Lastboy

Suka jalan-jalan dan kuliner

Category: Video (Page 1 of 2)

Segarnya Wisata Curug Undak Dua di Sukabumi

Tulisan sebelumnya: Merasakan Sensasi Menyatu dengan Alam di Camp Bravo

Usai membersihkan badan dan tampil segar, saya kemudian bersiap menuju wisata air terjun bernama Curug Undak Dua. Curug ini dikenal dengan airnya yang segar dan jernih. Untuk menuju ke sana, saya berjalan kaki dari lokasi camping. Aksesnya sangat mudah, cukup mengikuti rute jalan setapak yang sudah dibuat oleh warga.

Selama berjalan kaki, trek yang dilalui lumayan berat dengan jalan setapak berbatu. Sesekali langkah kaki akan terasa berat karena harus melewati jalan yang menanjak. Meski lelah, selama jalan kaki kami disuguhi pemandangan alam yang amat indah. Terdapat lembah-lembah dengan pepohonan hijau dan sawah-sawah yang membentang.

Panorama alam selama perjalanan menuju Curug Undak Dua. (Foto: Lastboy Tahara S)

Semakin jauh melangkah, saya pun memasuki kumpulan pohon pinus yang menjulang. Dikelilingi pepohonan terasa amat spektakuler bagi saya, sebab suasana alam seperti ini yang tidak ada di kota. Saya kemudian merogoh kamera untuk mendokumentasikan pengalaman ini, walau cahayanya cukup gelap karena tertutupi oleh pohon dan dedaunan.

Kumpulan pohon pinus sebelum menuju lokasi Curug Undak Dua (Foto: Lastboy Tahara S)

Usai mendokumentasikan suasana kumpulan pohon pinus, saya pun melanjutkan perjalanan. Tak terasa saya telah berjalan kaki selama 30 menit, kemudian suara gemuruh air sayup-sayup mulai terdengar. Makin jauh melangkah, sampailah saya di lokasi Curug Undak Dua. Cukup susah untuk menuju ke sana rupanya, harus menuruni jalan setapak yang lumayan terjal. Namun inilah alam, segala tantangannya menjadi bumbu dalam perjalanan untuk dikenang.

Tepat di lokasi Curug Undak Dua suara gemuruh air makin kencang. Aliran air ini mengalir dari ketinggian sekitar 6 meter dengan debit air yang luar biasa. Kemudian di sekitar curug terdapat batu-batu besar yang dapat digunakan pengunjung untuk sekadar duduk-duduk atau bersantai. Beberapa pengunjung juga terlihat menceburkan diri ke dalam air dan berswafoto.

Tak ingin ketinggalan, saya dan rekan-rekan yang lain bergegas menceburkan diri ke dalam air. Pertama sempat kaget dengan suhu air yang amat dingin, tapi lama-lama terbiasa juga. Beberapa rekan saya bahkan sudah berani untuk menceburkan dirinya hingga kepala. Selain menyegarkan, air di Curug Undak Dua juga sangat jernih, hingga bebatuan di dasarnya tampak terlihat jelas. Sesekali air berkilau seperti Kristal akibat pantulan sinar matahari.

Menikmati kesegaran air Curug Undak Dua. (Foto: Lastboy Tahara S)

Jernihnya air di Curug Undak Dua, bebatuan di dasarnya sampai terlihat jelas. (Foto: Lastboy Tahara S)

Puas menikmati air terjun, kami kemudian berswafoto untuk mengabadikan moment. Setelah itu kami kembali menuju tempat kemah dengan berjalan kaki sambil bersenda-gurau. Sungguh pengalaman yang menyenangkan, menikmati keindahan alam yang masih asri. Semoga lokasi wisata ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah, sehingga lokasi wisata Curug Undak Dua semakin ramai dan dapat memajukan perekonomian warga di sekitarnya.

Merasakan Sensasi Menyatu dengan Alam di Camp Bravo

Pada Februari lalu saya mengambil hari libur untuk camping di Ranca Upas, Bandung. Belum hilang ingatan camping bulan lalu, satu bulan berikutnya saya kembali untuk pergi camping bersama rekan kerja. Namun kali ini beda daerah, lokasi yang saya tuju adalah Camp Bravo Cidahu, Sukabumi. Lokasi camping ini dikenal dengan keindahan hamparan sawah dan area pendirian tenda yang dilewati sungai. Selain itu Camp Bravo juga dekat dengan wisata air terjun yang terletak di sisi selatan Gunung Salak.

Perjalanan menuju Cidahu dimulai dari Jakarta selama 3 jam dengan menggunakan mobil. Aksesnya sangat mudah, hanya macet di daerah Bogor yang membuat waktu tempuh menjadi lama. Sesampainya di Cidahu, kami memarkir mobil di sebelah Masjid Ar Raihan. Parkiran di sana cukup bersih karena dikelola dan dirawat oleh warga.

Dari parkiran mobil kami harus berjalan kaki menuju lokasi camping dengan menyusuri perkampungan. Makin ke dalam suasana alam kian terasa dengan panorama lereng bukit dan pepohonan. Kami juga sempat menyeberangi sungai kecil dengan jembatan yang dibuat dari batang bambu.

Jembatan yang terbuat dari batang bambu menuju Camp Bravo Cidahu. (Foto: www.lastboytahara.com)

Setelah berjalan kaki selama 15 menit, kami kemudian melewati hamparan sawah yang berwarna kuning keemasan. Dari kejauhan, gerbang pintu masuk menuju lokasi Camp Bravo akhirnya kelihatan. Butuh perjuangan ternyata untuk mencapai lokasi camping, nafas saya sampai ngos-ngosan bukan main. Mungkin akibat lelah selama perjalanan di mobil dan tak biasa jalan kaki menyusuri alam. Jalan setapak di sini kadang juga naik turun dengan permukaan yang tidak rata.

Pemandangan hamparan sawah sebelum memasuki gerbang Camp Bravo Cidahu. (Foto: www.lastboytahara.com)

Di gerbang pintu masuk area camping, saya istirahat dulu sebentar sambil memandangi sawah. Semilir angin di sana amat segar, hingga peluh keringat pun terhapus seketika. Setelah energi terkumpul saya meneruskan untuk masuk ke lokasi camping. Di sana saya melewati area pemancingan dan kolam untuk outbond. Ada juga area kosong yang cukup luas untuk arena bermain atau mendirikan tenda.

Lokasi camping yang kami tuju berada di bagian bawah, dekat dengan sungai kecil. Untuk menuju ke sana disediakan tangga yang terbuat dari batu-batu sungai yang disusun rapi. Dari atas tangga saya dapat melihat belasan tenda berwarna merah-hitam. Sesampainya di sana saya langsung melepas sandal dan selonjoran menikmati rindangnya pepohonan. Dengan suasana alam yang masih asri, udara di sini terasa amat menyegarkan.

Suasana Camp Bravo Cidahu

Deretan tenda di Camp Bravo, Cidahu. Semuanya sudah lengkap dengan perlengkapan tidur. (Foto: www.lastboytahara.com)

Di belakang area camping terdapat sungai kecil. Suara gemericik airnya bikin rileks. (Foto: www.lastboytahara.com)

Setelah puas istirahat saatnya untuk merapikan barang-barang dan masuk tenda. Persiapan camping di sini ternyata tidak begitu ribet, sebab semuanya sudah dipersiapkan oleh pengelola. Di dalam tenda misalnya, pengunjung sudah disediakan matras, bantal, dan selimut. Kemudian ada air minum gratis lengkap dengan dispenser dan aneka minuman sachet. Untuk makan pun tidak perlu repot, di dekat lokasi camping ada warung yang menyediakan makanan berat seperti nasi ayam, aneka mie instant, dan nasi goreng.

Semacam cafe mini dari kayu di Camp Bravo Cidahu. Disediakan air minum gratis dan aneka minuman sachet. Lantai 2 biasanya digunakan untuk ibadah. (Foto: www.lastboytahara.com)

Selagi asyik di depan tenda, saya dan rekan-rekan yang lain baru sadar bahwa yang menempati lokasi camping hanya rombongan kami saja. Suasananya benar-benar sepi! Maklum, kami datang saat hari biasa, bukan akhir pekan. Kalau begini, rasanya seperti camping di tanah pribadi saja. Bayangkan, dengan luas tanah yang bisa menampung belasan tenda hanya 2 tenda saja yang terpakai.

Dengan kondisi yang benar-benar sepi, malam harinya kami leluasa untuk bernyanyi menggunakan gitar tanpa khawatir mengganggu yang lain. Setelahnya kami ngobrol ngalor-ngidul, mulai dari perihal kerjaan (liburan masih ae ngomong kerjaan), kopi, tren medsos, dan pengalaman kocak.

Menjelang pukul 1 pagi, percakapan malam itu kami sudahi sambil memandangi bintang-bintang di angkasa. Serius, bintangnya banyak sekali saat itu. Di alam bebas cahaya bintang dapat terlihat lebih jelas dan terang. Beda dengan langit di kota, cahayanya terlalu terang karena lampu dari gedung-gedung tinggi dan perumahan. Setelah tak kuat menahan kantuk, kami lalu menuju tenda masing-masing untuk tidur. Sambil ditemani bunyi gemericik air dari sungai.

Keesokan paginya, kami menuju sungai kecil di belakang area camping. Di tengah-tengah sungai terdapat batu-batu besar. Saya kemudian memilih batu paling besar dan duduk santai sambil memandangi aliran sungai. Airnya amat bening hingga tampak berikilau ketika diterpa sinar matahari pagi. Sementara itu, dua rekan saya justru sibuk menyusun batu-batu kecil di sungai ala gravity glue. Puas bermain di sungai,  mereka akhirnya memilih untuk sekalian mandi di sana.

Sungai kecil di belakang area Camp Bravo Cidahu. Airnya amat bening dan menyegarkan (Foto: www.lastboytahara.com)

Gravity glue yang telah disusun. Tampak biasa dan tidak melengkung seperti pada umumnya. Maklum, sekadar iseng. (Foto: www.lastboytahara.com)

Usai membersihkan badan dan tampil segar, kami kemudian bersiap untuk menuju wisata air terjun di sisi selatan Gunung Salak. Lokasinya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari lokasi camping.

Bersambung…

*Lokasi Camp Bravo Cidahu lebih jelas bisa Anda cek di sini

Viral Dikabarkan Tutup, Ternyata Pabrik Kopi Liong Bulan Masih Beroperasi

Kopi Liong Bulan (Foto: Lastboy Tahara S)

Para pecinta kopi sempat dibuat heboh soal tutupnya pabrik Kopi Liong Bulan, kopi khas Bogor. Kabar ini berawal dari unggahan foto toko Kopi Liong Bulan di daerah Pasar Anyar, Bogor, dengan sebuah pengumuman di pagar bertuliskan: “’Pengumuman Mulai 8 Nov 2017 Kopi Liong Bulan Tutup, Udahan”. Sontak para pecinta kopi pun heboh dan menyayangkan tutupnya pabrik tersebut. Unggahan foto tersebut kemudian dibagikan ramai-ramai di media sosial tanpa menunggu konfirmasi. Terlanjur viral, ternyata kabar tersebut tidak benar.

Pabrik Kopi Liong Bulan ternyata masih beroperasi seperti biasa. Hal tersebut dikonfirmasi oleh salah satu anak pemilik pabrik Kopi Liong Bulan, Sherly Fausta melalui akun Facebook di kolom komentar akun Facebook Pojok Bogor. Ia juga menambahkan bahwa unggahan foto pabrik kopi yang terlanjur viral di media sosial sebenarnya hanyalah salah satu agen Kopi Liong Bulan yang tutup. Ia juga menjamin bahwa stok kopi masih banyak, dan warga tidak perlu khawatir hingga memborong kopi karena takut kehabisan. Untuk sekadar diketahui, pusat pabrik Kopi Liong Bulan sebenarnya terletak di kawasan Nanggewer, Bogor.

Anak penerus pemilik pabrik Kopi Liong Bulan memberikan klarifikasi bahwa pabrik masih beroperasi secara normal. (Foto: Screenshot Facebook Pojok Bogor)

Berakhirnya rumor soal pabrik Kopi Liong Bulan yang tutup akhirnya membuat hati para pecinta kopi khas Bogor ini terasa lega. Selain disukai karena rasanya, kopi ini juga memiliki cerita yang menarik, yaitu kopi yang eksis selama tujuh dekade sejak 1945 lalu. Sulit untuk menelusuri sejarah lebih lanjut perihal kopi khas Bogor tersebut, sebab belum banyak media arus utama yang mengulasnya. Hanya satu yang pasti, produk Kopi Liong Bulan didirikan oleh warga Bogor Linardi Jap (1916-2004).

Meski dikenal sebagai kopi khas Bogor, ini juga sampai ke cangkir-cangkir penggemar kopi di Ibu Kota. Ada dua versi yang dijual, kopi tanpa gula dibungkus plastik warna coklat dan kopi dengan gula dibungkus dengan plastik warna biru. Harga yang ditawarkan juga sangat murah, hanya Rp 500 hingga Rp 1.000 rupiah per sachet.

Tertarik untuk mencobanya? Kopi Liong Bulan sangat mudah ditemukan di warung-warung kopi di Bogor, tak jarang kopi ini akan menjadi yang ditawarkan pertama oleh penjual. Namun bila malas berpergian ke Bogor, kini Kopi Liong Bulan juga sudah bisa dipesan secara online di media sosial atau di situs jual beli online lokal.

 

Menikmati Pesona Hutan Hujan Tropis dari Puncak Canopy Bridge

Indonesia ternyata memiliki tempat wisata berupa Canopy Bridge (Jembatan Tajuk) di Bukit Bangkirai yang terletak di Kutai Kartanegaram Kalimantan Timur. Jembatan ini merupakan Jembatan Tajuk pertama di Indonesia dan kedelapan di dunia. Dibuat oleh para ahli dari Amerika Serikat pada 1998, kabarnya jembatan ini mampu bertahan selama 15-20 tahun.

Penasaran, saya pun tertarik untuk mengunjunginya dari Balikpapan dengan menggunakan mobil. Di awal perjalanan jalur yang dilalui masih beraspal dan lancar, namun ketika memasuki daerah hutan jalur mulai berbatu. Untung pada hari itu cuaca cukup cerah, saya tidak bisa membayangkan bila turun hujan dan jalanan menjadi tergenang atau berlubang. Sebab mobil saya sempat terseok ketika melewati jalan berlubang yang tergenang oleh air bekas hujan semalam. Tantangan selama perjalanan ternyata tidak hanya jalan berlubang, terkadang ada pula jurang yang menganga di sisi jalan atau jalanan yang curam dan menikung. Pengemudi harus selalu waspada dengan memperhatikan setiap rambu-rambu yang ada.

Jalur menuju Bukit Bangkirai yang masih terbuat dari tanah dan batuan. (Foto: Lastboy Tahara S)

Hal yang menarik selama perjalanan adalah kita akan selalu diiringi oleh suara-suara serangga dan dikawal oleh pepohonan yang rimbun. Suasana hutan akan semakin terasa ketika kaca mobil dibuka. Merasakan desiran angin segar dari hutan Bangkirai. Di sana saya juga sempat melihat rumah-rumah warga sekitar yang masih berupa bangungan semi permanen. Jarak antar rumah juga masih berjauhan.

Sekitar 2 jam kemudian akhirnya saya sampai di gerbang wisata Bukit Bangkirai yang bertuliskan PT. Inhutani I. Sebelum memasuki kawasan hutan wisata, di sana terdapat pula tempat peristirahatan berupa rumah panggung dari kayu, tempat makan, dan penginapan. Fasilitas yang cukup baik menurut saya, pengunjung bisa istirahat sejenak setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari kota.

Tempat makan dan istirahat di kawasan wisata hutan Bukit Bangkirai (Foto: Lastboy Tahara S)

Untuk masuk ke area kawasan wisata hutan Bangkirai pengunjung harus membayar biaya sebesar Rp 6000 per orang untuk dewasa dan Rp. 4000 per orang untuk anak-anak. Sedangkan biaya untuk mencoba Canopy Bridge sebesar Rp. 25.000 per orang untuk pengunjung lokal dan Rp. 75.000 untuk turis mancanegara. Selain Canopy Bridge terdapat destinasi lain yang dikenakan biaya seperti Tree Walking Rope, Out Bound, Perahu Dayung, Flying Fox, dan yang lainnya.

Sedangkan akses menuju Canopy Bridge, pengunjung harus menempuh jarak 500 meter dari titik loket pendaftaran dengan berjalan kaki. Selama perjalanan saya melewati aneka pepohonan lebat, hanya sedikit sinar matahari yang mampu menembus hingga ke tanah melalui sela-sela dedaunan. Sesekali terdengar suara serangga yang nyaring. Benar-benar nuansa hutan yang asri.

Gapura Menuju Canopy Bridge (Foto: Lastboy Tahara S)

Beginilah track di kawasan wisata hutan Bukit Bangkirai, masih berupa tanah dan penuh dengan akar pohon yang menjalar. (Foto: Lastboy Tahara S)

Kekayaan pohonnya juga dijaga dengan baik. Di sepanjang jalan menuju Canopy Bridge pohon-pohon diberi nama disertai keterangan, sehingga pengunjung dapat belajar langsung tentang kekayaan pohon Kalimantan secara langsung. Salah satu yang unik adalah pohon Bangkirai, sebab kayunya terkenal kuat dan kualitasnya sangat baik sebagai bahan membuat furniture. Beberapa pohon Bangkirai yang berusia ratusan tahun dan telah roboh dibiarkan begitu saja dan diberi keterangan tentang pohon tersebut supaya bisa menjadi bahan pengetahuan bagi masyarakat.

Pohon Bangkirai berusia ratusan tahun yang dibiarkan tumbang dan tidak diangkut. (Foto: Lastboy Tahara S)

Setelah melewati track yang penuh dengan pepohonan, akhirnya saya sampai di lokasi Canopy Bridge. Di sana terdapat menara kayu setinggi 30 meter, itu lah akses untuk menaiki Canopy Bridge. Pada bagian puncak terdapat jembatan yang menghubungkan Menara dengan batang Pohon Bangkirai yang terdiri dari 3 lintasan, dan memiliki total panjang 64 meter.

Bila dilihat struktur jembatan amat kuat meski alasnya terbuat dari kayu, sebab dihubungkan dengan tali besi, tambang, dan jaring pengaman. Setiap kali melintas di jembatan, pengunjung dibatasi maksimal 2 orang sebagai standar keselamatan. Jarak antar dua penyeberang yang bersamaan juga diatur, yaitu lima meter antara satu orang dengan yang lain.

Menara Canopy Bridge di Bukit Bangkirai (Foto: Lastboy Tahara S)

Pemandangan pohon-pohon rimbun dari puncak Canopy Bridge (Foto: Lastboy Tahara S)

Ketika pertama kali mencoba awalnya biasanya saja, namun begitu sampai di tengah jembatan, angin yang berhembus membuat jembatan gantung ini bergoyang. Rasanya merinding, terlebih lagi bila sambil melihat ke bawah. Di atas jembatan saya juga dapat mengamati indahnya hutan Bangkirai yang luas. Pohon-pohonnya yang rimbun dan besar terasa amat spektakuler bila dilihat dari atas. Sesekali kicauan burung menemani setiap langkah saya.

Melihat nuansa hutan hujan tropis yang terasa alami, membuat saya tertarik untuk berhenti di setiap menara dan mengambil foto pohon-pohon yang menjulang. Saya harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, sebab pemberhentian setiap menara hanya dibatasi maksimal 8 orang dan bergantian. Sedangkan untuk pemberhentian di pohon hanya dibatasi maksimal 4 orang. Akan sangat beruntung bila pengunjung sedang sepi, waktu untuk berfoto bisa menjadi sedikit lebih lama.

Selain menyuguhkan pemandangan pepohonan yang rimbun, pengunjung yang beruntung juga berkesempatan melihat aneka burung-burung yang indah dari ketinggian. Canopy Bridge yang tingginya hampir mendekati puncak pohon juga membuat pengunjung dapat merasakan semilir angin segar dari hutan Kalimantan yang asri. Semoga konsep Canopy Bridge dapat ditiru daerah lain yang masih memiliki pesona hutan alami.

Dengan menjadikan hutan sebagai tempat wisata, masyarakat dapat belajar langsung mengenai hutan secara langsung. Memanfaatkan hutan sebagai sumber pendapatan daerah dari segi wisata jauh lebih baik daripada hanya menjadikannya sebagai tempat penghasil kayu atau spot perburuan hewan semata.

Page 1 of 2

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén