Lastboy

Suka jalan-jalan dan kuliner

Page 2 of 23

Indahnya Bangunan Warna-warni ala Kampung Eropa di Devoyage Bogor

Spot wisata populer di Bogor kini tak hanya kawasan Puncak. Sebab ada destinasi wisata baru yang hit di media sosial bernama Devoyage Bogor. Di sini pengunjung dapat merasakan suasana ala kampung Eropa dengan aneka rumah warna-warni. Ada pula bangunan-bangunan ikonik khas Eropa seperti miniatur Menara Eiffel, Kincir Angin ala Belanda, dan Gondola ala Venesia.

Tempat wisata yang memiliki luas 1,5 hektare ini memiliki banyak spot swafoto berupa bangunan-bangunan bergaya Eropa. Misalnya saja seperti rumah yang beratap miring dan tinggi serta jendela-jendela yang berukuran besar. Miniatur Menara Eiffel adalah spot swafoto favorit pengunjung. Terletak di tengah-tengah kali buatan, desain kerangka Menara Eiffel ini tampak seperti aslinya. Bila menjelang malam, menara akan tampak cantik dengan lampu yang berkilauan.

Suasana kampung ala Eropa dengan rumah-rumah beratap miring dan berjendela besar. (Foto: Lastboy Tahara S)

Miniatur Menara Eiffel di Devoyage Bogor

Miniatur Menara Eiffel di Devoyage Bogor. (Foto: Lastboy Tahara S)

Salah satu spot yang mirip kampung Eropa, lengkap dengan jalan setapak, lampu jalan klasik gaya Victoria, dan rumah-rumah khas Eropa yang berjejer. (Foto: Lastboy Tahara S)

Selain asyik untuk swafoto,  Devoyage Bogor juga menyuguhkan aneka wahana yang menambah kesan nyata tinggal di Eropa. Yang paling menarik perhatian adalah wahana perahu dayung berwarna-warni bak di Venesia. Di sini pengunjung dapat menyewanya senilai Rp 40 ribu untuk dua kali putaran. Dengan desain ramping dan panjang, satu perahu dapat menampung dua orang dewasa.

Setelah pengunjung dirasa siap, perahu bisa langsung didayung menyusuri kali buatan. Rute yang dilalui perahu cukup menarik, pengunjung akan dibawa melewati bangunan-bangunan khas Eropa seperti Menara Eiffel, rumah kincir angin khas Belanda, dan rumah warna-warni.

Gondola ala Venesia melintasi rumah warna-warni di Devoyage Bogor. (Foto: Lastboy Tahara S)

Satu scoop Gelato untuk menemani jalan-jalan mengelilingi area Devoyage (Foto: Lastboy Tahara S)

Puas menikmati wahana di Devoyage, jangan lupa untuk mencicipi aneka kulinernya. Menu yang populer berupa masakan ala barat seperti pizza, pasta, varian steak, fish & chips, sea food, dan yang lainnya. Ingin sesuatu yang dingin dan manis? Di sini juga tersedia menu gelato dengan berbagai varian rasa.

Bila ingin mengunjungi Devoyage Bogor, Anda hanya perlu menyiapkan uang tiket masuk sebesar Rp 25 ribu untuk hari biasa dan Rp 35 ribu saat akhir pekan. Sedangkan untuk alamatnya terletak di Jalan Boulevard Bogor Nirwana Residence Mulyaharja Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. Untuk lebih jelas Anda bisa menggunakan panduan peta berikut ini. Jadwal buka Devoyage Bogor dimulai dari pukul 10.00 WIB – 18.00 WIB.

Ngopi Sambil Menikmati Panorama Alam di Pondok Kopi Umbul Sidomukti

Mudik ke Semarang paling asyik mengunjungi kafe Pondok Kopi Umbul Sidomukti. Kafe yang terletak di Bandungan ini menawarkan keindahan panorama alam dari kaki Gunung Ungaran. Meski lokasinya lumayan jauh dari pusat Kota Semarang, kafe ini selalu ramai dikunjungi oleh para muda-mudi.

Kafe Pondok Kopi memiliki dua jenis ruangan, yaitu indoor dan outdoor. Di bagian indoor terbagi lagi menjadi dua lantai. Untuk lantai pertama kita akan disambut dengan ruangan bernuansa kayu dan klasik. Meja-meja yang terbuat dari kayu besar tampak tersusun dengan rapi, masing-masing dapat menampung 4 hingga 6 orang.

Sedangan untuk ruangan indoor di lantai dua, desain ruangannya masih menggunakan tema kayu. Hanya saja suasananya tampak lebih terang karena didesain tanpa dinding, membuat cahaya matahari dapat leluasa untuk masuk dalam ruangan. Melalui dinding yang terbuka itu lah pengunjung dapat menikmati kopi sambil memandangi alam dari ketinggian.

Suasana lantai 2 di Pondok Kopi Umbul Sidomukti dengan pemandangan terbuka. (Foto: Lastboy Tahara S)

Bila ingin menikmati pemandangan alam lebih jelas, paling asyik memilih ruangan outdoor yang terletak di bagian depan kafe. Bentuknya berupa taman kecil yang dikelilingi rerumputan hijau dan terdapat pohon palem di setiap meja. Di sini kita juga dapat melihat lereng Gunung Ungaran yang ditumbuhi pepohonan hijau. Karena Pondok Kopi terletak di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut, hawa dingin akan amat terasa bila kita memilih ruangan outdoor.

Suasana outdoor di Pondok Kopi Umbul Sidomukti dengan panorama lereng Gunung Ungaran. (Foto: Lastboy Tahara S)

Bagian outdoor tampak cantik dan asri dengan pohon palem di setiap meja. (Foto: Lastboy Tahara S)

Saat sore tiba, suasana berubah menjadi hangat dengan nyala lampu-lampu kuning yang temaram. Pemandangan panorama alam di luar juga tampak kalem dengan cahaya langit yang semakin meredup dan berwarna kekuningan. Hingga akhirnya semuanya tertutup oleh kabut dan menyisakan malam gelap yang dihiasi kerlap-kerlip lampu kota Semarang dari kejauhan. Dengan menawarkan suasana panorama alam yang luar biasa, setiap sesapan kopi menjadi istimewa.

speciality coffee di Pondok Kopi Umbul Sidomukti

Ini yang dicari di Pondok Kopi Umbul Sidomukti, ngopi santai sambil menikmati panorama alam. (Foto: Imelda S)

Selain menyajikan menu kopi sebagai andalannya, kafe Pondok Kopi juga menyajikan menu minuman lain seperti teh, wedang jahe, bajigur, coklat hangat dan yang lainnya. Bila perut terasa lapar, kita dapat memesan aneka makanan ringan atau berat seperti roti bakar, kentang goreng, singkong goreng, nasi goreng, mie goreng, dan masih banyak lagi. Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau, setiap menunya hanya di kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu.

Bagaimana, tertarik untuk mengunjungi Pondok Kopi? Meski sedikit jauh dari pusat Kota Semarang, informasi jalan menuju Umbul Sidomukti sangat mudah untuk dipahami. Dari Semarang Anda bisa mengikuti rute Jl. Semarang – Surakarta atau Jl. Semarang – Yogyakarta menuju Jl. Jimbaran. Harap diperhatikan, ketika mendekati Pasar Jimbaran ambil rute ke kanan memasuki desa Sidomukti.

Ketika di desa, kondisi jalan mulai agak menyempit, Anda harus bersabar saat berpapasan dengan kendaraan lain. Anda bisa saja menggunakan aplikasi google maps untuk menuju ke sana, tapi bila Anda bingung dengan banyaknya jalan kecil, jangan ragu untuk bertanya jalan pada penduduk setempat. Setelah memasuki kompleks wisata Umbul Sidomukti, langsung saja ikuti petunjuk jalan yang menuju Pondok Kopi Umbul Sidomukti.

Sedikit saran, untuk suasana terbaik datanglah ketika pagi atau menjelang sore, cuacanya sudah tidak terik dan mulai dingin. Jumlah pengunjung juga masih relatif sepi, sebab ketika mendekati malam sudah mulai ramai. Takutnya Anda tidak dapat memilih posisi tempat duduk yang nyaman untuk melihat pemandangan alam. Sayang bukan, bila jauh-jauh ke Pondok Kopi tapi malah ngopi sambil memandang tembok?

Jam buka Pondok Kopi dimulai dari Jam 08.00 WIB hingga 24.00 WIB. Alamat lengkap: Desa Sidomukti, Jl. Goa Jepang, Jimbaran, Bandungan, Jimbaran, Bandungan, Semarang, Jawa Tengah. Untuk mempermudah, peta jalan menuju Pondok Kopi Umbul Sidomukti dari Semarang, bisa klik di sini.

Segarnya Wisata Curug Undak Dua di Sukabumi

Tulisan sebelumnya: Merasakan Sensasi Menyatu dengan Alam di Camp Bravo

Usai membersihkan badan dan tampil segar, saya kemudian bersiap menuju wisata air terjun bernama Curug Undak Dua. Curug ini dikenal dengan airnya yang segar dan jernih. Untuk menuju ke sana, saya berjalan kaki dari lokasi camping. Aksesnya sangat mudah, cukup mengikuti rute jalan setapak yang sudah dibuat oleh warga.

Selama berjalan kaki, trek yang dilalui lumayan berat dengan jalan setapak berbatu. Sesekali langkah kaki akan terasa berat karena harus melewati jalan yang menanjak. Meski lelah, selama jalan kaki kami disuguhi pemandangan alam yang amat indah. Terdapat lembah-lembah dengan pepohonan hijau dan sawah-sawah yang membentang.

Panorama alam selama perjalanan menuju Curug Undak Dua. (Foto: Lastboy Tahara S)

Semakin jauh melangkah, saya pun memasuki kumpulan pohon pinus yang menjulang. Dikelilingi pepohonan terasa amat spektakuler bagi saya, sebab suasana alam seperti ini yang tidak ada di kota. Saya kemudian merogoh kamera untuk mendokumentasikan pengalaman ini, walau cahayanya cukup gelap karena tertutupi oleh pohon dan dedaunan.

Kumpulan pohon pinus sebelum menuju lokasi Curug Undak Dua (Foto: Lastboy Tahara S)

Usai mendokumentasikan suasana kumpulan pohon pinus, saya pun melanjutkan perjalanan. Tak terasa saya telah berjalan kaki selama 30 menit, kemudian suara gemuruh air sayup-sayup mulai terdengar. Makin jauh melangkah, sampailah saya di lokasi Curug Undak Dua. Cukup susah untuk menuju ke sana rupanya, harus menuruni jalan setapak yang lumayan terjal. Namun inilah alam, segala tantangannya menjadi bumbu dalam perjalanan untuk dikenang.

Tepat di lokasi Curug Undak Dua suara gemuruh air makin kencang. Aliran air ini mengalir dari ketinggian sekitar 6 meter dengan debit air yang luar biasa. Kemudian di sekitar curug terdapat batu-batu besar yang dapat digunakan pengunjung untuk sekadar duduk-duduk atau bersantai. Beberapa pengunjung juga terlihat menceburkan diri ke dalam air dan berswafoto.

Tak ingin ketinggalan, saya dan rekan-rekan yang lain bergegas menceburkan diri ke dalam air. Pertama sempat kaget dengan suhu air yang amat dingin, tapi lama-lama terbiasa juga. Beberapa rekan saya bahkan sudah berani untuk menceburkan dirinya hingga kepala. Selain menyegarkan, air di Curug Undak Dua juga sangat jernih, hingga bebatuan di dasarnya tampak terlihat jelas. Sesekali air berkilau seperti Kristal akibat pantulan sinar matahari.

Menikmati kesegaran air Curug Undak Dua. (Foto: Lastboy Tahara S)

Jernihnya air di Curug Undak Dua, bebatuan di dasarnya sampai terlihat jelas. (Foto: Lastboy Tahara S)

Puas menikmati air terjun, kami kemudian berswafoto untuk mengabadikan moment. Setelah itu kami kembali menuju tempat kemah dengan berjalan kaki sambil bersenda-gurau. Sungguh pengalaman yang menyenangkan, menikmati keindahan alam yang masih asri. Semoga lokasi wisata ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah, sehingga lokasi wisata Curug Undak Dua semakin ramai dan dapat memajukan perekonomian warga di sekitarnya.

Perjuangan Berbuah Manis, Tim Semar UGM Lolos Final DWC 2018 di Inggris

Tim Semar UGM (seragam merah) bersama tim mahasiswa lain dari Indonesia. (Foto: Flickr Shell Eco-marathon)

Di dunia yang kini dituntut serba cepat, manusia harus bijak untuk menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Sebab pasokan minyak bumi di dunia kini semakin berkurang seiring kebutuhan akan transportasi yang kian meningkat.

Di Indonesia misalnya, berdasarkan laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) cadangan minyak bumi Indonesia kini hanya tersisa 3,3 miliar barel. Bila tidak ditemukan sumber minyak baru, cadangan minyak Indonesia diprediksi akan ludes dalam 11 hingga 12 tahun ke depan.

Perusahaan minyak dan gas multinasional asal Amerika, Shell, juga menaruh keprihatinan akan kebutuhan sumber energi dunia. Mereka kemudian menciptakan sebuah kampanye bernama “Make the Future”. Kampanye ini berupa acara festival untuk mendukung ide-ide brilian atau inovasi dari masyarakat dalam menjawab tantangan energi dunia dan menyediakan ruang untuk berkolaborasi.

Inovasi tentang energi masa depan ini kemudian dapat diaplikasikan dalam program Shell Eco-marathon, sebuah kompetisi merancang kendaraan bermotor dengan energi yang efisien. Artinya kompetisi ini dinilai berdasarkan seberapa jauh mobil dapat melaju dengan sedikit bahan bakar. Untuk pesertanya, Shell Eco-marathon diikuti oleh ratusan mahasiswa dari seluruh dunia.

Dalam ajang Shell Eco-marathon juga terdapat ajang Drivers World Championship yang juga merupakan bagian dari festival Make The Future. Ajang ini merupakan adu cepat pengemudi mobil hemat energi.

Shell Eco-marathon 2018 kali ini diadakan di tiga benua berbeda, yaitu Asia, Amerika dan Eropa. Untuk regional Asia, ajang ini telah dilaksanakan pada 8 – 11 Maret 2018 di Singapura. Tim asal Indonesia tampil memukau dengan menguasai lima besar kategori UrbanConcept.

TIM SEMAR UGM RAIH JUARA “DRIVERS WORLD CHAMPIONSHIP ASIA 2018”

Kemudian untuk Drivers World Championship 2018 tingkat Asia, pemenangnya diraih oleh SEMAR URBAN UGM INDONESIA (Universitas Gadjah Mada). Pada ajang tersebut mereka menggunakan mobil berkonsep urban berbahan bakar bensin.  Tampil dengan warna body mobil serba hitam bernomor 507, mobil rancangan mereka melesat meninggalkan pebalap DWC Asia lainnya.

Kompetisi DWC ini memiliki gengsi tersendiri dalam ajang Shell Eco-marathon. Mobil yang dirancang tidak hanya soal kecepatan, tapi juga efisiensi energi. Selain itu diperlukan juga skill khusus dari pengemudi untuk mengendalikan mobil. Sebab pengemudi lah yang mengontrol kecepatan saat berada di lintasan, bahkan teknik pengereman juga diperhitungkan untuk menghemat energi.

Kemenangan SEMAR URBAN UGM ini ternyata merupakan pencapaian tertinggi selama mengikuti Shell Eco-marathon. Tahun 2017 lalu mereka tidak berhasil mencatatkan diri sebagai juara dalam DWC Asia. Saat itu, juga merupakan penampilan pertama mereka setelah 4 tahun vakum dari Shell Eco-marathon Asia.

Kini perjuangan mereka berbuah manis, pada penampilan kedua mereka memenangi DWC 2018 di Singapura dan melaju ke final untuk bersaing dengan tim-tim terbaik dunia. Untuk mengetahui lebih lanjut soal kemenangan tim SEMAR URBAN UGM INDONESIA, saya melakukan wawancara eksklusif dengan ketua tim mereka, Antonius Adhika, melalui aplikasi chatt Line. Kesempatan wawancara ini saya dapatkan setelah memohon izin melalui akun Line resmi SEMAR UGM.

WAWANCARA BERSAMA KETUA TIM SEMAR UGM

TIM SEMAR UGM ini hanya diisi oleh mahasiswa dan satu dosen pembimbing. Sungguh luar biasa, di sela-sela kesibukan untuk kuliah, mereka masih sempat untuk menciptakan cikal bakal mobil masa depan. Berkat perjuangan mereka, nama Indonesia harum di kancah internasional. Saya dan Anda tentu juga merasa bangga atas pencapaian mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh ketua tim SEMAR UGM, Antonius Adhika, yang merasa bangga atas kerhasilan timnya menyabet juara DWC 2018. Terlebih lagi, ia juga akan membawa nama UGM dan Indonesia untuk mewakili Asia dalam Make The Future di Inggris.

“Tentu senang dan bangga atas raihan kemarin mas. Selain karena meraih juara pertama, kami boleh melaju ke tahap selanjutnya mewakili Asia di babak grand final di Inggris, Juli nanti,” ungkapnya saat saya hubungi melalui Line, Selasa (24/4/2018).

Pada Shell Eco-marathon 2018 kali ini tim SEMAR URBAN UGM memboyong 2 mobil hemat energi, yaitu SEMAR PROTO ELECTRIC dan SEMAR URBAN GASOLINE. Untuk mobil SEMAR PROTO ELECTRIC, mereka harus puas dengan juara 4 untuk kategori proto battery-electric Asia.

Sedangkan untuk SEMAR URBAN GASOLINE, mobil berbahan bakar bensin ini berhasil menyabet juara 2 dalam kategori Internal Combustion Engine atau mesin pembakaran dalam. Mobil ini pula lah yang membawa SEMAR URBAN UGM menjuarai DWC 2018 tingkat Asia.

Tim sedang mempersiapkan mobil SEMAR URBAN GASOLINE di luar lintasan. (Foto: Antonius Adhika)

Mobil Semar Urban Gasoline saat berada di lintasan dengan nomor 507. (Foto: Flickr Shell Eco-marathon)

“Kami menggunakan mesin bensin. Untuk berat mobil kemarin 98 kilogram dengan coefficient of drag body mobil 0.2 (Besaran dimensi untuk mengukur hambatan dari segi aerodinamis),” terangnya saat menjelaskan mobil untuk DWC.

Keberhasilan SEMAR URBAN UGM memenangkan kompetisi ini juga terletak pada kegigihan mereka untuk terus berinovasi. Mobil SEMAR URBAN GASOLINE sebenarnya sudah pernah diikutkan pada Shell Eco-marathon 2017. Saat itu mobil ini hanya mampu melaju dengan kecepatan 186 kilometer per liter pada kategori UrbanConcept dengan pembakaran mesin dalam.

Dirasa performanya masih kurang, mereka kemudian melakukan pembaruan pada generasi mobil selanjutnya dengan merubah desain body mobil. Hasilnya mobil terbaru mereka mampu melaju dengan kecepatan 267 kilometer per liter dengan kategori yang sama seperti tahun lalu.

“Menurut saya faktor terpenting adalah persiapan yang lebih matang. Mobil yang kami lombakan di Singapura kemarin adalah mobil generasi terbaru kami dengan desain baru yang lebih aerodinamis, rigid, dan ringan,” terang mahasiswa Teknik Mesin UGM ini.

Salah satu poin penting yang tak boleh ditinggalkan adalah kemenangan yang mereka raih bukan sekadar mengandalkan kendaraan yang sudah dirancang. Namun juga orang yang berada di balik kendaraan tersebut, yaitu pengemudi SEMAR URBAN GASOLINE, Tito Setyadi Wiguna. Berkat dia mobil dapat dikendalikan secara gesit tapi tetap aman dan irit di atas lintasan.

“Driver kami Tito Setyadi Wiguna, mahasiswa teknik mesin UGM juga mas. Faktor gaya mengemudi driver sangat berpengaruh dalam mencapai hasil kemarin, selain tentunya faktor teknis dari mobil itu sendiri,” ungkapnya.

Tito Setyadi Wiguna (baju putih) pengemudi SEMAR URBAN GASOLINE (Foto: Flickr Shell Eco-marathon)

Tim SEMAR UGM sedang merayakan kemenangan DWC Asia 2018 (Foto: Flickr Shell Eco-marathon)

Kini setelah memenangkan DWS tingkat Asia, Dhika dan kawan-kawan masih harus berjuang kembali. Mereka hanya diberi waktu sekitar satu atau dua bulan untuk mempersiapkan mobil yang akan diberangkatkan ke Inggris. Untuk mengejar waktu, maka persiapan hanya berupa perbaikan minor pada rangka dan sistem pengereman.

“Waktu persiapannya sempit mas. Akhir Mei mobil sudah harus dikirim ke Inggris,” tutupnya.

Tim Indonesia Kuasai Podium untuk Kategori UrbanConcept

Selain tim SEMAR UGM yang tampil sebagai pemenang dan membawa nama harum Indonesia di DWC tingkat Asia, posisi selanjutnya diraih oleh ITS Team 2 dan GARUDA UNY ECO TEAM. Ketiga tim asal Indonesia ini akan melaju ke babak Final DWC di London, Inggris, yang berlangsung pada 5-8 Juli 2018. Mereka akan bersaing dengan tim terbaik dari Amerika dan Eropa.

Sedangkan untuk kategori UrbanConcept, tim mahasiswa Indonesia mendominasi peringkat lima besar. Pada kategori ini mereka ditantang untuk merancang mobil hemat energi yang mirip dengan mobil perkotaan. Bentuk mobil dalam kategori UrbanConcept harus menggunakan empat roda dan memenuhi fitur kelengkapan berkendara di jalan raya seperti spion, lampu kendaraan, dan bagasi.

Untuk kategori UrbanConcept dengan internal combustion atau mesin pembakaran dalam, lima posisi teratas ditempati oleh ITS Team 2 (ITS), SEMAR URBAN UGM INDONESIA (UGM), GARUDA UNY ECO TEAM (UNY), Sadewa (UI), dan Bengawan Team 2 (UNS). Dominasi kejuaraan juga terjadi untuk mesin mobil dengan energi listrik, hanya saja tidak ada tim Indonesia yang menempati posisi pertama.

Berikut tabel posisi para pemenang untuk kategori UrbanConcept:

Daftar penerima UrbanConcept Awards Shell Eco-marathon 2018 di Singapura. Klik pada gambar untuk melihat gambar lebih besar dan jelas. (Foto: www.shell.com)

Dengan prestasi para mahasiswa Indonesia yang gemilang dalam ajang Shell Eco-marathon tingkat Asia, semoga dapat menginspirasi para profesional yang bergerak di bidang energi dan teknologi. Bukan hal yang tak mungkin, bila ide-ide para anak muda Indonesia ini menjadi cikal bakal terciptanya kendaraan dengan energi masa depan yang efisien dan ramah lingkungan.

Sudah saatnya bagi dunia untuk mengurangi kendaraan dengan menggunakan bahan bakar fosil yang kerap menimbulkan polusi udara dan tak dapat diperbaharui. Pemanasan global merupakan contoh nyata dari penggunaan bahan bakar fosil yang makin tak terkendali.

Maka dengan munculnya alternatif energi masa depan yang rendah karbon, dapat meredam penyebaran polusi dan merawat bumi lebih baik. Semoga ajang Shell Eco-marathon dapat terus berlanjut dan memunculkan banyak inovasi untuk menjawab berbagai tantangan energi dunia yang masih belum terpecahkan. Tak lupa juga untuk PT. Shell Indonesia, semoga dapat terus mendukung anak Indonesia berprestasi di kancah internasional, khususnya di bidang energi dan otomotif.

Semangat Indonesia! Semoga menang di Final Drivers World Championsip 2018 di London, Inggris.

 

Referensi dan foto:

Page 2 of 23

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén