Lastboy

Suka jalan-jalan dan kuliner

Page 3 of 22

Makanan Populer “Fish and Chips” Dulu Hanya Dinikmati Masyarakat Kelas Bawah

Satu porsi fish and chips (Foto: www.lastboytahara.com)

Fish and chips merupakan makanan khas Inggris. Makanan ini terdiri dari ikan filet putih yang digoreng dengan tepung dan dimakan bersama kentang goreng. Biasanya dinikmati sambil dicocol dengan saus tartar atau sambal. Makanan ini juga populer di Jakarta, terutama di resto-resto seafood menengah ke atas. Namun siapa sangka, fish and chips yang sering tersaji dengan harga yang lumayan mahal ini, dahulu merupakan makanan kelas menengah ke bawah di Inggris.

Seperti dikutip dari laman Telegraph.co.uk, fish and chips tersaji untuk kaum menengah ke bawah dalam buku karya Dickens yang berjudul A Tale of Two Cities pada tahun 1859. Kemudian jurnalis Henry Mayhew mengutip dari buku tersebut dan menyebutnya sebagai makanan orang miskin pada tahun 1861. Kala itu fish and chips juga dipandang sebagai ciri makanan kelas pekerja.

Kemudian pada tahun 1931 fish and chips menjadi makanan semua orang dan banyak dicari, karena pada zaman itu adalah masa perang dunia kedua. Banyak orang yang mengantri untuk makanan ini. Tak hanya masyarakat sipil, para tentara teritorial juga berebut di tenda katering khusus di kamp pelatihan pada tahun 1930-an.

Setiap toko fish and chips juga selalu ramai, sebab ikan dan kentang termasuk makanan yang tidak masuk program penjatahan pada masa perang. Saat itu orang bahkan rela untuk antri berjam-jam hanya karena beredar informasi sebuah toko chips (kentang goreng) juga menjual ikan. Dan ketika ikan menjadi langka, sempat pula beredar kue ikan yang dibuat secara rumahan.

Seiring perkembangan zaman dan selesainya perang, makanan ini kemudian naik kelas saat mulai tersedia di restoran kelas atas seperti The Ivy pada 1990. Setelahnya fish and chips tersedia dalam berbagai varian, mulai dari jenis ikan yang disajikan, kentang, dan jenis saus. Menurut The Spruce, di Inggris ikan yang masih menjadi favorit adalah ikan Cod dengan total konsumsi 61,5 %. Sedangkan ikan pilihan kedua adalah ikan Haddock, kemudian varian lokal terdapat ikan Whiting di Irlandia Utara dan beberapa bagian Skotlandia, kemudian ikan Skate dan Huss di selatan Inggris.

Sedangkan untuk kentang empuk terbaik, biasanya dipilih kentang waxy yang kerap menghasilkan keripik berminyak. Jenis kentang lain yang terbaik adalah King Edward, Maris Piper, dan Sante. Di Inggris kualitas kentang sangat baik dan kerap dijadikan keripik. Masih menurut The Spruce, satu dari setiap empat jenis kentang diolah menjadi keripik, produksinya sekitar 1,25 juta ton setiap tahun.

Kemudian untuk kebiasaan penggunaan saus, di Indonesia biasanya menggunakan saus tartar atau mayones, mengikuti tren saus Amerika. Namun di Inggris, sangat sedikit orang yang mengadopsi kebiasaan makan fish and chips menggunakan mayones. Mereka lebih memilih menggunakan garam dan cuka yang ditaburkan daripada saus. Satu-satunya saus lain yang dianggap cocok adalah percikan kecap.

 

Referensi:

  • The exotic history of British fish and chips (Telegraph.co.uk)
  • A brief history of fish and chips (Thespruce.com)

Menikmati “Fish and Chips” dengan Harga Terjangkau di Fish Bite!

Resto dengan menu fish and chips sedang hit di Jakarta. Beberapa yang populer diantaranya Fish & Co, The Manhattan Fish Market, Fish Streat, Fish & Ship, dan yang lainnya. Salah satu resto fish and chips yang masih tergolong baru adalah Fish Bite! yang terletak di Kemanggisan, Jakarta Barat.

Fish Bite! menyajikan berbagai varian fish and chips berdasarkan sausnya, mulai dari yang original, salted egg, sambal matah, cheese, dan black pepper. Harga fish and chips di sini juga terjangkau, harganya mulai dari Rp 29.000 hingga Rp 36.000. Sebagai permulaan, saya mencoba fish and chips original.

Kata pembeda original hanya untuk membedakan saus yang digunakan, original berarti menggunakan saus sajian awal, yaitu saus tartar. Menu ini disajikan dengan ikan filet goreng tepung yang dilumuri saus tartar dan kentang goreng, sangat simpel. Ketika dicoba, tekstur dagingnya lumayan lembut, terasa unik ketika dipadukan dengan kulit tepungnya yang krispi.

Satu porsi fish and chips original dari Fish Bite! (Foto: www.lastboytahara.com)

Sedangkan dari segi rasa, daging ikan terasa cukup gurih. Makin terasa nikmat bila dicocol dengan saus tartar dan perasan jeruk lemon yang segar. Satu porsi fish and chips original ternyata sudah cukup mengenyangkan dengan porsi kentang yang lumayan banyak.

Saya rasa Fish Bite! tempat yang pas bagi pemula yang ingin mencicipi fish and chips untuk pertama kali, karena harganya terjangkau dan pelayanan mereka yang cukup baik. Tidak banyak resto yang menyajikan menu fish and chips di bawah Rp 30.000 dengan porsi yang cukup mengenyangkan.

Selain fish and chips mereka juga menyajikan menu ayam dengan dipadukan chips, pasta, atau nasi. Ada juga berbagai menu pasta dengan jenis saus yang sama dengan fish and chips. Dan lagi, harganya tetap terjangkau, tidak lebih dari Rp 40.000 untuk semua menu tipe original.

Bila tertarik mengunjungi Fish Bite! langsung saja ke Jl. Kebon Jeruk Raya No. 8A, Kemanggisan, Jakarta. Buka dari jam (11:00 – 24:00).

Sejarah “Cheeseburger” yang Tidak Banyak Orang Tahu

Cheeseburger dengan daging panggang dan lelehan keju yang menggoda (Foto: www.lastboytahara.com)

Cheeseburger adalah bentuk lain dari hamburger yang ditambahkan keju sebagai toppingnya. Meski populer dengan rasanya yang gurih, tidak banyak orang yang tahu sejarah cheeseburger diciptakan. Di negara asal cheeseburger sendiri, Amerika, banyak sejarawan yang masih bingung untuk menentukan secara resmi siapakah pencipta inovasi makanan tersebut. Sebab ada banyak pihak yang mengklaim menciptakan cheeseburger pertama kali.

Dikutip dari laman The Spruce, ada satu nama yang paling dikenal sebagai pencipta cheeseburger di Amerika pada 1924, yaitu Lionel Sternberger. Ia bekerja sebagai juru masak di toko roti milik ayahnya yang bernama The Rite Spot. Pemuda 16 tahun ini secara eksperimental menjatuhkan sepotong keju Amerika di atas hamburger yang masih panas saat sedang bekerja. Ia lalu menyukai cara baru menikmati hamburger itu dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan.

Meski berawal dari sebuah kebiasaan, hamburger itu tampaknya belum diberi nama sebagai sebuah menu. Sedangkan menu pertama yang benar-benar disebut “cheeseburger” ada di restoran Kaelin di Louisville, Kentucky. Charles Kaelin adalah orang yang mengklaim telah menemukan burger berlapis keju itu pada tahun 1934.

Sejarah cheeseburger juga diikuti cara mengolah dan menyajikannya. Cheeseburger tipe klasik, yang populer pada 1930an diolah dengan cara digoreng. Pada zaman itu para pengunjung yang ingin memesan cheeseburger menyebutnya sebagai single, double atau triple.

Daging pada burger selalu dimasak dengan tingkat kematangan well-done atau telah matang sempurna. Tekstur dagingnya agak keras dan tidak memiliki sensasi juicy. Kemudian, sesuai dengan namanya “cheeseburger”  ditambahkan keju dan ditambahkan berbagai topping seperti selada, tomat, acar, dan bawang mentah. Sedangkan untuk bumbu di dalamnya  berupa mustard, kecap, atau mayones.

Lalu pada abad 20 cheeseburger disebut dengan bar burger. Teksturnya tebal dan dagingnya diolah dengan cara dipanggang hingga muncul sensasi juicy. Pada zaman itu, pengunjung mulai bebas untuk menentukan jenis keju yang akan mereka letakkan di dalam burger. Ada berbagai pilihan keju yang disajikan, seperti American, Cheddar, Monterey Jack, Swiss, dan bahkan Gruyere atau Gouda jika pengunjung memesan cheeseburger di restoran kelas atas.

Selain lebih bebas dalam memilih keju, pengunjung juga dapat memesan topping secara khusus. Misalnya untuk topping klasik, dapat berupa selada, tomat, acar dan bawang mentah. Kemudian tambahan selanjutnya bisa berupa bacon, alpukat, guacamole, bawang bombay, jamur atau cabai. Perpaduan gurihnya keju dan dagingnya yang juicy, membuat warga Amerika sangat menyukai cheeseburger. Saking cintanya, Amerika sampai membuat Hari Nasional Cheeseburger yang jatuh tiap 18 September.

Benarkah Micin Berbahaya bagi Otak? Begini Penjelasan Dokter

Akhir-akhir ini di media sosial populer istilah “Generasi Micin” bagi netizen yang dianggap tidak paham pada topik yang sedang dibahas atau berperilaku aneh. Istilah “Generasi Micin” merujuk pada seseorang yang terlalu banyak mengonsumsi micin atau monosodium glutamate (MSG) sehingga kemampuan kognitif mereka berkurang atau lemot. Tak jelas siapa yang mempopulerkan istilah ini di internet, namun benarkah menurut medis bahwa micin dapat menyebabkan gangguan pada otak?

MSG merupakan garam natrium dari asam glutamate, asam amino yang terbentuk secara alami. MSG memiliki rasa yang unik, dikenal dengan nama rasa umami. Dengan takaran yang pas MSG dapat menyempurkanakan rasa masakan sehingga lebih nikmat dan gurih. Pada zaman modern ini, hampir tak ada masakan yang tak menggunakan MSG, terutama masakan khas Asia.

Mie Goreng, jenis masakan khas Asia yang terkadang menggunakan micin atau MSG (Foto: www.lastboytahara.com)

Meski dikenal sebagai penyedap rasa yang jagoan, benarkah rasanya yang bikin nagih berbahaya bagi otak?

Pertanyaan ini sebenarnya bukan hal baru. Hal ini sudah pernah dibahas oleh dr. Ivena di situs hellosehat.com dengan judul “Benarkah Penyedap Rasa (MSG) Bisa Bikin Otak Jadi ‘Lemot’?”. Pada artikel tersebut dijelaskan bahwa terlalu banyak glutamate dapat membahayakan hipotlamus, bagian saraf otak yang bertugas menerima rangsangan. Bila hipotlamus terlalu sering terstimulasi karena kadar glutamate yang tinggi, hal ini dapat menyebabkan kematian neuron atau sel-sel saraf di otak. Matinya neuron dapat menyebabkan menurunnya fungsi kognitif otak alias “lemot”, sebab neuron lah yang bertugas menjalankan fungsi kognitif pada otak.

“Glutamat dalam penyedap rasa punya banyak reseptor yang ada di hipotalamus. Karena itu, efek kebanyakan glutamat di otak bisa membahayakan. Reseptor-reseptor dalam otak jadi terstimulasi (terangsang) secara berlebihan akibat kadar glutamat yang tinggi. Bila terus-terusan terjadi, alhasil aktivitas reseptor yang berlebihan malah bisa sebabkan kematian neuron. Neuron sendiri adalah sel-sel saraf di otak,” terang dr. Ivena pada artikelnya.

Bila dibaca kembali dari awal, MSG dapat menjadi berbahaya bagi otak bila dikonsumsi secara berlebihan. MSG dapat membahayakan saraf ketika dikonsumsi 6-30 kali lebih banyak dari dosis seharusnya. Menurut otoritas makanan dan obat-obatan Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA), rata-rata penggunaan MSG dalam makanan adalah 0,55 gram dalam satu hari.

Selain batasan dosis, FDA saat ini juga masih mengkategorikan MSG sebagai GRAS (Generally Recognised As Safe) atau umumnya diakui aman. Namun apabila ragu menggunakan MSG sebagai penyedap rasa dengan alasan keamanan, masyarakat dapat menggunakan bahan-bahan alami sebagai penyedap rasa seperti rempah-rempah. Terlebih lagi di Indonesia, ada begitu banyak tanaman dan rempah-rempah yang dapat digunakan sebagai bumbu masakan yang tak kalah sedap.

Page 3 of 22

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén