Lastboy

Suka jalan-jalan dan kuliner

Page 3 of 22

Armor Kopi, Kafe Hit di Bandung dengan Suasana ala Pedesaan

Armor Kopi merupakan kafe hit di Dago Pakar (Bandung) yang menyuguhkan suasana luar ruang. Pengunjung dapat memilih untuk menikmati kopi di tengah taman yang dikelilingi pepohonan atau duduk lesehan di leuit (lumbung padi khas Sunda). Desain leuit dibuat autentik, berbentuk bangunan panggung serta semua komponennya terbuat dari kayu.

Sejak dulu Armor Kopi memang dikenal dengan suasana luar ruangnya. Saat awal berdiri, kafe ini terletak di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Djuanda, Bandung. Di lokasi tersebut pengunjung dapat menikmati kopi dengan suasana hutan, dikeliling pohon pinus yang tinggi menjulang. Saking kerennya, foto lokasi kafe ini jadi hit di media sosial.

Pada 2017 tempat tersebut harus tutup karena tidak memiliki izin mendirikan bangunan di lahan konservasi Bandung Utara. Mereka akhirnya pindah ke lokasi yang tidak jauh dari Tahura, tepatnya di Jl. Bukit Pakar Utara. Aksesnya sangat mudah, dari Tahura dapat dijangkau 5 menit dengan berjalan kaki.

Di leuit pengunjung dapat menikmati kopi sambil lesehan. (Foto: www.lastboytahara.com)

Salah satu tempat duduk outdoor di Armor Kopi. (Foto: www.lastboytahara.com)

Meski tak lagi menyuguhkan suasana hutan, lokasi baru Armor Kopi ternyata tidak mengecewakan. Mereka masih mempertahankan nuansa luar ruang. Di sini mereka memiliki area rumput yang luas dan terawat. Sekeliling kafe juga terdapat aneka pepohonan rindang, seperti cemara atau bambu.

Di ruang kaca ini pengunjung tidak boleh merokok. (Foto: www.lastboytahara.com)

Keistimewaan Armor Kopi yang juga tak berubah adalah kopi manual nikmat dan snack yang disajikan. Untuk menu kopi, ada tiga jenis kopi yang bisa dipilih, yaitu Robusta, Arabica, dan Liberica. Bila tak paham soal kopi, silakan bertanya pada barista jenis kopi apa yang cocok untuk Anda. Barista Armor Kopi sangat ramah, mereka akan dengan senang hati menjelaskan segala hal tentang kopi yang tersedia.

Tak butuh waktu lama, kopi pesanan Anda akan langsung diantarkan pelayan. Paling enak bila Anda memilih tempat duduk di tempat terbuka seperti leuit. Menyeruput segelas kopi panas di tengah-tengah udara Dago yang dingin merupakan moment yang istimewa. Racikan kopi dari barista mereka juga tidak mengecewakan; rasa pahit, keasaman dan segarnya kopi pas di lidah. Bila lapar tiba, jangan lupa untuk mencicipi snack andalan mereka, yaitu pisang goreng keju dan rujak cireng.

Snack andalan Armor Kopi, pisang goreng keju. (Foto: www.lastboytahara.com)

Segelas kopi panas dan rujak cireng. (Foto: www.lastboytahara.com)

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Armor Kopi, lokasi mereka terletak di Jl. Bukit Pakar Utara No. 10, Dago Pakar, Bandung. Armor Kopi buka mulai dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam. Untuk suasana terbaik saya sarankan untuk datang ketika masih pagi, saat udara masih terasa segar.

Aneka Kreasi Risoles dari 4 Negara, Anda Suka yang Mana?

Risoles merupakan jajanan favorit orang Indonesia, pastri yang berisi daging atau sayuran. Jajanan ini memiliki bentuk lonjong dengan warna kuning keemasan. Paling enak dinikmati ketika masih hangat, saat kulitnya masih terasa krispi dan lembut di dalam. Sebagai pendamping, biasanya disajikan pula dengan mayones atau cabai rawit hijau.

Risoles versi Indonesia (Gambar: YouTube/Sajian Sedap)

Tak hanya dikenal sebagai jajanan populer di Indonesia, risoles juga menjadi jajanan primadona bagi masyarakat Eropa, Amerika Selatan, dan Australia. Masing-masing negara memiliki ciri khas tersendiri, terutama dari segi isi dan cara pengolahannya. Risoles versi Perancis adalah yang paling unik, karena satu-satunya yang dicampur dengan buah pada isinya.

1. Risoles Perancis

Risoles Perancis dengan buah pir (Gambar: YouTube/Les Carnets de Julie)

Di Perancis, tempat jajanan ini berasal, diolah dengan adonan yang dicampur buah pir, mincemeat, dan remah roti. Isian yang agak asing adalah mincemeat, karena jarang digunakan untuk campuran makanan di Indonesia. Mincemeat adalah campuran dari buah kering cincang, aromatik dan rempah-rempah, dan kadang-kadang daging sapi, daging sapi, atau daging rusa. Dari segi rasa jajanan ini tidak hanya gurih, tapi juga sedikit asam manis karena mengandung buah pir dan buah kering dari mincemeat.

2. Risoles Portugal

Rissóis (Gambar: Youtube/Momentos Doces e Salgados)

Di Portugal jajanan ini bernama rissóis dengan bentuk setengah bulan. Isinya berupa ikan cod atau udang dalam saus Béchamel dan kemudian digoreng.  Selain ikan, rissóis juga sering diisi dengan ham, keju, atau daging cincang. Rissóis biasanya dinikmati sebagai camilan atau makanan pembuka.

3. Risoles Polandia

Sznyclekotlety atau mielone (Gambar: YouTube/
INEZ MJ)

Kemudian di Polandia jajanan ini dikenal sebagai sznycle atau kotlety mielone, bentuknya bulat kasar dengan warna kecoklatan. Sznycle paling sering diisi dengan daging cincang dan disajikan dengan kentang rebus serta sayuran. Bila dilihat dari penyajiannya, makanan ini lebih cocok sebagai hidangan utama daripada sekadar camilan. Satu buah sznycle dengan kentang rebus dan sayuran saya rasa sudah cukup mengenyangkan.

4. Risoles Australia

Risoles Australia (Gambar: YouTube/Greg’s Kitchen)

Lalu di Australia jajanan ini lebih mirip patty burger. Untuk versi Australia risoles tidak membutuhkan kulit, sebab semua isinya yang terdiri dari daging sapi cincang, remah roti, dan daun bawang dicampur jadi satu kemudian dipanggang. Karena diolah tanpa kulit, warnanya menjadi agak kehitaman. Untuk penyajiannya bisa dinikmati dengan dicocol saus tomat dan dimakan bersama sayuran.

Makanan Populer “Fish and Chips” Dulu Hanya Dinikmati Masyarakat Kelas Bawah

Satu porsi fish and chips (Foto: www.lastboytahara.com)

Fish and chips merupakan makanan khas Inggris. Makanan ini terdiri dari ikan filet putih yang digoreng dengan tepung dan dimakan bersama kentang goreng. Biasanya dinikmati sambil dicocol dengan saus tartar atau sambal. Makanan ini juga populer di Jakarta, terutama di resto-resto seafood menengah ke atas. Namun siapa sangka, fish and chips yang sering tersaji dengan harga yang lumayan mahal ini, dahulu merupakan makanan kelas menengah ke bawah di Inggris.

Seperti dikutip dari laman Telegraph.co.uk, fish and chips tersaji untuk kaum menengah ke bawah dalam buku karya Dickens yang berjudul A Tale of Two Cities pada tahun 1859. Kemudian jurnalis Henry Mayhew mengutip dari buku tersebut dan menyebutnya sebagai makanan orang miskin pada tahun 1861. Kala itu fish and chips juga dipandang sebagai ciri makanan kelas pekerja.

Kemudian pada tahun 1931 fish and chips menjadi makanan semua orang dan banyak dicari, karena pada zaman itu adalah masa perang dunia kedua. Banyak orang yang mengantri untuk makanan ini. Tak hanya masyarakat sipil, para tentara teritorial juga berebut di tenda katering khusus di kamp pelatihan pada tahun 1930-an.

Setiap toko fish and chips juga selalu ramai, sebab ikan dan kentang termasuk makanan yang tidak masuk program penjatahan pada masa perang. Saat itu orang bahkan rela untuk antri berjam-jam hanya karena beredar informasi sebuah toko chips (kentang goreng) juga menjual ikan. Dan ketika ikan menjadi langka, sempat pula beredar kue ikan yang dibuat secara rumahan.

Seiring perkembangan zaman dan selesainya perang, makanan ini kemudian naik kelas saat mulai tersedia di restoran kelas atas seperti The Ivy pada 1990. Setelahnya fish and chips tersedia dalam berbagai varian, mulai dari jenis ikan yang disajikan, kentang, dan jenis saus. Menurut The Spruce, di Inggris ikan yang masih menjadi favorit adalah ikan Cod dengan total konsumsi 61,5 %. Sedangkan ikan pilihan kedua adalah ikan Haddock, kemudian varian lokal terdapat ikan Whiting di Irlandia Utara dan beberapa bagian Skotlandia, kemudian ikan Skate dan Huss di selatan Inggris.

Sedangkan untuk kentang empuk terbaik, biasanya dipilih kentang waxy yang kerap menghasilkan keripik berminyak. Jenis kentang lain yang terbaik adalah King Edward, Maris Piper, dan Sante. Di Inggris kualitas kentang sangat baik dan kerap dijadikan keripik. Masih menurut The Spruce, satu dari setiap empat jenis kentang diolah menjadi keripik, produksinya sekitar 1,25 juta ton setiap tahun.

Kemudian untuk kebiasaan penggunaan saus, di Indonesia biasanya menggunakan saus tartar atau mayones, mengikuti tren saus Amerika. Namun di Inggris, sangat sedikit orang yang mengadopsi kebiasaan makan fish and chips menggunakan mayones. Mereka lebih memilih menggunakan garam dan cuka yang ditaburkan daripada saus. Satu-satunya saus lain yang dianggap cocok adalah percikan kecap.

 

Referensi:

  • The exotic history of British fish and chips (Telegraph.co.uk)
  • A brief history of fish and chips (Thespruce.com)

Menikmati “Fish and Chips” dengan Harga Terjangkau di Fish Bite!

Resto dengan menu fish and chips sedang hit di Jakarta. Beberapa yang populer diantaranya Fish & Co, The Manhattan Fish Market, Fish Streat, Fish & Ship, dan yang lainnya. Salah satu resto fish and chips yang masih tergolong baru adalah Fish Bite! yang terletak di Kemanggisan, Jakarta Barat.

Fish Bite! menyajikan berbagai varian fish and chips berdasarkan sausnya, mulai dari yang original, salted egg, sambal matah, cheese, dan black pepper. Harga fish and chips di sini juga terjangkau, harganya mulai dari Rp 29.000 hingga Rp 36.000. Sebagai permulaan, saya mencoba fish and chips original.

Kata pembeda original hanya untuk membedakan saus yang digunakan, original berarti menggunakan saus sajian awal, yaitu saus tartar. Menu ini disajikan dengan ikan filet goreng tepung yang dilumuri saus tartar dan kentang goreng, sangat simpel. Ketika dicoba, tekstur dagingnya lumayan lembut, terasa unik ketika dipadukan dengan kulit tepungnya yang krispi.

Satu porsi fish and chips original dari Fish Bite! (Foto: www.lastboytahara.com)

Sedangkan dari segi rasa, daging ikan terasa cukup gurih. Makin terasa nikmat bila dicocol dengan saus tartar dan perasan jeruk lemon yang segar. Satu porsi fish and chips original ternyata sudah cukup mengenyangkan dengan porsi kentang yang lumayan banyak.

Saya rasa Fish Bite! tempat yang pas bagi pemula yang ingin mencicipi fish and chips untuk pertama kali, karena harganya terjangkau dan pelayanan mereka yang cukup baik. Tidak banyak resto yang menyajikan menu fish and chips di bawah Rp 30.000 dengan porsi yang cukup mengenyangkan.

Selain fish and chips mereka juga menyajikan menu ayam dengan dipadukan chips, pasta, atau nasi. Ada juga berbagai menu pasta dengan jenis saus yang sama dengan fish and chips. Dan lagi, harganya tetap terjangkau, tidak lebih dari Rp 40.000 untuk semua menu tipe original.

Bila tertarik mengunjungi Fish Bite! langsung saja ke Jl. Kebon Jeruk Raya No. 8A, Kemanggisan, Jakarta. Buka dari jam (11:00 – 24:00).

Page 3 of 22

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén