Akhirnya saya bisa menceritakan kembali indahnya DanauToba dan Pulau Samosir. Memang jarak antara tulisan terakhir dan yang sekarang sangat jauh, tapi saya masih ingat pengalaman perjalanan itu di kepala.

Setelah saya mengarungi danau Toba selama 3 jam dengan kapal, tibalah saya diĀ  desa Sirait. Ketika turun dari kapal saya sudah disambut beberapa supir becak motor, mereka menawarkan setiap penumpang yang turun untuk menggunakan jasa mereka.

Sejauh mata memandang tidak ada transportasi umum seperti bis atau angkot, hanya becak motor. Bentuknya seperti becak pada umumnya, hanya saja tenaganya menggunakan sepeda motor yang ditempelkan di samping becak. Satu becak motor bisa menampung 3 penumpang dengan posisi 2 penumpang di dalam becak dan 1 penumpang berboncengan dengan supir.

Waktu itu hari sudah sore dan saya menikmati perjalanan ke kampung dengan menggunakan becak motor. Kebetulan waktu itu saya duduk berboncengan dengan pak supir, sehingga saya bisa leluasa menggerakkan kepala untuk menikmati pemandangan di sekitar kampung-kampung yang saya lewati, tak jarang hamparan sawah di kanan-kiri juga saya lewati. Selama perjalanan sesekali wajah saya diterpa hembusan angin sore, wah segar sekali rasanya. Suasana di sini benar-benar adem dan nyaman.

Tak lama kemudian sampailah saya di kampung tempat saya menginap. Di sana saya sangat takjub melihat rumah-rumah tradisonal, bangunannya masih asli. Berbentuk rumah panggung, rangka dan tiang dari kayu, serta atap yang berbentuk runcing. Di bawah rumah biasanya dijadikan kandang untuk hewan ternak.

Rumah adat Batak Toba (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)
Rumah adat Batak Toba (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Ada satu hal unik yang tak saya temukan di pulau Jawa, yaitu babi-babi yang berkeliaran! Di sini babi dipelihara dan dilepas begitu saja seperti memelihara kambing atau ayam. Babi dewasa hanya satu ekor yang saya temui, yang lainnya anak-anak babi yang berseliweran, berlari-lari kecil di depan rumah. Maklum, di sana babi memang dipelihara, dijual dan dikonsumsi.

Babi-babi berkeliaran di depan rumah
Babi-babi berkeliaran di depan rumah
Seekor babi dewasa di pinggir sawah
Seekor babi dewasa di pinggir sawah

Selain babi masyarakat juga memelihara ayam dan bebek. Mereka juga menangkap ikan pora-pora yang berasal dari danau Toba, ikannya sangat nimat sekali bila disantap dengan sambal. Kata mereka ikan pora-pora ini juga ciri khas ikannya danau Toba, selain dikonsumsi ikan pora-pora ini juga dijual. Para pembeli biasanya langsung datang ke kampung mereka menggunakan truk kecil.

Lalu ada lagi yang membuat saya penasaran, gimana ya rasanya melihat danau Toba dari pulau Samosir ? Setelah saya coba, ya ampun indah banget ! Kalau tidak ada ombak airnya terlihat jernih dan keindahan danau Toba begitu terasa. Karena kampung ini jauh dari kota atau pelabuhan ramai seperti Ajibata, air danau di sini bersih dan terkadang digunakan warga untuk mandi. Kalau di pelabuhan seperti Ajibata terlihat agak hitam airnya, karena sudah bercampur dengan limbah warga dan kotoran dari kapal.

Keindahan Danau Toba dari Pulau Samosir (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)
Keindahan Danau Toba dari Pulau Samosir (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)
Keindahan air Danau Toba yang tenang (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)
Keindahan air Danau Toba yang tenang (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Danau Toba juga terlihat sangat luas dengan bukit-bukit hijau yang mengelilinginya, sepi dan tentram. Saya benar-benar merasakan yang namanya jauh dari kebisingan kota, asap kendaraan yang bau, dan raungan knalpot dari berbagai macam kendaraan. Inilah rasanya menikmati keindahan alam yang dibuat oleh Tuhan, saya sangat bersyukur bisa menikmati karya Tuhan yang luar biasa.

Singkat cerita, satu hari sebelum meninggalkan pulau Samosir saya menghabiskan sore hari dengan duduk santai di pinggir danau Toba. Mencoba untuk menikmati sepuasnya dan mengingat semuanya. Setiap detil mulai dari airnya, deburan ombaknya, angin, warna pasirnya, dan keindahan danau serta bukit-bukitnya.

Danau-2BToba-2B3
Tak pernah bosan menikmati indahanya Danau Toba (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Menjelang matahari terbenam saya baru bisa meninggalkan tempat saya duduk, berat rasanya untuk bangkit dan berjalan meninggalkan semua keindahan itu. Tapi mau tidak mau saya harus kembali, karena hari semakin malam dan hembusan angin yang dingin semakin menggigit. Terlebih lagi saya harus mempersiapkan barang-barang untuk pulang keesokan harinya.

Semoga danau Toba dan pulau Samosir tetap indah. Masyarakatnya juga semakin sejahtera, damai, dan selalu dalam perlindungan Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *