Lastboy

Anak laki-laki terakhir, suka wisata, dan kuliner

Mengunjungi Pulau Samosir, Tanah Kelahiran Bangsa Batak

Setelah tinggal bertahun-tahun di pulau Jawa, akhirnya saya bisa mengunjungi tanah kelahiran bangsa batak, yaitu pulau Samosir, Sumatra Utara. Dan perjalanan ini adalah liburan saya pada bulan November lalu, tapi baru sempat saya tuliskan sekarang.

Singkat cerita saya berangkat ke Medan dengan pesawat dari Jakarta dengan lama penerbangan sekitar 2 jam 20 menit. Sesampainya di Bandara Kualanamu dan menuju pintu keluar, beberapa orang silih berganti menghampiri saya untuk menawarkan taxi. Saya heran kenapa tidak diatur tempat untuk menawarkan taxi, supaya lebih teratur dan aman dalam bertransaksi.

Taxi disana juga tidak menggunakan argo dan mobilnya berukuran besar seperti mobil travel, para penumpangnya pun tidak bisa satu penumpang satu mobil, kita harus berbagi kursi dengan penumpang lain dengan tujuan yang berbeda-beda pula, bila satu orang satu mobil akan dihitung carter. Satu mobil bisa diisi hingga 6 hingga 8 orang, sungguh sesak dan pengap. Karena tidak menggunakan argo saya langsung bertanya saja harga perjalanan dari Bandara ke pelabuhan Ajibata yaitu Rp 85.000 per orang.

Pemandangan di pelabuhan Ajibata (Foto: Lastboy Tahara S)

Pemandangan di pelabuhan Ajibata (Foto: Lastboy Tahara .S)

Kapal yang sedang berlabuh (Foto: Lastboy Tahara .S)

Kapal yang sedang berlabuh (Foto: Lastboy Tahara .S)

Tapi kalau dipikir-pikir memang murah, karena kalau carter bisa mencapai Rp 600.000 karena perjalanannya cukup jauh, yaitu 5 jam. Sebenarnya bisa juga menggunakan bis Sejahtera yang hanya Rp 40.000 per orang, tapi kita harus naik Bis Damri terlebih dahulu dari Bandara ke terminal Amplas dengan tiket Rp 15.000, baru sesampainya di terminal kita ambil bis Sejahtera. Agak ribet memang.

Perjalanan dari Bandara Kualanamu ke pelabuhan Ajibata memang lelah sekali, tapi ketika hampir menuju pelabuhan Ajibata saya disuguhi dengan pemandangan yang luar biasa keren. Tebing-tebing tinggi yang dihiasi pohon cemara dan indahnya danau toba membuat saya ingin lekas sampai dan menghirup udara segar disana. Untunglah saya duduk dekat jendela, jadi saya bisa menikmati pemandangan itu hingga tiba di pelabuhan.

Dari situ saya teringat sesuatu yang sangat penting dalam berwisata, yaitu kamera ! Padahal sejak di Jakarta saya sudah punya rencana untuk meminjam kamera milik kakak saya, tapi mau bagaimana lagi, kepala ini sudah terlanjur lupa. Hp saya memang ada kameranya, tapi hanya 2 Mega Pixel, ah sudahlah manfaatkan fasilitas yang ada saja. Yang penting bisa dipakai untuk dokumentasi.

Sesampainya di pelabuhan banyak kapal-kapal yang melayani jurusan ke pulau Samosir setiap jamnya. Dan di sekitar pelabuhan banyak sekali rumah makan berjejer yang menawarkan masakan khas batak, mulai dari mie Gomak, Saksang, Ikan Mas Arsik, Tombur-Tombur, dan yang lainnya.

Ikan Tombur-tombur yang kaya bumbu rempah (Foto: Lastboy Tahara .S)

Ikan Tombur-tombur yang kaya bumbu rempah (Foto: Lastboy Tahara .S)

Waktu itu saya memilih ikan tombur-tombur atau hidangan yang berupa ikan bakar yang disiram dengan bumbu yang kaya rempah. Rasa ikan bakarnya sangat nikmat, terlebih lagi hembusan angin segar dari danau Toba menambah sensasi dalam menikmati makan siang kali ini. Bumbu khas batak andaliman yang terdapat dalam sambal juga membuat ikan bakar terasa agak pedas dan ketir di lidah.

Perut sudah kenyang dan saatnya pergi ke Samosir. Kampung yang saya tuju terletak di desa Sirait, 3 jam dari pelabuhan. Karena masih ada waktu sekitar 30 menit saya memutuskan untuk masuk saja kedalam kapal, mengambil posisi yang nyaman sebelum penuh dengan penumpang lain.

Previous

Mom Milk Semarang, Kafe Susu dengan Nuansa Vintage

Next

Perjalanan Menuju Pulau Samosir, Banyak Indahnya!

2 Comments

  1. imelda

    rancak banaa

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén