Lastboy

Anak laki-laki terakhir, suka wisata, dan kuliner

Page 3 of 19

Menikmati Pesona Hutan Hujan Tropis dari Puncak Canopy Bridge

Indonesia ternyata memiliki tempat wisata berupa Canopy Bridge (Jembatan Tajuk) di Bukit Bangkirai yang terletak di Kutai Kartanegaram Kalimantan Timur. Jembatan ini merupakan Jembatan Tajuk pertama di Indonesia dan kedelapan di dunia. Dibuat oleh para ahli dari Amerika Serikat pada 1998, kabarnya jembatan ini mampu bertahan selama 15-20 tahun.

Penasaran, saya pun tertarik untuk mengunjunginya dari Balikpapan dengan menggunakan mobil. Di awal perjalanan jalur yang dilalui masih beraspal dan lancar, namun ketika memasuki daerah hutan jalur mulai berbatu. Untung pada hari itu cuaca cukup cerah, saya tidak bisa membayangkan bila turun hujan dan jalanan menjadi tergenang atau berlubang. Sebab mobil saya sempat terseok ketika melewati jalan berlubang yang tergenang oleh air bekas hujan semalam. Tantangan selama perjalanan ternyata tidak hanya jalan berlubang, terkadang ada pula jurang yang menganga di sisi jalan atau jalanan yang curam dan menikung. Pengemudi harus selalu waspada dengan memperhatikan setiap rambu-rambu yang ada.

Jalur menuju Bukit Bangkirai yang masih terbuat dari tanah dan batuan. (Foto: Lastboy Tahara S)

Hal yang menarik selama perjalanan adalah kita akan selalu diiringi oleh suara-suara serangga dan dikawal oleh pepohonan yang rimbun. Suasana hutan akan semakin terasa ketika kaca mobil dibuka. Merasakan desiran angin segar dari hutan Bangkirai. Di sana saya juga sempat melihat rumah-rumah warga sekitar yang masih berupa bangungan semi permanen. Jarak antar rumah juga masih berjauhan.

Sekitar 2 jam kemudian akhirnya saya sampai di gerbang wisata Bukit Bangkirai yang bertuliskan PT. Inhutani I. Sebelum memasuki kawasan hutan wisata, di sana terdapat pula tempat peristirahatan berupa rumah panggung dari kayu, tempat makan, dan penginapan. Fasilitas yang cukup baik menurut saya, pengunjung bisa istirahat sejenak setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari kota.

Tempat makan dan istirahat di kawasan wisata hutan Bukit Bangkirai (Foto: Lastboy Tahara S)

Untuk masuk ke area kawasan wisata hutan Bangkirai pengunjung harus membayar biaya sebesar Rp 6000 per orang untuk dewasa dan Rp. 4000 per orang untuk anak-anak. Sedangkan biaya untuk mencoba Canopy Bridge sebesar Rp. 25.000 per orang untuk pengunjung lokal dan Rp. 75.000 untuk turis mancanegara. Selain Canopy Bridge terdapat destinasi lain yang dikenakan biaya seperti Tree Walking Rope, Out Bound, Perahu Dayung, Flying Fox, dan yang lainnya.

Sedangkan akses menuju Canopy Bridge, pengunjung harus menempuh jarak 500 meter dari titik loket pendaftaran dengan berjalan kaki. Selama perjalanan saya melewati aneka pepohonan lebat, hanya sedikit sinar matahari yang mampu menembus hingga ke tanah melalui sela-sela dedaunan. Sesekali terdengar suara serangga yang nyaring. Benar-benar nuansa hutan yang asri.

Gapura Menuju Canopy Bridge (Foto: Lastboy Tahara S)

Beginilah track di kawasan wisata hutan Bukit Bangkirai, masih berupa tanah dan penuh dengan akar pohon yang menjalar. (Foto: Lastboy Tahara S)

Kekayaan pohonnya juga dijaga dengan baik. Di sepanjang jalan menuju Canopy Bridge pohon-pohon diberi nama disertai keterangan, sehingga pengunjung dapat belajar langsung tentang kekayaan pohon Kalimantan secara langsung. Salah satu yang unik adalah pohon Bangkirai, sebab kayunya terkenal kuat dan kualitasnya sangat baik sebagai bahan membuat furniture. Beberapa pohon Bangkirai yang berusia ratusan tahun dan telah roboh dibiarkan begitu saja dan diberi keterangan tentang pohon tersebut supaya bisa menjadi bahan pengetahuan bagi masyarakat.

Pohon Bangkirai berusia ratusan tahun yang dibiarkan tumbang dan tidak diangkut. (Foto: Lastboy Tahara S)

Setelah melewati track yang penuh dengan pepohonan, akhirnya saya sampai di lokasi Canopy Bridge. Di sana terdapat menara kayu setinggi 30 meter, itu lah akses untuk menaiki Canopy Bridge. Pada bagian puncak terdapat jembatan yang menghubungkan Menara dengan batang Pohon Bangkirai yang terdiri dari 3 lintasan, dan memiliki total panjang 64 meter.

Bila dilihat struktur jembatan amat kuat meski alasnya terbuat dari kayu, sebab dihubungkan dengan tali besi, tambang, dan jaring pengaman. Setiap kali melintas di jembatan, pengunjung dibatasi maksimal 2 orang sebagai standar keselamatan. Jarak antar dua penyeberang yang bersamaan juga diatur, yaitu lima meter antara satu orang dengan yang lain.

Menara Canopy Bridge di Bukit Bangkirai (Foto: Lastboy Tahara S)

Pemandangan pohon-pohon rimbun dari puncak Canopy Bridge (Foto: Lastboy Tahara S)

Ketika pertama kali mencoba awalnya biasanya saja, namun begitu sampai di tengah jembatan, angin yang berhembus membuat jembatan gantung ini bergoyang. Rasanya merinding, terlebih lagi bila sambil melihat ke bawah. Di atas jembatan saya juga dapat mengamati indahnya hutan Bangkirai yang luas. Pohon-pohonnya yang rimbun dan besar terasa amat spektakuler bila dilihat dari atas. Sesekali kicauan burung menemani setiap langkah saya.

Melihat nuansa hutan hujan tropis yang terasa alami, membuat saya tertarik untuk berhenti di setiap menara dan mengambil foto pohon-pohon yang menjulang. Saya harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, sebab pemberhentian setiap menara hanya dibatasi maksimal 8 orang dan bergantian. Sedangkan untuk pemberhentian di pohon hanya dibatasi maksimal 4 orang. Akan sangat beruntung bila pengunjung sedang sepi, waktu untuk berfoto bisa menjadi sedikit lebih lama.

Selain menyuguhkan pemandangan pepohonan yang rimbun, pengunjung yang beruntung juga berkesempatan melihat aneka burung-burung yang indah dari ketinggian. Canopy Bridge yang tingginya hampir mendekati puncak pohon juga membuat pengunjung dapat merasakan semilir angin segar dari hutan Kalimantan yang asri. Semoga konsep Canopy Bridge dapat ditiru daerah lain yang masih memiliki pesona hutan alami.

Dengan menjadikan hutan sebagai tempat wisata, masyarakat dapat belajar langsung mengenai hutan secara langsung. Memanfaatkan hutan sebagai sumber pendapatan daerah dari segi wisata jauh lebih baik daripada hanya menjadikannya sebagai tempat penghasil kayu atau spot perburuan hewan semata.

Bakmi Amoy, Kuliner Khas Tionghoa yang Populer di Glodok

Akhir Januari lalu saya mengunjungi kawasan Petak Sembilan yang terletak di Glodok, Jakarta Barat. Kawasan ini dikenal sebagai Pecinan atau pemukiman etnis Tionghoa di Jakarta. Tak jarang kita akan menemukan beragam kuliner khas Tionghoa, mulai dari kue keranjang, berbagai macam bakmi, nasi hainam, dan yang lainnya. Kebetulan posisi saya saat itu berada di gang sempit yang terkenal dengan jejeran kuliner khas Tionghoa, Gang Gloria. Di sana terdapat warung bakmi populer bernama Bakmi Amoy.

Warung Bakmi Amoy di Gang Gloria, Glodok (Foto: Lastboy Tahara)

Sebenarnya nama warung ini hanya Amoy saja, bisa dilihat di papan yang mereka pasang dan tulisan di etalase menu mereka. Tapi orang terbiasa menyebutnya sebagai Bakmi Amoy, mungkin karena menu andalan mereka adalah Bakmi. Di sini mereka menyajikan Bakmi Ayam, Kwetiau Bakso, Bakso Goreng, Bihun Pangsit, Nasi Goreng, Nasi Campur, Nasi Hainam, Nasi Tim-Swi Kiau, dan Pangsit Goreng.

Setelah menentukan pesananan, saya harus susah payah mencari bangku kosong. Di sini tempatnya tidak terlalu lengang. Terletak di gang sempit dan ramai pelanggan, membuat banyak orang antri sambil berdiri.

Saya akhirnya menumpang di warung kosong sebelah yang sedang tutup dan meminjam bangku. Saya pikir bakal ditegur, ternyata di sini juga sudah biasa untuk menumpang di warung yang tutup. Pelanggan lain pun juga dituntun oleh pelayan mereka untuk mencari bangku-bangku kosong di warung kosong terdekat.

Suasana Warung Bakmi Amoy di Gang Gloria (Foto: Lastboy Tahara)

Setelah mendapatkan bangku, tak lama kemudian pesanan saya datang. Saat itu saya memesan satu porsi Bakmi, Bakso Goreng, dan Nasi Campur. Satu porsi Bakmi Amoy terdiri dari potongan daging yang gurih, sayur sawi, dan semangkuk kecil kuah sup segar yang tidak terlalu asin.

Bakmi Amoy paling enak bila dipadukan dengan bakso goreng yang tebal dan gurih, apa lagi kalau bakso masih tersaji hangat. Bagi yang suka pedas, bisa ditambahkan sambal agar terasa lebih menggigit. Satu porsi Bakmi harganya kira-kira Rp 25.000.

Satu porsi Bakmi Amoy (Foto: Lastboy Tahara)

Satu porsi Nasi Campur (Foto: Lastboy Tahara)

Sedangkan untuk satu porsi Nasi Campur Amoy terdiri dari potongan babi merah, potongan babi panggang, dan satu tusuk sate. Daging yang mereka sajikan sangat empuk dan juicy. Lemak dagingnya juga pas, sehingga sangat nikmat di setiap gigitan. Dan yang paling bikin nambah adalah aroma dagingnya yang harum. Satu porsi Nasi Campur harganya kira-kira Rp 35.000.

Untuk soal rasa, sebenarnya semua kuliner di Gang Gloria memang patut diacungi jempol, bukan hanya warung Amoy. Karena kuliner khas Tionghoa di sana otentik dan biasanya diolah langsung oleh pemiliknya. Namun, menurut saya, yang membuat banyak orang berkunjung adalah sensasi menikmati kuliner di gang kecil. Berbaur dengan pengunjung lain dan berbagi meja. Di sini semua orang bisa setara untuk menikmati kuliner istimewa yang tidak ada di restaurant mewah.

Penasaran ingin mencoba? Langsung saja ke Gang Gloria, Glodok, Jakarta Barat.

Lumernya Keju Raclette Steak Bikin Ngiler

Di daerah Kembangan, Jakarta Barat, terdapat restaurant steak yang populer di instagram bernama Willie Brothers Steakhouse. Salah satu menu yang fenomenal adalah Raclette Steak, menu steak yang disajikan dengan keju meleleh di atasnya. Steak ini paling banyak dibagikan di instagram karena tampilannya yang menggiurkan.

Pertama kali mengunjungi Willie Brothers Steakhouse, saya disambut tata ruang dekorasi yang apik dan kental suasana natal. Ada lampu kerlap-kerlip dan hiasan natal yang serba merah, begitu juga dengan kursinya yang diikat pita kain merah. Saya belum tahu bagaimana dekorasi awalnya bila bukan saat natal.

Untuk mendapatkan pelayanan saya tidak perlu repot untuk menunggu, sebab selalu ada pelayan yang stand by. Mereka juga sangat apik dalam berkomunikasi dengan pelanggan, seperti memberikan sapaan atau menjelaskan menu-menu steak yang saya tidak begitu paham dengan istilahnya. Salut atas interaksi dan komunikasi mereka yang baik dengan pelanggan.

Setelah telunjuk saya berputar-putar di buku menu, ternyata pilihan tetap saja jatuh ke menu Raclette Steak yang menawan. Instagramable kalau anak muda kekinian mengatakannya. Secara visual saya suka, namun untuk segi rasa, saya tidak begitu ahli untuk menilai steak seperti apa yang enak. Maka dari itu saya tidak ambil pusing untuk memilih menu.

Tidak menunggu lama, Raclette Steak akhirnya sampai di meja saya. Salah seorang pelayan kemudian membawa potongan keju setengah lingkaran dan langsung menuangkannya di atas steak di depan saya. Mengesankan, lelehan keju raclette yang masih berasap dan meluncur ke daging steak sungguh menggoda selera. Saya jadi tidak sabar untuk segera menyantapnya selagi hangat.

Tampilan Raclette Steak di Willie Brothers Steakhouse (Foto: Lastboy Tahara S)

Karena saya awam soal steak, saya hanya bisa menilai bahwa steak ini enak secara awam pula. Kematangan dagingnya pas, empuk dan juicy. Mungkin saus steak yang mereka gunakan juga berperan. Kombinasi antara keju dengan steak baru pertama kali ini saya coba. Rasanya mengejutkan, ada perpaduan gurihnya keju dan smoky dari steak. Hanya saja bila terlalu lama, keju akan semakin padat dan mengental. Teksturnya menjadi lebih kenyal, tidak lagi leleh dan mudah dipisahkan dengan garpu.

Saya rasa, menu Raclette Steak masih akan tetap eksis, mengingat tren kuliner dengan keju masih booming di Jakarta. Terlebih lagi Willie Brothers Steakhose adalah restaurant pertama yang menyajikan menu Raclette Steak di Jakarta.

Bagi Anda yang penasaran untuk mencoba, langsung saja menuju Jalan Pesanggrahan Raya No. 9, Meruya Utara, Kembangan, Kota Jakarta Barat. Restaurant ini buka mulai dari jam 11.00 WIB – 23.00 WIB.

Menikmati Secangkir Kopi Guatemala di Louie Coffee

Hari ini saya berkesempatan mengunjungi coffee shop baru di kawasan Pondok Pinang, Louie Coffee. Berdiri pada November 2016, coffe shop ini hadir dengan konsep speciality coffee. Tempat yang pas bagi penikmat kopi kualitas premium yang diolah langsung dari tangan-tangan barista handal. Coffee shop ini dimiliki oleh Louise Leny Yohana Lihar, semi finalis Indonesia Barista Championship 2015.

Pertama kali menuju lokasi Louie Coffee, coffee shop ini bisa dikenali melalui logo biru terang bertuliskan “Louie” di depan kafe. Tampilan luarnya tampak segar dengan tanaman-tanaman cantik di terasnya. Beberapa kursi dan meja juga tersusun rapi bagi pengunjung yang ingin menikmati kopi dengan suasana outdoor.

Tampilan depan Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara S)

Suasana outdoor di Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara S)

Ketika masuk ke dalam, Louie Coffee tidak seperti coffee shop lainnya. Sebelum menuju kafe, terdapat satu ruangan yang dikelilingi kaca. Di sana saya disambut dengan ramah oleh seorang resepsionis dan mempersilahkan saya untuk masuk. Pelayanan yang bagus menurut saya, menimbulkan kesan “spesial” bagi pengunjung.

Setelah itu di bagian dalam kafe, ruangannya tampak terang dengan pencahayaan yang natural. Sebab bagian depan kafe menggunakan dinding kaca yang mudah tertembus oleh cahaya matahari.

Sedangkan untuk interior di dalamnya, coffee shop ini sangat kental dengan nuansa kayu. Hampir seluruhnya menggunakan kayu, mulai dari lantai, meja barista, meja pelanggan, dan kursi. Suasananya akan sangat cantik bila menjelang sore, warna coklat dari kayu berpadu dengan lampu kuning yang temaram.

Salah satu meja yang menghadap jendela (Foto: Lastboy Tahara S)

Nuansa kayu di Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara S)

Di bagian meja barista, saya bertemu dengan Tengku dan Angga. Mereka berdua adalah barista yang familiar bagi saya. Sebab saya pernah bertemu dengan mereka berdua bekerja di salah satu coffee shop ternama di kawasan Gandaria. Sedangkan Angga, namanya cukup dikenal di kalangan barista Indonesia. Tahun 2015 lalu ia masuk finalist dalam kompetisi Bandung Brewers Cup 2015.

Dilayani oleh barista-barista handal Louie Coffee, saya memesan V60 Guatemala El Pilar. Karakter fruity dari kopi dengan rasa sweet candy dan orange candy terasa pas di lidah. Sembari menikmati kopi, saya juga berkesempatan ngobrol dengan Tengku. Ia menjelaskan bahwa kopi di sini memiliki blend khas, yang mereka beri nama Louie Blend, perpaduan biji kopi El Savador dan Ethiopia.

Secangkir Kopi Guatemala El Pilar dari Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Coffee shop ini memang masih sepi pengunjung, namun bila masyarakat sudah mengenal dan tahu siapa yang berada di belakangnya, saya rasa coffee shop ini akan menjadi hype di kalangan penikmat speciality coffee. Dimiliki oleh semi finalis Indonesia Barista Championship 2015 dan kopi diolah langsung dari tangan-tangan barista terlatih, saya rasa tak perlu ada kata ragu untuk menikmati secangkir kopi premium Louie Coffee.

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Louie Coffee langsung saja ke Jalan Ciputat Raya No. 5, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Buka mulai dari jam 8 pagi hingga jam 7 malam.

Page 3 of 19

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén