Lastboy

Anak laki-laki terakhir, suka wisata, dan kuliner

Menikmati Serabi Cepu yang Legit dan Gurih

Bagi sebagian masyarakat di pulau Jawa, serabi merupakan menu sarapan yang sangat lezat di pagi hari. Kuliner ini semakin populer semenjak banyak diliput oleh media televisi dan ditulis oleh para food blogger. Kali ini saya ingin mengenalkan serabi dari daerah Cepu, Jawa Tengah.

Saya sendiri tidak begitu mengerti tentang serabi ini, apakah asli Cepu atau tidak, tapi yang pasti serabi ini memiliki bentuk dan tekstur yang berbeda dari serabi-serabi yang saya tahu, seperti serabi Bandung atau serabi Solo.

Sekitar pukul 5 pagi saya berkeliling Cepu denngan sepeda untuk mencari kuliner hangat. Awalnya saya tertarik dengan penjual nasi pecel yang berjejer di tepi jalan, nasi putih hangat yang mengepul dari bakul dan jejeran gorengan serta sambal pecel membuat saya untuk berhenti sejenak. Tapi karena perjalanan baru saja dimulai, saya menundanya dan bersepeda lebih jauh lagi, siapa tahu ada kuliner lain yang lebih lezat.

Tak lama kemudian saya menjumpai penjual serabi. Yang membuat saya berhenti adalah penjualnya yang hanya memakai satu meja untuk tempat kelapa dan dua tungku di bawah untuk memasak serabi, tempatnya kecil tapi yang beli lumayan banyak, sekitar enam orang. Yah kalau dilihat dari cara menjualnya, saya rasa empat orang sudah jumlah yang banyak, apalagi mereka mengantri sambil berdiri. Di sana saya memutuskan berhenti untuk membeli satu serabi ketan.

Meja Kecil Penjual Serabi

Meja Kecil Penjual Serabi

Sambil mengantri saya mengamati penjual serabi tersebut memasak  menggunakan tungku kayu bakar dan piring yang terbuat dari tanah liat. Cara memasaknya si penjual hanya menuang adonan santan ke piring tanah liat tadi, lalu ditutup dan ditunggu hingga matang menjadi serabi.  Untuk topingnya ditaburi kelapa yang sudah diparut, bubuk berwarna kemerahan, dan ketan. Semua disajikan di atas daun pisang.

Tungku Serabi

Tungku Serabi

Sabar menunggu akhirnya giliran serabi saya yang dibuat, memasaknya juga sebentar, sekitar 3 menit. Setelah matang baru saya menyadari bahwa serabi ini sangat berbeda dengan serabi yang sering saya lihat di televisi, seperti serabi Notosuman dan serabi Bandung. Serabi ini bentuknya polos dan lebih bundar, disampingnya  juga tidak ada kulit tipis seperti serabi Notosuman  dan banyak warna serta varian rasa seperti serabi Bandung. Ciri khas serabi ini memiliki toping kelapa, bubuk berwarna merah dan ketan, rasa kelapa sangat dominan di serabi itu. Ketannya juga sangat enak, legit dan gurih. Untuk bubuk yang berwarna kemerahan saya tidak tahu terbuat dari apa, tapi ada rasa pedas yang tipis.

Serabi Cepu

Serabi Cepu

Terbayar sudah mengantri serabi itu, menikmati pagi yang dingin dengan satu serabi ketan hangat. Puas ? Tentu saja, semoga bisa mampir lagi ke sana bila berkunjung ke Cepu. Untuk alamatnya saya lupa, tapi ada satu petunjuk yang saya ingat, serabi itu terletak di depan Toko Surya.

Previous

Pantai Pandawa, Pantai Mempesona Lain di Bali

Next

Berkat Teknologi Fracking, Amerika Menjadi Produsen Minyak Terbesar di Dunia

3 Comments

  1. Hastira

    unik ya serabinya. banyak kekayaan kuliner indonesia yang enak

  2. Yulia

    Wah, kapan-kapan main ke Bandung ya.. banyak kuliner surabi juga tuh

  3. Yudistira

    bubuk warna kemerahan biasanya bubuk kedelai…

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén