Lastboy

Suka jalan-jalan dan kuliner

Category: Video (Page 2 of 3)

Menikmati Pesona Hutan Hujan Tropis dari Puncak Canopy Bridge

Indonesia ternyata memiliki tempat wisata berupa Canopy Bridge (Jembatan Tajuk) di Bukit Bangkirai yang terletak di Kutai Kartanegaram Kalimantan Timur. Jembatan ini merupakan Jembatan Tajuk pertama di Indonesia dan kedelapan di dunia. Dibuat oleh para ahli dari Amerika Serikat pada 1998, kabarnya jembatan ini mampu bertahan selama 15-20 tahun.

Penasaran, saya pun tertarik untuk mengunjunginya dari Balikpapan dengan menggunakan mobil. Di awal perjalanan jalur yang dilalui masih beraspal dan lancar, namun ketika memasuki daerah hutan jalur mulai berbatu. Untung pada hari itu cuaca cukup cerah, saya tidak bisa membayangkan bila turun hujan dan jalanan menjadi tergenang atau berlubang. Sebab mobil saya sempat terseok ketika melewati jalan berlubang yang tergenang oleh air bekas hujan semalam. Tantangan selama perjalanan ternyata tidak hanya jalan berlubang, terkadang ada pula jurang yang menganga di sisi jalan atau jalanan yang curam dan menikung. Pengemudi harus selalu waspada dengan memperhatikan setiap rambu-rambu yang ada.

Jalur menuju Bukit Bangkirai yang masih terbuat dari tanah dan batuan. (Foto: Lastboy Tahara S)

Hal yang menarik selama perjalanan adalah kita akan selalu diiringi oleh suara-suara serangga dan dikawal oleh pepohonan yang rimbun. Suasana hutan akan semakin terasa ketika kaca mobil dibuka. Merasakan desiran angin segar dari hutan Bangkirai. Di sana saya juga sempat melihat rumah-rumah warga sekitar yang masih berupa bangungan semi permanen. Jarak antar rumah juga masih berjauhan.

Sekitar 2 jam kemudian akhirnya saya sampai di gerbang wisata Bukit Bangkirai yang bertuliskan PT. Inhutani I. Sebelum memasuki kawasan hutan wisata, di sana terdapat pula tempat peristirahatan berupa rumah panggung dari kayu, tempat makan, dan penginapan. Fasilitas yang cukup baik menurut saya, pengunjung bisa istirahat sejenak setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari kota.

Tempat makan dan istirahat di kawasan wisata hutan Bukit Bangkirai (Foto: Lastboy Tahara S)

Untuk masuk ke area kawasan wisata hutan Bangkirai pengunjung harus membayar biaya sebesar Rp 6000 per orang untuk dewasa dan Rp. 4000 per orang untuk anak-anak. Sedangkan biaya untuk mencoba Canopy Bridge sebesar Rp. 25.000 per orang untuk pengunjung lokal dan Rp. 75.000 untuk turis mancanegara. Selain Canopy Bridge terdapat destinasi lain yang dikenakan biaya seperti Tree Walking Rope, Out Bound, Perahu Dayung, Flying Fox, dan yang lainnya.

Sedangkan akses menuju Canopy Bridge, pengunjung harus menempuh jarak 500 meter dari titik loket pendaftaran dengan berjalan kaki. Selama perjalanan saya melewati aneka pepohonan lebat, hanya sedikit sinar matahari yang mampu menembus hingga ke tanah melalui sela-sela dedaunan. Sesekali terdengar suara serangga yang nyaring. Benar-benar nuansa hutan yang asri.

Gapura Menuju Canopy Bridge (Foto: Lastboy Tahara S)

Beginilah track di kawasan wisata hutan Bukit Bangkirai, masih berupa tanah dan penuh dengan akar pohon yang menjalar. (Foto: Lastboy Tahara S)

Kekayaan pohonnya juga dijaga dengan baik. Di sepanjang jalan menuju Canopy Bridge pohon-pohon diberi nama disertai keterangan, sehingga pengunjung dapat belajar langsung tentang kekayaan pohon Kalimantan secara langsung. Salah satu yang unik adalah pohon Bangkirai, sebab kayunya terkenal kuat dan kualitasnya sangat baik sebagai bahan membuat furniture. Beberapa pohon Bangkirai yang berusia ratusan tahun dan telah roboh dibiarkan begitu saja dan diberi keterangan tentang pohon tersebut supaya bisa menjadi bahan pengetahuan bagi masyarakat.

Pohon Bangkirai berusia ratusan tahun yang dibiarkan tumbang dan tidak diangkut. (Foto: Lastboy Tahara S)

Setelah melewati track yang penuh dengan pepohonan, akhirnya saya sampai di lokasi Canopy Bridge. Di sana terdapat menara kayu setinggi 30 meter, itu lah akses untuk menaiki Canopy Bridge. Pada bagian puncak terdapat jembatan yang menghubungkan Menara dengan batang Pohon Bangkirai yang terdiri dari 3 lintasan, dan memiliki total panjang 64 meter.

Bila dilihat struktur jembatan amat kuat meski alasnya terbuat dari kayu, sebab dihubungkan dengan tali besi, tambang, dan jaring pengaman. Setiap kali melintas di jembatan, pengunjung dibatasi maksimal 2 orang sebagai standar keselamatan. Jarak antar dua penyeberang yang bersamaan juga diatur, yaitu lima meter antara satu orang dengan yang lain.

Menara Canopy Bridge di Bukit Bangkirai (Foto: Lastboy Tahara S)

Pemandangan pohon-pohon rimbun dari puncak Canopy Bridge (Foto: Lastboy Tahara S)

Ketika pertama kali mencoba awalnya biasanya saja, namun begitu sampai di tengah jembatan, angin yang berhembus membuat jembatan gantung ini bergoyang. Rasanya merinding, terlebih lagi bila sambil melihat ke bawah. Di atas jembatan saya juga dapat mengamati indahnya hutan Bangkirai yang luas. Pohon-pohonnya yang rimbun dan besar terasa amat spektakuler bila dilihat dari atas. Sesekali kicauan burung menemani setiap langkah saya.

Melihat nuansa hutan hujan tropis yang terasa alami, membuat saya tertarik untuk berhenti di setiap menara dan mengambil foto pohon-pohon yang menjulang. Saya harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, sebab pemberhentian setiap menara hanya dibatasi maksimal 8 orang dan bergantian. Sedangkan untuk pemberhentian di pohon hanya dibatasi maksimal 4 orang. Akan sangat beruntung bila pengunjung sedang sepi, waktu untuk berfoto bisa menjadi sedikit lebih lama.

Selain menyuguhkan pemandangan pepohonan yang rimbun, pengunjung yang beruntung juga berkesempatan melihat aneka burung-burung yang indah dari ketinggian. Canopy Bridge yang tingginya hampir mendekati puncak pohon juga membuat pengunjung dapat merasakan semilir angin segar dari hutan Kalimantan yang asri. Semoga konsep Canopy Bridge dapat ditiru daerah lain yang masih memiliki pesona hutan alami.

Dengan menjadikan hutan sebagai tempat wisata, masyarakat dapat belajar langsung mengenai hutan secara langsung. Memanfaatkan hutan sebagai sumber pendapatan daerah dari segi wisata jauh lebih baik daripada hanya menjadikannya sebagai tempat penghasil kayu atau spot perburuan hewan semata.

Lumernya Keju Raclette Steak Bikin Ngiler

Di daerah Kembangan, Jakarta Barat, terdapat restaurant steak yang populer di instagram bernama Willie Brothers Steakhouse. Salah satu menu yang fenomenal adalah Raclette Steak, menu steak yang disajikan dengan keju meleleh di atasnya. Steak ini paling banyak dibagikan di instagram karena tampilannya yang menggiurkan.

Pertama kali mengunjungi Willie Brothers Steakhouse, saya disambut tata ruang dekorasi yang apik dan kental suasana natal. Ada lampu kerlap-kerlip dan hiasan natal yang serba merah, begitu juga dengan kursinya yang diikat pita kain merah. Saya belum tahu bagaimana dekorasi awalnya bila bukan saat natal.

Untuk mendapatkan pelayanan saya tidak perlu repot untuk menunggu, sebab selalu ada pelayan yang stand by. Mereka juga sangat apik dalam berkomunikasi dengan pelanggan, seperti memberikan sapaan atau menjelaskan menu-menu steak yang saya tidak begitu paham dengan istilahnya. Salut atas interaksi dan komunikasi mereka yang baik dengan pelanggan.

Setelah telunjuk saya berputar-putar di buku menu, ternyata pilihan tetap saja jatuh ke menu Raclette Steak yang menawan. Instagramable kalau anak muda kekinian mengatakannya. Secara visual saya suka, namun untuk segi rasa, saya tidak begitu ahli untuk menilai steak seperti apa yang enak. Maka dari itu saya tidak ambil pusing untuk memilih menu.

Tidak menunggu lama, Raclette Steak akhirnya sampai di meja saya. Salah seorang pelayan kemudian membawa potongan keju setengah lingkaran dan langsung menuangkannya di atas steak di depan saya. Mengesankan, lelehan keju raclette yang masih berasap dan meluncur ke daging steak sungguh menggoda selera. Saya jadi tidak sabar untuk segera menyantapnya selagi hangat.

Tampilan Raclette Steak di Willie Brothers Steakhouse (Foto: Lastboy Tahara S)

Karena saya awam soal steak, saya hanya bisa menilai bahwa steak ini enak secara awam pula. Kematangan dagingnya pas, empuk dan juicy. Mungkin saus steak yang mereka gunakan juga berperan. Kombinasi antara keju dengan steak baru pertama kali ini saya coba. Rasanya mengejutkan, ada perpaduan gurihnya keju dan smoky dari steak. Hanya saja bila terlalu lama, keju akan semakin padat dan mengental. Teksturnya menjadi lebih kenyal, tidak lagi leleh dan mudah dipisahkan dengan garpu.

Saya rasa, menu Raclette Steak masih akan tetap eksis, mengingat tren kuliner dengan keju masih booming di Jakarta. Terlebih lagi Willie Brothers Steakhose adalah restaurant pertama yang menyajikan menu Raclette Steak di Jakarta.

Bagi Anda yang penasaran untuk mencoba, langsung saja menuju Jalan Pesanggrahan Raya No. 9, Meruya Utara, Kembangan, Kota Jakarta Barat. Restaurant ini buka mulai dari jam 11.00 WIB – 23.00 WIB.

Lambatnya Bersepeda di Jalur CFD Jakarta

Di Jakarta aktifitas Car Free Day atau yang akrab disebut dengan CFD selalu menarik perhatian masyarakat. Setiap Minggu pagi ratusan warga Jakarta selalu memenuhi jalur khusus CFD untuk berolahraga. Saking ramainya aktifitas ini juga sering dipakai perusahaan untuk menyelenggarakan event yang berkaitan dengan olahraga dan tempat berkumpul. Terakhir kali saya mengikuti CFD Jakarta adalah saat mengikuti acara kantor, bukan berolahraga dan menyusuri jalan-jalan yang dibuat khusus CFD.

Saat ada kesempatan, saya langsung memutuskan untuk bersepeda ke area CFD di daerah Sudirman pada Minggu pagi. Saya bersiap dari Jalan Palmerah Barat sekitar pukul setengah 5 pagi. Memang sih masih gelap, tapi saya rasa itu adalah waktu yang tepat untuk bisa menikmati sensasi pagi di Jakarta. Dengan menggunakan sepeda standar Polygon Monarch 2.0 saya siap untuk memulai aktifitas CFD pertama saya di Jakarta.

Polygon Monarch 2.0

Polygon Monarch 2.0

Di sepanjang jalan, meskipun pagi masih gelap di Jakarta, aktifitas warganya masih ramai. Di sana saya masih sering menemui kendaraan berlalu-lalang, baik kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Bahkan di Jalan Palmerah Barat kendaraan angkot beroperasi 24 jam. Jadi jangan harap bahwa pagi hari di Jakarta benar-benar sejuk tanpa polusi.

Namun suasana ramai tersebut berubah ketika saya memasuki kawasan Stadion Gelora Bung Karno. Di sini masyarakat lebih memilih memarkirkan kendaraannya, lalu berolahraga di kawasan tersebut. Ada yang lari pagi, bersepeda, senam, atau sekedar meregangkan otot. Biasanya mereka berolahraga di dalam stadion untuk lari pagi, namun karena sedang direnovasi untuk Sea Games, stadion ditutup untuk sementara waktu.

Warga berolahraga di kawasan Stadion GBK | Foto: Lastboy Tahara .S

Warga berolahraga di kawasan Stadion GBK | Foto: Lastboy Tahara .S

Memasuki kawasan Sudirman jalanan sudah dipenuhi oleh warga yang sedang berolahraga. Di sini jalanan ditutup bagi kendaraan bermotor selama CFD, jadi warga bisa leluasa untuk berolahraga di sepanjang jalan. Suasana pagi yang menyenangkan, segar dan bebas polusi. Sangat berbeda bila kita mengunjunginya saat hari kerja, jalan penuh dengan kendaraan bermotor.

Ratusan warga memadati jalur CFD Jakarta untuk berolahraga

Ratusan warga memadati jalur CFD Jakarta untuk berolahraga | Foto: Lastboy Tahara .S

Hanya saja untuk bersepeda, saya rasa ini bukan lah tempat yang tepat. Di sini saya tidak bisa mengkayuh sepeda dengan cepat, sebab kawasan Jalan Sudirman terlalu padat oleh warga yang berolahraga. Saking padatnya, kadang saya harus menuntun sepeda tersebut. Baru lah ketika agak lengang, sepeda bisa dipacu agak cepat. Sepertinya saya harus mencari rute baru untuk bersepeda pagi-pagi di Jakarta.

Tapi pengalaman pertama saya menyusuri jalur-jalur khusus CFD kali ini sungguh menyenangkan. Bisa berolahraga dan menikmati suasana pagi di Jakarta. Memang hanya sehari, tapi lumayan lah daripada tidak sama sekali. Salut untuk penggagas ajang CFD di Jakarta, warga jadi bisa berolahraga pagi dengan bebas tanpa gangguan kendaraan bermotor dan polusi.

Page 2 of 3

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén