Lastboy

Anak laki-laki terakhir, suka wisata, dan kuliner

Category: Travel (Page 2 of 5)

Danau Asmara, Pesona Tersembunyi di Desa Waibao

Seusai menghadiri pelepasan pebalap Tour de Flores 2016 di Larantuka, rasanya tidak afdol bila sudah jauh-jauh ke Nusa Tenggara Timur tidak menikmati wisata alamnya. Ketika itu saya dan rombongan berencana menuju Danau Asmara yang terletak di Kecamatan Tanjung Bunga, Desa Waibao. Jaraknya sekitar 40 kilometer dari Larantuka. Meski jauh dari ibukota Kabupaten Flores Timur, Danau Asmara terkenal dengan pemandangan alam yang cantik, tapi sayangnya masih jarang dikunjungi oleh wisatawan. Bahkan bila kita mencarinya di media online masih sedikit cerita wisata yang bisa didapatkan. Maka dari itu kami memutuskan menuju Danau Asmara untuk melihat seberapa besar potensi danau ini menjadi tempat wisata yang bernilai ekonomi.

Perjalanan dari Larantuka awalnya biasa-biasa saja, namun ketika memasuki desa jalan-jalan rusak mulai menghadang mobil kami. Di pedesaan jalanan masih berupa tanah dan berbatu, tak jarang lubang yang menganga memaksa mobil kami untuk berjalan lebih pelan agar tetap stabil. Sepanjang jalan menuju danau hati saya sempat teriris, saya melihat para penduduk setempat berjalan kaki menenteng kayu bakar dan jerigen air. Kabarnya daerah sini sangat susah untuk memperoleh air bersih, darimana mereka mendapatnya saya tidak tahu, karena mobil kami masih terus berjalan. Terkadang saya juga melihat anak-anak dan orang tua paruh baya berjalan kaki mengangkat kayu bakar.

Kondisi jalan yang berbatu menuju Danau Asmara (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Kondisi jalan yang berbatu menuju Danau Asmara (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Rumah-rumah di sepanjang jalan juga hanya berdinding bambu dengan atap daun-daun kering yang disusun rapat. Tidak ada saluran listrik di sini. Hanya saja ada beberapa rumah yang memiliki panel surya kecil di atapnya, mungkin itu hanya cukup untuk menyalakan lampu di malam hari. Lampu jalan pun saya tidak melihatnya, tidak terbayang bagaimana suasana desa ini ketika malam tiba.

Setelah menempuh 2 jam perjalanan dari Larantuka, akhirnya saya dan rombongan sampai di lokasi Danau Asmara. Untuk menuju danau saya harus menuruni jalan setapak yang lumayan curam. Kondisi jalan yang berbatu dan diapit oleh semak belukar membuat saya sulit untuk bergerak cepat, salah langkah bisa terpeleset. Banyaknya tumbuhan di area danau juga membuat suasana terasa sangat lembab, jalanan berbatu yang ditumbuhi lumut menjadi licin untuk ditapaki.

Menuruni jalan setapak dengan dikelilingi semak-semak dan pepohonan (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Menuruni jalan setapak dengan dikelilingi semak-semak dan pepohonan (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Perjuangan yang melelahkan untuk menuruni jalan setapak ternyata membuahkan hasil, di depan saya akhirnya terpampang Danau Asmara yang dikelilingi pepohonan hijau yang rimbun. Tak ada suara apa pun selain daun yang gemerisik ditiup angin, danau ini benar-benar sunyi. Airnya yang tenang dan berkilau membuat danau ini semakin cantik, seperti gadis pendiam yang anggun.

Danau Asmara yang sunyi dan tenang (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Danau Asmara yang sunyi dan tenang (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Berdasarkan literatur yang saya baca, nama danau ini awal mulanya bukan bernama Danau Asmara, melainkan Waibelen. Kata “Wai” artinya “air” dan “Belen” artinya “Besar”, bila diterjemahkan menjadi “air yang besar”. Nama Danau Asmara mulai muncul kira-kira pada tahun 1974, sesuai dengan namanya ada kisah asmara dibalik pemberian nama ini. Ketika itu ada sepasang kekasih yang memiliki pertalian keluarga nekat meneruskan hubungan tersebut. Karena tak mau dilarang, mereka akhirnya menenggelamkan diri ke tengah danau dengan tangan terikat. Jadilah penduduk setempat menamainya dengan Danau Asmara.

Untuk melihat Danau Asmara saya hanya berpijak pada tanah yang dialasi rerumputan. Berdiam diri sejenak untuk menikmati pemandangan, sambil merasakan semilir angin yang mengusap peluh. Suasana danau yang sunyi membuat hati saya merasa tenang dan tentram. Pepohonan hijau yang mengelilingi danau juga menambah nuansa sejuk.

Namun sayang, danau seindah ini belum ada tempat khusus bagi wisatawan untuk menikmati pemandangan dan beristirahat. Saya misalnya, harus berdiri beralaskan tanah yang sempit dan dikelilingi oleh semak belukar. Sehingga bila ingin menikmati keindahan danau, harus saling bergantian agar tidak terlalu dekat dengan air danau. Karena kita tidak tahu seberapa dalam danau itu dan bagaimana struktur tanah di dalamnya.

Semak-semak di sekeliling saya (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Semak-semak di sekeliling saya (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Saya harap pemerintah dapat mengembangkan Danau Asmara sebagai tempat wisata. Karena saya melihat danau ini memiliki potensi untuk menjadi tempat wisata yang besar, dengan keindahan alam dan unsur hayatinya. Mungkin pemerintah bisa memulai dengan memperbaiki jalan raya menuju danau, memasukkan listrik, dan membuat saluran air bersih ke desa-desa. Wilayah sekitar danau juga perlu dikembangkan dengan membangun fasilitas untuk wisatawan seperti penginapan, toilet umum, sarana transportasi yang memadai, dan yang lainnya.

Masih banyak memang yang perlu dikerjakan, tapi bila pemerintah berhasil mengembangkan Danau Asmara sebagai tempat wisata dan gencar melakukan promosi, akan banyak orang yang berkunjung ke Danau Asmara. Dan secara perlahan desa-desa di sekitar danau akan mengalami peningkatan ekonomi. Rakyat menjadi sejahtera dan dapat hidup dengan makmur.

Beli Tiket Kereta Api ke Cepu via Online

Lima hari lagi bulan Desember segera tiba, bulan dimana banyak orang merencanakan liburan untuk hari natal dan tahun baru. Saya juga berencana mengambil hari libur pada bulan Desember untuk pergi ke Cepu, Jawa Tengah, dengan menggunakan kereta api.

Menjelang hari libur biasanya antrian loket kereta api panjang mengular, daripada ambil pusing saya memutuskan membeli tiket kereta api Jakarta-Cepu secara online. Cukup melakukan booking di situs resmi PT. Kereta Api Indonesia dengan alamat https://tiket.kereta-api.co.id.  Dengan membeli tiket secara online saya tidak perlu antri di loket dan berdesak-desakkan, selain itu saya bisa mengakses dari mana saja secara online.

Beli Tiket Kereta Api ke Cepu via Online

Untuk melakukan pembelian tiket kereta api Jakarta-Cepu secara online, langsung saja kunjungi website https://tiket.kereta-api.co.id/ dengan mengisi kolom tanggal keberangkatan, stasiun asal, stasiun tujuan, dan yang lainnya.

Pemesanan Tiket Kereta Jakarta-Cepu

Pemesanan Tiket Kereta Jakarta-Cepu

Setelah itu pilih kereta api dan waktu keberangkatan, pada kolom tersebut dicantumkan pula harga-harga tiket yang berbeda. Bila Anda melakukan pemesanan tiket jauh-jauh hari, pilihan harga akan semakin beragam dan Anda berkesempatan untuk memilih harga tiket yang lebih murah dengan kelas yang sama.

Pilih Kereta Api dan Waktu Keberangkatan

Pilih Kereta Api dan Waktu Keberangkatan

Klik booking untuk kereta yang Anda pilih, kemudian Anda akan diarahkan ke kolom pengisian data pribadi penumpang. Pastikan semua data dimasukkan dengan benar sesuai dengan kartu identitas Anda, karena di stasiun nanti tiket Anda akan diperiksa kembali oleh petugas. Setelah itu isi kolom “alamat email” dengan email yang masih aktif, karena proses konfirmasi pembayaran akan Anda terima melalui email.

Kolom Data Pribadi Penumpang

Kolom Data Pribadi Penumpang

Bila sudah terisi semua silahkan lakukan pembayaran melalui ATM, minimarket, atau paymen point sesuai dengan kode pemesanan yang sudah Anda terima. Setelah itu Anda akan menerima konfirmasi pembayaran melalui email. Kode konfirmasi pembayaran yang sudah Anda terima bisa langsung Anda masukkan ke mesin CTM (Cetak Tiket Mandiri) di stasiun untuk dicetak.

Pantai Pandawa, Pantai Mempesona Lain di Bali

Mengunjungi pantai memang tidak ada bosannya buat saya. Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang keindahan Pantai Kemala yang terletak di Balikpapan. Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya mengunjungi sebuah pantai di Bali.

Kalau sudah dengar kata Bali dan pantai biasanya pikiran orang sudah menuju ke pantai kuta. Ya memang tidak salah, karena pantai kuta merupakan salah satu pantai favorit juga di Bali. Tapi sekarang saya punya cerita dari sebuah pantai di Bali Selatan, Pantai Pandawa !

Pada awalnya saya sempat putus asa ketika teman mengatakan “Kita akan mengunjungi sebuah pantai di Bali”, bayangan saya cuman satu “Pantai Kuta”. Pikir saya akan sangat sia-sia perjalanan ini bila pergi ke pantai kuta, karena waktu SMA saya sudah pernah mengunjungi pantai kuta. Bayangkan, jauh-jauh dari jawa tengah hanya untuk mengunjungi pantai yang sudah pernah ditapaki ? Oh..ayo lah..tak adakah sesuatu yang baru buat saya ? Hahaha..ceritanya sok kayak traveller nih.

Dan beberapa saat kemudian teman saya menyambung perkataannya lagi “Tujuan wisata kita selanjutnya adalah Pantai Pandawa!”. Heh..pantai pandawa ? Sejenak saya berpikir tentang nama pantai tersebut, setahu saya pantai paling bagus di Bali itu ya pantai Kuta. Ah tapi tak apa lah, justru sesuatu yang baru itu membuat saya merasa “Seru!”. Karena kita tidak tahu seperti apa perjalanan ke sana dan bentuk pantai yang akan dikunjungi, apakah berpasir putih, memiliki bibir pantai yang panjang, terdapat banyak pohon kelapa, atau sangat mirip dengan keindahan pantai kuta.

Singkat cerita, kami akhirnya menuju sebuah daerah di Bali Selatan, tepatnya di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Di perjalanan kami disambut oleh tebing-tebing tinggi yang mengapit jalan, penampilannya seperti tebing kapur yang sengaja dibelah. Setelah itu ada juga patung pewayangan Pandawa Lima berukuran raksasa dan berwarna putih yang disimpan di dalam tebing-tebing tersebut. Kelima patung tersebut berdiri gagah seakan-akan mengawal perjalanan kami menuju pantai. Di perjalanan saya terdiam sejenak untuk menikmati megahnya patung-patung ini dari kaca mobil. Jujur saja saya belum pernah melihat patung yang ditempatkan di dalam tebing, indah banget. (Sayang saya belum sempat memotretnya karena bis terus melaju, cari di internet saja ya, hehe)

Tidak lama setelah melewati tebing-tebing tersebut tibalah kami memasuki wilayah Pantai Pandawa. Mata kami langsung disambut oleh birunya air dan pasir putih yang terhampar di bibir pantai. Lelah duduk di bis seharian, saya langsung berlari untuk melepas penat dengan berdiri merentangkan tangan di pantai, sejenak menikmati hembusan angin pantai dan mendengarkan suara deburan ombak. Rileks banget lah.

Keindahan Pantai Pandawa di Bali Selatan

Keindahan Pantai Pandawa di Bali Selatan

Melepas Penat dengan Memandang Laut

Melepas Penat dengan Memandang Laut

Bosan memandang pantai ? Teman saya juga tidak tinggal diam ternyata, ia mencoba kano-kano yang telah disediakan untuk mengarungi birunya laut. Beberapa tempat untuk merebahkan diri sambil memandangi laut juga ada, lengkap dengan payung lebar supaya lebih nyaman dan tidak panas.

Kano di Pantai Pandawa

Kano di Pantai Pandawa

Duduk Santai di Kursi Pantai

Duduk Santai di Kursi Pantai

Sungguh liburan yang menyenangkan, mencoba tempat wisata yang belum pernah saya kunjungi di Bali dan pengalaman yang seru bersama teman-teman. Untuk pembaca yang tertarik dengan pantai ini, jangan ragu untuk berkunjung. Selamat berpetualang!

Bersantap Sambil Menikmati Sunset di Ancol Jimbaran Resto

Pantai Jimbaran di Bali sangat terkenal akan keindahan pantai dan kuliner pinggir pantai yang menyajikan berbagai hidangan laut, karena sangat terkenal maka banyak resto di luar Bali yang menghadirkan nuansa kuliner pinggir pantai seperti di Pantai Jimbaran. Saya pernah berwisata ke Balikpapan dan mengunjungi Pantai Kemala, di sana nuansa kuliner pinggir pantainya seperti di Jimbaran, meja restonya menggunakan taplak berwarna hitam-putih supaya khas dengan nuansa Bali. Lalu pengalaman saya yang paling baru adalah ketika mengunjungi resto pinggir pantai di Jakarta, dan lagi-lagi namanya Jimbaran Resto! Tapi untuk yang satu ini pengelola resto tampil total untuk menghadirkan nuansa kuliner pinggir pantai khas Jimbaran, Bali.

Ancol Jimbaran Resto

Ancol Jimbaran Resto

Pertama kali melihat tampilan luar Jimbaran Resto ini kita akan disambut gapura khas Bali dengan arca yang ditutupi kain hitam-putih di bagian bawahnya dan payung di kedua sisinya. Dari luar juga terlihat patung hanoman yang berdiri di atas batu. Para pengunjung sebelum masuk sudah merasakan nuansa Bali di resto ini, pengelola benar-benar cerdas dalam mengambil kesan pertama ketika orang-orang melihat tempat ini dari luar.

Gapura Ancol Jimbaran Resto

Gapura Ancol Jimbaran Resto

Masuk ke bagian dalam kita akan melihat kolam kecil dan taman yang indah, semua terlihat hijau dan segar. Pohon-pohon yang mengelilingi taman juga memberikan nuansa sejuk bagi pengunjung yang datang. Senang rasanya disambut kesejukan seperti ini setelah mengarungi jalanan Jakarta yang panas dan sumpek. Benar-benar kesan pertama yang menyenangkan.

Patung Hanoman di Jimbaran Resto

Patung Hanoman di Jimbaran Resto

Di Jimbaran Resto ini ada 3 pilihan tempat untuk bersantap. Yang pertama saat kita pertama kali masuk akan ada bangunan kayu berlantai dua, tepat di belakang kolam dengan patung hanoman. Di bangunan kayu ini kita bisa memilih untuk di lantai pertama atau kedua, untuk pilihan tempat saya merekomendasikan untuk lantai yang kedua. Di sana suasananya tidak terlalu ramai dan kita bisa menikmati pantai lebih puas karena memandangnya dari atas.

Rumah Kayu Menghadap Pantai

Rumah Kayu Menghadap Pantai

Sangat berbeda bila kita menikmati santapan di lantai bawah, sangat biasa dan tidak bisa leluasa melihat pantai karena tertutupi oleh pengunjung lain yang sudah duduk di pinggir pantai.Dan bila ingin memesan makanan Anda tinggal mengangkat tangan saja untuk meminta menu, dan tidak lama pelayan resto akan segera menghampiri. Di Jimbaran Resto ini pelayannya banyak sehingga kita tidak perlu repot atau menunggu lama untuk memesan makanan.Oh iya para pelayan di resto ini juga menggunakan pakaian adat Bali!

Meja Makan Berjejer di Pinggir Pantai

Meja Makan Berjejer di Pinggir Pantai

Suasana Sore di Ancol Jimbaran Resto

Suasana Sore di Ancol Jimbaran Resto

Suasana Teduh dengan Jejeran Pohon Kelapa

Suasana Teduh dengan Jejeran Pohon Kelapa

Nah untuk Anda yang ingin melihat lebih dekat suasana pantai, resto ini sudah menyediakan bangku untuk pengunjung yang ingin bersantap di pinggir pantai. Bila sore menjelang Anda juga bisa melihat sunset di pantai ini. Memang sangat berbeda keindahannya bila dibandingkan dengan sunset di Bali, tapi untuk di Jakarta, suasana seperti ini sudah luar biasa. Duduk santai menghadap pantai dan melupakan raungan mesin kendaraan yang kita dengar setiap hari. Sambil menikmati moment itu Anda juga bisa memesan es kelapa dingin, di sana es kelapa disajikan utuh dengan batoknya, sangat istimewa bukan?

Sunset di Ancol Jimbaran Resto

Sunset di Ancol Jimbaran Resto

Ketika sudah mendekati sunset Anda jangan terpaku melihatnya saja, karena di pinggir pantai Jimbaran Resto ini juga terdapat para pemain musik yang memainkan alat-alat musik tradisional Bali. Dan Waktu itu saya kesana hari Sabtu dan sempat menyaksikan seorang wanita berambut panjang mengenakan pakaian adat Bali menuju panggung, saya rasa bila weekend mereka juga menyuguhkan hiburan tari-tarian khas Bali, saya tidak sempat memastikan karena setelah sunset saya memutuskan untuk pulang.

Suguhan Musik Tradisional Bali di Ancol Jimbaran Resto

Suguhan Musik Tradisional Bali di Ancol Jimbaran Resto

 

Nah, dari berbagai pengalaman yang saya saksikan, suasana Ancol Jimbaran Resto ini kental sekali dengan Bali bukan? Mulai dari dekorasi resto dan hiburan yang disuguhkan. Bila Anda juga ingin mengunjungi Jimbaran Resto yang ada di Jakarta, alamatnya sangat mudah ditemukan karena lokasinya berada di Ancol, yaitu di Jl. Lodan Timur No. 7 Pantai Carnaval, Taman Impian Jaya Ancol Jakarta. Salam kuliner!

Page 2 of 5

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén