohon diberi nama disertai keterangan, sehingga pengunjung dapat belajar langsung tentang kekayaan pohon Kalimantan secara langsung. Salah satu yang unik adalah pohon Bangkirai, sebab kayunya terkenal kuat dan kualitasnya sangat baik sebagai bahan membuat furniture. Beberapa pohon Bangkirai yang berusia ratusan tahun dan telah roboh dibiarkan begitu saja dan diberi keterangan tentang pohon tersebut supaya bisa menjadi bahan pengetahuan bagi masyarakat.

Pohon Bangkirai berusia ratusan tahun yang dibiarkan tumbang dan tidak diangkut. (Foto: Lastboy Tahara S)

Setelah melewati track yang penuh dengan pepohonan, akhirnya saya sampai di lokasi Canopy Bridge. Di sana terdapat menara kayu setinggi 30 meter, itu lah akses untuk menaiki Canopy Bridge. Pada bagian puncak terdapat jembatan yang menghubungkan Menara dengan batang Pohon Bangkirai yang terdiri dari 3 lintasan, dan memiliki total panjang 64 meter.

Bila dilihat struktur jembatan amat kuat meski alasnya terbuat dari kayu, sebab dihubungkan dengan tali besi, tambang, dan jaring pengaman. Setiap kali melintas di jembatan, pengunjung dibatasi maksimal 2 orang sebagai standar keselamatan. Jarak antar dua penyeberang yang bersamaan juga diatur, yaitu lima meter antara satu orang dengan yang lain.

Menara Canopy Bridge di Bukit Bangkirai (Foto: Lastboy Tahara S)

Pemandangan pohon-pohon rimbun dari puncak Canopy Bridge (Foto: Lastboy Tahara S)

Ketika pertama kali mencoba awalnya biasanya saja, namun begitu sampai di tengah jembatan, angin yang berhembus membuat jembatan gantung ini bergoyang. Rasanya merinding, terlebih lagi bila sambil melihat ke bawah. Di atas jembatan saya juga dapat mengamati indahnya hutan Bangkirai yang luas. Pohon-pohonnya yang rimbun dan besar terasa amat spektakuler bila dilihat dari atas. Sesekali kicauan burung menemani setiap langkah saya.

Melihat nuansa hutan hujan tropis yang terasa alami, membuat saya tertarik untuk berhenti di setiap menara dan mengambil foto pohon-pohon yang menjulang. Saya harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, sebab pemberhentian setiap menara hanya dibatasi maksimal 8 orang dan bergantian. Sedangkan untuk pemberhentian di pohon hanya dibatasi maksimal 4 orang. Akan sangat beruntung bila pengunjung sedang sepi, waktu untuk berfoto bisa menjadi sedikit lebih lama.

Selain menyuguhkan pemandangan pepohonan yang rimbun, pengunjung yang beruntung juga berkesempatan melihat aneka burung-burung yang indah dari ketinggian. Canopy Bridge yang tingginya hampir mendekati puncak pohon juga membuat pengunjung dapat merasakan semilir angin segar dari hutan Kalimantan yang asri. Semoga konsep Canopy Bridge dapat ditiru daerah lain yang masih memiliki pesona hutan alami.

Dengan menjadikan hutan sebagai tempat wisata, masyarakat dapat belajar langsung mengenai hutan secara langsung. Memanfaatkan hutan sebagai sumber pendapatan daerah dari segi wisata jauh lebih baik daripada hanya menjadikannya sebagai tempat penghasil kayu atau spot perburuan hewan semata.

Page 2 of 6

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén