Lastboy

Suka jalan-jalan dan kuliner

Category: Video (Page 2 of 2)

Lumernya Keju Raclette Steak Bikin Ngiler

Di daerah Kembangan, Jakarta Barat, terdapat restaurant steak yang populer di instagram bernama Willie Brothers Steakhouse. Salah satu menu yang fenomenal adalah Raclette Steak, menu steak yang disajikan dengan keju meleleh di atasnya. Steak ini paling banyak dibagikan di instagram karena tampilannya yang menggiurkan.

Pertama kali mengunjungi Willie Brothers Steakhouse, saya disambut tata ruang dekorasi yang apik dan kental suasana natal. Ada lampu kerlap-kerlip dan hiasan natal yang serba merah, begitu juga dengan kursinya yang diikat pita kain merah. Saya belum tahu bagaimana dekorasi awalnya bila bukan saat natal.

Untuk mendapatkan pelayanan saya tidak perlu repot untuk menunggu, sebab selalu ada pelayan yang stand by. Mereka juga sangat apik dalam berkomunikasi dengan pelanggan, seperti memberikan sapaan atau menjelaskan menu-menu steak yang saya tidak begitu paham dengan istilahnya. Salut atas interaksi dan komunikasi mereka yang baik dengan pelanggan.

Setelah telunjuk saya berputar-putar di buku menu, ternyata pilihan tetap saja jatuh ke menu Raclette Steak yang menawan. Instagramable kalau anak muda kekinian mengatakannya. Secara visual saya suka, namun untuk segi rasa, saya tidak begitu ahli untuk menilai steak seperti apa yang enak. Maka dari itu saya tidak ambil pusing untuk memilih menu.

Tidak menunggu lama, Raclette Steak akhirnya sampai di meja saya. Salah seorang pelayan kemudian membawa potongan keju setengah lingkaran dan langsung menuangkannya di atas steak di depan saya. Mengesankan, lelehan keju raclette yang masih berasap dan meluncur ke daging steak sungguh menggoda selera. Saya jadi tidak sabar untuk segera menyantapnya selagi hangat.

Tampilan Raclette Steak di Willie Brothers Steakhouse (Foto: Lastboy Tahara S)

Karena saya awam soal steak, saya hanya bisa menilai bahwa steak ini enak secara awam pula. Kematangan dagingnya pas, empuk dan juicy. Mungkin saus steak yang mereka gunakan juga berperan. Kombinasi antara keju dengan steak baru pertama kali ini saya coba. Rasanya mengejutkan, ada perpaduan gurihnya keju dan smoky dari steak. Hanya saja bila terlalu lama, keju akan semakin padat dan mengental. Teksturnya menjadi lebih kenyal, tidak lagi leleh dan mudah dipisahkan dengan garpu.

Saya rasa, menu Raclette Steak masih akan tetap eksis, mengingat tren kuliner dengan keju masih booming di Jakarta. Terlebih lagi Willie Brothers Steakhose adalah restaurant pertama yang menyajikan menu Raclette Steak di Jakarta.

Bagi Anda yang penasaran untuk mencoba, langsung saja menuju Jalan Pesanggrahan Raya No. 9, Meruya Utara, Kembangan, Kota Jakarta Barat. Restaurant ini buka mulai dari jam 11.00 WIB – 23.00 WIB.

Lambatnya Bersepeda di Jalur CFD Jakarta

Di Jakarta aktifitas Car Free Day atau yang akrab disebut dengan CFD selalu menarik perhatian masyarakat. Setiap Minggu pagi ratusan warga Jakarta selalu memenuhi jalur khusus CFD untuk berolahraga. Saking ramainya aktifitas ini juga sering dipakai perusahaan untuk menyelenggarakan event yang berkaitan dengan olahraga dan tempat berkumpul. Terakhir kali saya mengikuti CFD Jakarta adalah saat mengikuti acara kantor, bukan berolahraga dan menyusuri jalan-jalan yang dibuat khusus CFD.

Saat ada kesempatan, saya langsung memutuskan untuk bersepeda ke area CFD di daerah Sudirman pada Minggu pagi. Saya bersiap dari Jalan Palmerah Barat sekitar pukul setengah 5 pagi. Memang sih masih gelap, tapi saya rasa itu adalah waktu yang tepat untuk bisa menikmati sensasi pagi di Jakarta. Dengan menggunakan sepeda standar Polygon Monarch 2.0 saya siap untuk memulai aktifitas CFD pertama saya di Jakarta.

Polygon Monarch 2.0

Polygon Monarch 2.0

Di sepanjang jalan, meskipun pagi masih gelap di Jakarta, aktifitas warganya masih ramai. Di sana saya masih sering menemui kendaraan berlalu-lalang, baik kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Bahkan di Jalan Palmerah Barat kendaraan angkot beroperasi 24 jam. Jadi jangan harap bahwa pagi hari di Jakarta benar-benar sejuk tanpa polusi.

Namun suasana ramai tersebut berubah ketika saya memasuki kawasan Stadion Gelora Bung Karno. Di sini masyarakat lebih memilih memarkirkan kendaraannya, lalu berolahraga di kawasan tersebut. Ada yang lari pagi, bersepeda, senam, atau sekedar meregangkan otot. Biasanya mereka berolahraga di dalam stadion untuk lari pagi, namun karena sedang direnovasi untuk Sea Games, stadion ditutup untuk sementara waktu.

Warga berolahraga di kawasan Stadion GBK | Foto: Lastboy Tahara .S

Warga berolahraga di kawasan Stadion GBK | Foto: Lastboy Tahara .S

Memasuki kawasan Sudirman jalanan sudah dipenuhi oleh warga yang sedang berolahraga. Di sini jalanan ditutup bagi kendaraan bermotor selama CFD, jadi warga bisa leluasa untuk berolahraga di sepanjang jalan. Suasana pagi yang menyenangkan, segar dan bebas polusi. Sangat berbeda bila kita mengunjunginya saat hari kerja, jalan penuh dengan kendaraan bermotor.

Ratusan warga memadati jalur CFD Jakarta untuk berolahraga

Ratusan warga memadati jalur CFD Jakarta untuk berolahraga | Foto: Lastboy Tahara .S

Hanya saja untuk bersepeda, saya rasa ini bukan lah tempat yang tepat. Di sini saya tidak bisa mengkayuh sepeda dengan cepat, sebab kawasan Jalan Sudirman terlalu padat oleh warga yang berolahraga. Saking padatnya, kadang saya harus menuntun sepeda tersebut. Baru lah ketika agak lengang, sepeda bisa dipacu agak cepat. Sepertinya saya harus mencari rute baru untuk bersepeda pagi-pagi di Jakarta.

Tapi pengalaman pertama saya menyusuri jalur-jalur khusus CFD kali ini sungguh menyenangkan. Bisa berolahraga dan menikmati suasana pagi di Jakarta. Memang hanya sehari, tapi lumayan lah daripada tidak sama sekali. Salut untuk penggagas ajang CFD di Jakarta, warga jadi bisa berolahraga pagi dengan bebas tanpa gangguan kendaraan bermotor dan polusi.

Tanamera Coffee Populerkan Biji Kopi Lokal ke Dunia

Saya akhirnya berkesempatan mengunjungi kedai kopi ternama di Jakarta, Tanamera Cofee. Bagi para penikmat kopi, nama kedai ini dikenal menggunakan 100% biji kopi lokal berkualitas dan sering memenangkan kompetisi kopi di tingkat internasional. Prestasi terakhir yang diraih Tanamera Coffee adalah menyabet medali emas di ajang Australian International Coffee Award (AICA) 2016 dengan biji kopi dari Gunung Malabar (Jawa Barat), Malabar Natural.

Ciri khas Tanamera Coffee memang ahli dalam menyajikan biji kopi lokal berkualitas. Jadi, Anda tidak perlu menanyakan apakah ada biji kopi yang di datangkan dari luar negeri. Mereka juga memiliki mesin roaster sendiri di Serpong, sehingga mampu menjaga kualitas biji kopi tanpa campur tangan perusahaan lain. Dengan tagline “Fresh Roast Artisant” mereka konsisten menyajikan biji kopi segar kepada konsumen.

Kedai kopi Tanamera memiliki beberapa cabang, dan yang saya kunjungi saat ini berada di Thamrin City Office Park, Jakarta Pusat. Berdiri diantara gedung perkantoran yang menjulang, kedai kopi ini tampil minimalis dengan pintu kaca dan jeruji besi di belakangnya. Bila sore tiba, di depan kedai kopi akan dipasang payung lebar untuk pengunjung yang menginginkan suasana outdoor.

Sedangkan untuk bagian indoor, pengunjung akan disambut aroma kopi saat memasuki ruangan. Pasalnya meja barista meracik kopi sangat dekat dengan pintu masuk. Selain itu kita bisa melihat langsung proses pembuatan kopi dari dekat, bagaimana mereka menyeduh kopi atau membuat latte art. Sedangkan di belakang barista berjejer rapi kantong-kantong biji kopi berwarna merah yang terbuat dari kertas.

Bagian Depan Tanamera Coffee (Thamrin) | Foto: Lastboy Tahara .S

Bagian Depan Tanamera Coffee (Thamrin) | Foto: Lastboy Tahara .S

Di sana saya memesan secangkir Cafe latte dan menu Wraps: Tuna Mayo. Untuk menu kopi, sebenarnya paling pas bila memesan single origin lokal seperti Malabar Natural, Rasuna Natural, Papua Wamena, Mandheling, dan yang lainnya. Single origin yang paling dicari di Tanamera adalah Rasuna Natural. Sedangkan yang paling susah dicari adalah Papua Wamena, karena lokasi produksi yang jauh dan sedikitnya penyuplai kopi di Papua. Informasi tersebut saya dapat dari karyawan logistik Tanamera Coffee (Thamrin), Septian Hadi.

Cafe Latte dari Tanamera Coffee | Foto: Lastboy Tahara .S

Cafe Latte dari Tanamera Coffee | Foto: Lastboy Tahara .S

Wraps Tuna Mayo dari Tanamera Coffee | Foto: Lastboy Tahara .S

Wraps Tuna Mayo dari Tanamera Coffee | Foto: Lastboy Tahara .S

Berbicara tentang kopi Papua Wamena membuat saya teringat dengan artikel Nurullah di Kompasiana yang berjudul “Kopi Emas dari Tanah Papua”. Di artikel tersebut ia membahas kopi Mungme Gold dari Papua yang mahal dan sulit ditemukan di luar Papua. Hal itu karena pengangkutan biji kopi dari petani ke koperasi harus menggunakan Helikopter. Biaya sewa Helikopter yang mencapai jutaan rupiah itu lah yang menyebabkan harga biji kopi ikut naik. Selain itu biji kopi juga hanya dijual di kawasan Mimika, sebab para petani kopi belum sanggup untuk memproduksinya dalam jumlah besar.

Bisa menikmati biji kopi Papua di Tanamera, saya rasa adalah hal yang luar biasa, karena kita tidak perlu repot jauh-jauh ke Papua untuk mendapatkannya. Mungkin bila saya berkunjung ke sana lagi, saya akan memesan manual brew Papua Wamena. Semoga makin banyak kedai kopi yang bangga menggunakan biji kopi lokal seperti Tanamera Coffee, supaya biji kopi lokal dikenal luas oleh masyarakat dunia.

Kira-kira biji kopi lokal apa lagi yang akan diangkat Tanamera? Kita tunggu saja.

One Fifteenth Coffee, Kedai Kopi Ternama di Jakarta

One Fifteenth Coffee merupakan salah satu kedai kopi ternama di Jakarta Selatan. Berdiri sejak Juni 2012 dengan konsep speciality coffee pertama di Jakarta, One Fifteenth Coffee masih eksis hingga sekarang. Prestasi tersebut dapat diraih karena Barista mereka mampu menjaga konsistensi rasa kopi dengan kualitas terbaik. Barista One Fifteenth Coffee terkenal dengan reputasinya yang baik, mereka dilatih terlebih dahulu selama beberapa bulan untuk memperoleh lisensi.

Barista One Fifteenth Coffee sedang melayani pelanggan (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Barista One Fifteenth Coffee sedang melayani pelanggan (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Daftar menu kopi yang mereka miliki juga unik, tidak hanya menuliskan nama kopi dan harganya, mereka juga menuliskan takaran yang terkandung di dalamnya. Misalnya untuk menu Mocha mereka menulisnya 1/15 kopi, 2/5 susu, 1/5 kopi dan 1/5 gula. Selain itu ada pula kopi yang disajikan menurut kategori seperti Filter Bar, Cold Drip, dan Tasting Flight.

Kopi di One Fifteenth Coffee memiliki rasa yang berbeda dengan kedai kopi lain di Indonesia. Dengan biji kopi pilihan dan tangan handal Barista mereka, Anda akan menemukan rasa kopi yang sesungguhnya. Misalnya bila Anda mencoba menu kopi tanpa gula, Anda akan menemukan rasa yang mirip buah atau asam.

Caffe' Latte, menu kopi dengan 1/5 kopi, 3/5 susu, dan 1/5 gula (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Caffe’ Latte, menu kopi dengan 1/5 kopi, 3/5 susu, dan 1/5 gula (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Selain kopi ada pula makanan ringan untuk teman ngopi seperti French Toast, Granola, Canele, Tekwan, dan yang lainnya. Sedangkan untuk makanan berat One Fiftenth Coffee lebih mengarah ke menu western seperti Poached Eggs, Scrambled Eggs, Bacon Burger, Pulled Beef Sandwich, dan yang lainnya. Menu makanan di One Fifteenth Coffee juga diawasi oleh Chef Arnold Poernomo, Chef yang pernah menjadi juri ajang pencarian pencarian bakat memasak di salah satu tv swasta.

Bacon Burger, salah satu menu makanan favorit di One Fifteenth Coffee (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Bacon Burger, salah satu menu makanan favorit di One Fifteenth Coffee (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Dari sisi dekorasi One Fifteenth Coffee tampil dengan desain minimalist dan kental dengan nuansa kayu. Area di dalamnya juga luas, ada beberapa meja kecil untuk 2 orang dan meja panjang yang bisa menampung hingga 5 orang. Di depan meja bar One Fifteenth Coffee juga terdapat beberapa biji kopi yang dibungkus apik dan dijual untuk pengunjung.

Biji kopi yang dibungkus rapi untuk dijual (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Biji kopi yang dibungkus rapi untuk dijual (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Untuk atmosfir di ruangannya, One Fifteenth Coffee tidak memutarkan musik untuk menghibur pengunjungnya. Hal ini lah yang membuat kedai kopi ini banyak dikunjungi orang-orang yang menikmati kopi sambil mengerjakan sesuatu. Suasana yang tidak terlalu gaduh oleh musik sangat disukai oleh mereka yang ingin berkonsentrasi.

Jejeran Meja Kayu di One Fifteenth Coffee (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Jejeran meja kayu di One Fifteenth Coffee (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Diskusi sambil menikmati kopi (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Diskusi sambil menikmati kopi (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Bagi Anda yang ingin mengunjungi One Fifteenth Coffee langsung saja ke Jalan Gandaria 1/63, Jakarta Selatan. Kedai kopi ini buka mulai dari jam 7 pagi hingga jam 9 malam. Selain di Jakarta, ada pula One Fifteenth Coffee Bali yang berada di Jalan Petitenget 51b, Potato Head Beach Club Complex, Seminyak, Bali.

Page 2 of 2

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén