Lastboy

Suka jalan-jalan dan kuliner

Category: Travel (Page 2 of 7)

Serba-serbi Wisata di Singapura [Podcast Ep. 3]

Melihat Pesona Lapangan Sepak Bola ABC Senayan, Venue Asian Games 2018

Sore itu (11/3) saya mengunjungi Lapangan Sepak Bola ABC untuk sekadar jogging. Lapangan ini merupakan salah satu venue Asian Games 2018 dan telah memenuhi standard kualitas Federation International Football Association (FIFA). Usai diresmikan pada Desember 2017 lalu, Lapangan Sepak Bola ABC sudah dibuka kembali untuk umum.

Untuk masuk ke area lapangan sepak bola tidak dikenai biaya masuk, pengunjung hanya perlu membayar parkir bila membawa kendaraan bermotor.  Pada bagian depan, area sekitar lapangan sepak bola tampak tertata rapi dan bersih. Tersedia pula jalur khusus pejalan kaki untuk menuju lapangan sepak bola dengan pepohonan rimbun di setiap pinggirnya.

Sesuai dengan namanya, Lapangan Sepak Bola ABC terdiri dari 3 lapangan, yakni lapangan A dan B yang menggunakan rumput alami. Kemudian lapangan C yang menggunakan rumput sintetis. Kondisi lapangan ketiganya amat bagus, rumputnya tampak terawat dan rata.

Pemandangan Lapangan B dari sisi kiri tribun (Foto: www.lastboytahara.com)

Lapangan Sepak Bola ABC Senayan

Pemandangan Lapangan B dari sisi tengah tribun (Foto: www.lastboytahara.com)

Pemandangan Lapangan B dari sisi kanan tribun (Foto: www.lastboytahara.com)

Dari segi kualitas rumput, lapangan B memiliki rumput yang lebih bagus. Lapangan ini menggunakan rumput alami jenis Zoysia Matrella, jenis rumput yang sama dengan Stadion Utama Gelora Bung Karno. Rumput Zoysia Matrella juga direkomendasikan FIFA karena memiliki elistisitas yang sangat baik, sehingga bola dapat menggelinding tanpa mengurangi kecepatannya.

Sedangkan dari segi fasilitas, lapangan ini dilengkapi dengan loker, shower, penerangan lapangan yang baik, tribun yang memadai, keran air minum gratis, dan toilet. Hal yang patut diapresiasi adalah tersedianya fasilitas toilet khusus difabel, karena tak banyak tempat olahraga yang menyediakan fasilitas khusus difabel.

Lapangan C dengan rumput sintetis (Foto: www.lastboytahara.com)

Bagi Anda yang ingin bermain di Lapangan Sepak Bola ABC, lapangan dibuka dari jam 8 pagi hingga 10 malam. Sedangkan untuk harga sewa lapangan berada di kisaran Rp 2.000.000 hingga Rp 3.800.000 untuk durasi 2 jam bermain. Harga sewa lapangan berbeda-beda berdasarkan jam main, semakin sore harga sewa akan semakin mahal.

Semoga dengan renovasi lapangan yang semakin bagus, bisa menelurkan atlet-atlet sepak bola profesional yang handal. Dan tentunya, menumbuhkan semangat muda-mudi bangsa untuk memajukan sepak bola nasional. Maju terus sepak bola Indonesia!

Panduan peta menuju Lapangan Sepak Bola ABC klik di sini.

Serunya Memberi Makan Rusa dari Dekat di Ranca Upas

Ini adalah cerita lanjutan setelah berkemah di Ranca Upas. Menjelang siang kami menuju penangkaran rusa yang tidak jauh dari area perkemahan. Di sini kita dapat melihat belasan rusa dilepas secara bebas dan memberi makan. Untuk masuk ke penangkaran rusa tidak dikenakan biaya sama sekali, cukup membayar uang tiket masuk ke area perkemahan Ranca Upas.

Penangkaran rusa di sini cukup luas, dengan padang rumput yang membentang rusa dapat dengan bebas berlarian. Ada pula saluran parit-parit kecil melintasi rerumputan sebagai drainase yang juga mempercantik area penangkaran. Bila ingin melihat aktifitas rusa, disediakan jembatan kayu supaya pengunjung dapat melihat rusa dari atas.

Di lorong jembatan kayu juga terdapat beberapa papan informasi tentang anatomi tubuh rusa. Namun sayang, tulisan yang tertera pada papan sudah mulai sulit dibaca. Kertas di dalamnya tampak lusuh dan pudar. Pengelola perlu memperbarui papan informasi tersebut supaya dapat lebih layak dibaca.

Papan informasi yang sudah pudar dan sulit dibaca (Foto: www.lastboytahara.com)

Saat itu saya dan rekan-rekan tidak menghabiskan waktu di jembatan kayu, kami langsung menuju ke bawah untuk melihat rusa dari dekat. Penangkaran rusa di sini berbeda dengan penangkaran rusa lainnya, kita dapat melihat rusa dengan bebas. Sama sekali tidak dibatasi oleh kandang. Bahkan kita juga bisa memberi makan rusa dari dekat.

Untuk memancing agar rusa mau mendekat, saat itu kami membeli satu ikat wortel yang dijual di penangkaran seharga Rp 10.000. Kami lalu menuruni tangga dan melambaikan satu buah wortel. Benar saja, beberapa rusa langsung menghampiri kami dan melahap wortel. Pengalaman yang sangat menarik, dapat begitu dekatnya dengan rusa, bahkan sampai bisa mengelus kepalanya.

Penangkaran rusa di Ranca Upas dengan panorama bukit (Foto: www.lastboytahara.com)

Jinaknya rusa di Ranca Upas (Foto: www.lastboytahara.com)

Pengunjung dapat dengan bebas mendekati rusa dan memberi makan (Foto: www.lastboytahara.com)

Meski tampak jinak, tetap harus hati-hati ketika mendekat, sebab tanduk rusa yang sudah dewasa lumayan tajam. Beruntung, kala itu kami ditemani oleh pawang rusa yang mengatur pergerakan rusa. Ia dapat memerintahkan rusa-rusa yang tersebar untuk berkumpul mendekati pengunjung.

Selain kami, saat itu tampak juga pasangan yang sedang melakukan sesi pemotretan prewedding. Pilihan lokasi yang tepat menurut saya, tak banyak lokasi asyik untuk foto bersama rusa-rusa yang dilepas bebas. Apa lagi ditambah dengan keindahan panorama bukit sebagai latar belakangnya. Tak heran bila lokasi ini jadi hit di media sosial. Keren!

 

Bagi pembaca yang tertarik berkunjung ke penangkaran rusa, berikut alamatnya:

Jalan Ciwidey-Patengan Km. 11, Patengan, Rancabali, Bandung, Jawa Barat. Satu lokasi dengan bumi perkemahan Ranca Upas.

Asyiknya Berkemah di Ranca Upas, Bangun Pagi Disuguhi Keindahan Alam

Bulan Februari ini saya mengambil jatah libur singkat dari kantor, yaitu selama tiga hari. Saya langsung menggunakan kesempatan ini untuk berlibur bersama rekan-rekan ke Bandung, pilihan yang pas untuk liburan singkat, sebab perjalanan Jakarta ke Bandung hanya beberapa jam. Lokasi wisata yang kami pilih adalah Ranca Upas, bumi perkemahan yang tengah populer di media sosial karena panorama bukit dan matahari terbit.

Singkat cerita, kami tiba di Ranca Upas pada sore hari dengan kondisi gerimis. Setelah itu kami langsung bergegas mencari spot mendirikan tenda. Kami harus cepat-cepat, sebab gerimis semakin deras dan cuaca mulai dingin. Tidak mungkin kami terus-terusan di dalam mobil. Bisa-bisa, jadinya bermalam di mobil, bukan berkemah. Hahahaha…

Cukup ribet juga ternyata ketika liburan di musim hujan. Tanah yang kami pijak sangat becek dan terkadang ada lubang tanah yang tak terlihat.  Berkeliling mencari spot tenda menjadi menguras tenaga.

Jalan di area perkemahan menjadi becek sehabis hujan (Foto: lastboytahara.com)

Di sini area untuk mendirikan tenda amat luas, pengunjung dapat bebas memilih. Menurut pengamatan saya, lokasi mendirikan tenda ada dua jenis, yaitu area dengan lapisan beton dan area yang hanya beralaskan rumput. Kami memilih area beralaskan rumput, sebab di area ini kita dapat melihat matahari terbit tepat di depan tenda.

Usai menentukan spot, kami kemudian menyewa perlengkapan berkemah. Di sini pengunjung tidak perlu repot untuk berkemah, pengelola ranca upas dan warung-warung makan turut menyewakan perlengkapan berkemah. Mulai dari tenda dengan berbagai macam ukuran, sleeping bag, kayu bakar, senter, dan yang lainnya. Tenda yang disewa pun sudah langsung dipasangakan di lokasi yang diinginkan.

Ketika malam hari tiba, tidak ada banyak hal yang kami lakukan. Hujan deras yang mengguyur Bandung seharian hanya menyisakan udara dingin yang menggigit, suhunya bisa mencapai 17 derajat Celsius. Langit malam hari juga hanya gelap gulita, mungkin karena tertutup awan mendung. Kalau tidak, kami bisa menikmati pemandangan hamparan bintang-bintang di angkasa.

Malam itu kami terpaksa hanya meringkuk di dalam tenda sambil berbagi cerita. Hingga akhirnya, satu per satu dari kami tertidur. Tenggelam dalam cuaca dingin dan lelah.

– – –

Keesokan harinya saya bangun pukul setengah enam pagi. Perlahan-lahan tenda saya buka, berharap silaunya matahari terbit tidak menyilaukan mata. Baru saja tali pintu tenda saya tarik sepanjang 30 cm, udara dingin langsung masuk merambat ke kaki. Brrr! Cuacanya masih dingin menggigit! Setelah pintu tenda terbuka semua, tampaklah cahaya pagi beserta hamparan rumput yang amat segar.

Pagi hari disambut pemandangan bukit yang diselimuti kabut. (Foto: lastboytahara.com)

Memandang lebih jauh, tersaji panorama alam yang menakjubkan berupa hamparan rumput dan bukit yang hijau. Kumpulan kabut yang mengintip dari pepohonan di bukit juga menampilkan suasana pagi yang magis. Sayang, hari ini saya tidak bisa menyaksikan matahari terbit karena sedikit mendung. Saat pukul 7 pagi barulah pesona bukit-bukit di depan tenda mulai terlihat jelas, tanpa tertutup kabut.

Keindahan alam di bumi perkemahan Ranca Upas dengan hamparan rumput dan bukit yang hijau. (Foto: lastboytahara.com)

Pemandangan dari dalam tenda yang langsung menghadap bukit. (Foto: lastboytahara.com)

Setelahnya saya bersiap untuk berkeliling kawasan ranca upas. Di sini ada berbagai spot menarik untuk wisata, seperti waterboom, panahan, outbond, dan penangkaran rusa. Tempat paling hit adalah penangkaran rusa, dimana pengunjung dapat memberi makan rusa dan berfoto. Asyiknya, pengunjung dapat melihat rusa dari jarak yang sangat dekat, tanpa dibatasi kandang.

 

Bersambung…

(Lanjutan) Serunya Memberi Makan Rusa dari Dekat di Ranca Upas

Page 2 of 7

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén