Lastboy

Suka jalan-jalan dan kuliner

Tag: Camping

Merasakan Sensasi Menyatu dengan Alam di Camp Bravo

Pada Februari lalu saya mengambil hari libur untuk camping di Ranca Upas, Bandung. Belum hilang ingatan camping bulan lalu, satu bulan berikutnya saya kembali untuk pergi camping bersama rekan kerja. Namun kali ini beda daerah, lokasi yang saya tuju adalah Camp Bravo di Cidahu, Sukabumi. Lokasi camping ini dikenal dengan keindahan hamparan sawah dan area pendirian tenda yang dilewati sungai. Selain itu Camp Bravo juga dekat dengan wisata air terjun yang terletak di sisi selatan Gunung Salak.

Perjalanan menuju Cidahu dimulai dari Jakarta selama 3 jam dengan menggunakan mobil. Aksesnya sangat mudah, hanya macet di daerah Bogor yang membuat waktu tempuh menjadi lama. Sesampainya di Cidahu, kami memarkir mobil di sebelah Masjid Ar Raihan. Parkiran di sana cukup bersih karena dikelola dan dirawat oleh warga.

Dari parkiran mobil kami harus berjalan kaki menuju lokasi camping dengan menyusuri perkampungan. Makin ke dalam suasana alam kian terasa dengan panorama lereng bukit dan pepohonan. Kami juga sempat menyeberangi sungai kecil dengan jembatan yang dibuat dari batang bambu.

Jembatan yang terbuat dari batang bambu. (Foto: www.lastboytahara.com)

Setelah berjalan kaki selama 15 menit, kami kemudian melewati hamparan sawah yang berwarna kuning keemasan. Dari kejauhan, gerbang pintu masuk menuju lokasi Camp Bravo akhirnya kelihatan. Butuh perjuangan ternyata untuk mencapai lokasi camping, nafas saya sampai ngos-ngosan bukan main. Mungkin akibat lelah selama perjalanan di mobil dan tak biasa jalan kaki menyusuri alam. Jalan setapak di sini kadang juga naik turun dengan permukaan yang tidak rata.

Pemandangan hamparan sawah sebelum memasuki gerbang Camp Bravo, Cidahu. (Foto: www.lastboytahara.com)

Di gerbang pintu masuk area camping, saya istirahat dulu sebentar sambil memandangi sawah. Semilir angin di sana amat segar, hingga peluh keringat pun terhapus seketika. Setelah energi terkumpul saya meneruskan untuk masuk ke lokasi camping. Di sana saya melewati area pemancingan dan kolam untuk outbond. Ada juga area kosong yang cukup luas untuk arena bermain atau mendirikan tenda.

Lokasi camping yang kami tuju berada di bagian bawah, dekat dengan sungai kecil. Untuk menuju ke sana disediakan tangga yang terbuat dari batu-batu sungai yang disusun rapi. Dari atas tangga saya dapat melihat belasan tenda berwarna merah-hitam. Sesampainya di sana saya langsung melepas sandal dan selonjoran menikmati rindangnya pepohonan. Dengan suasana alam yang masih asri, udara di sini terasa amat menyegarkan.

Deretan tenda di Camp Bravo, Cidahu. Semuanya sudah lengkap dengan perlengkapan tidur. (Foto: www.lastboytahara.com)

Di belakang area camping terdapat sungai kecil. Suara gemericik airnya bikin rileks. (Foto: www.lastboytahara.com)

Setelah puas istirahat saatnya untuk merapikan barang-barang dan masuk tenda. Persiapan camping di sini ternyata tidak begitu ribet, sebab semuanya sudah dipersiapkan oleh pengelola. Di dalam tenda misalnya, pengunjung sudah disediakan matras, bantal, dan selimut. Kemudian ada air minum gratis lengkap dengan dispenser dan aneka minuman sachet. Untuk makan pun tidak perlu repot, di dekat lokasi camping ada warung yang menyediakan makanan berat seperti nasi ayam, aneka mie instant, dan nasi goreng.

Semacam cafe mini dari kayu di Camp Bravo. Disediakan air minum gratis dan aneka minuman sachet. Lantai 2 biasanya digunakan untuk ibadah. (Foto: www.lastboytahara.com)

Selagi asyik di depan tenda, saya dan rekan-rekan yang lain baru sadar bahwa yang menempati lokasi camping hanya rombongan kami saja. Suasananya benar-benar sepi! Maklum, kami datang saat hari biasa, bukan akhir pekan. Kalau begini, rasanya seperti camping di tanah pribadi saja. Bayangkan, dengan luas tanah yang bisa menampung belasan tenda hanya 2 tenda saja yang terpakai.

Dengan kondisi yang benar-benar sepi, malam harinya kami leluasa untuk bernyanyi menggunakan gitar tanpa khawatir mengganggu yang lain. Setelahnya kami ngobrol ngalor-ngidul, mulai dari perihal kerjaan (liburan masih ae ngomong kerjaan), kopi, tren medsos, dan pengalaman kocak.

Menjelang pukul 1 pagi, percakapan malam itu kami sudahi sambil memandangi bintang-bintang di angkasa. Serius, bintangnya banyak sekali saat itu. Di alam bebas cahaya bintang dapat terlihat lebih jelas dan terang. Beda dengan langit di kota, cahayanya terlalu terang karena lampu dari gedung-gedung tinggi dan perumahan. Setelah tak kuat menahan kantuk, kami lalu menuju tenda masing-masing untuk tidur. Sambil ditemani bunyi gemericik air dari sungai.

Keesokan paginya, kami menuju sungai kecil di belakang area camping. Di tengah-tengah sungai terdapat batu-batu besar. Saya kemudian memilih batu paling besar dan duduk santai sambil memandangi aliran sungai. Airnya amat bening hingga tampak berikilau ketika diterpa sinar matahari pagi. Sementara itu, dua rekan saya justru sibuk menyusun batu-batu kecil di sungai ala gravity glue. Puas bermain di sungai,  mereka akhirnya memilih untuk sekalian mandi di sana.

Sungai kecil di belakang area Camp Bravo. Airnya amat bening dan menyegarkan (Foto: www.lastboytahara.com)

Gravity glue yang telah disusun. Tampak biasa dan tidak melengkung seperti pada umumnya. Maklum, sekadar iseng. (Foto: www.lastboytahara.com)

Usai membersihkan badan dan tampil segar, kami kemudian bersiap untuk menuju wisata air terjun di sisi selatan Gunung Salak. Lokasinya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari lokasi camping.

Bersambung…

Asyiknya Berkemah di Ranca Upas, Bangun Pagi Disuguhi Keindahan Alam

Bulan Februari ini saya mengambil jatah libur singkat dari kantor, yaitu selama tiga hari. Saya langsung menggunakan kesempatan ini untuk berlibur bersama rekan-rekan ke Bandung, pilihan yang pas untuk liburan singkat, sebab perjalanan Jakarta ke Bandung hanya beberapa jam. Lokasi wisata yang kami pilih adalah Ranca Upas, bumi perkemahan yang tengah populer di media sosial karena panorama bukit dan matahari terbit.

Singkat cerita, kami tiba di Ranca Upas pada sore hari dengan kondisi gerimis. Setelah itu kami langsung bergegas mencari spot mendirikan tenda. Kami harus cepat-cepat, sebab gerimis semakin deras dan cuaca mulai dingin. Tidak mungkin kami terus-terusan di dalam mobil. Bisa-bisa, jadinya bermalam di mobil, bukan berkemah. Hahahaha…

Cukup ribet juga ternyata ketika liburan di musim hujan. Tanah yang kami pijak sangat becek dan terkadang ada lubang tanah yang tak terlihat.  Berkeliling mencari spot tenda menjadi menguras tenaga.

Jalan di area perkemahan menjadi becek sehabis hujan (Foto: lastboytahara.com)

Di sini area untuk mendirikan tenda amat luas, pengunjung dapat bebas memilih. Menurut pengamatan saya, lokasi mendirikan tenda ada dua jenis, yaitu area dengan lapisan beton dan area yang hanya beralaskan rumput. Kami memilih area beralaskan rumput, sebab di area ini kita dapat melihat matahari terbit tepat di depan tenda.

Usai menentukan spot, kami kemudian menyewa perlengkapan berkemah. Di sini pengunjung tidak perlu repot untuk berkemah, pengelola ranca upas dan warung-warung makan turut menyewakan perlengkapan berkemah. Mulai dari tenda dengan berbagai macam ukuran, sleeping bag, kayu bakar, senter, dan yang lainnya. Tenda yang disewa pun sudah langsung dipasangakan di lokasi yang diinginkan.

Ketika malam hari tiba, tidak ada banyak hal yang kami lakukan. Hujan deras yang mengguyur Bandung seharian hanya menyisakan udara dingin yang menggigit, suhunya bisa mencapai 17 derajat Celsius. Langit malam hari juga hanya gelap gulita, mungkin karena tertutup awan mendung. Kalau tidak, kami bisa menikmati pemandangan hamparan bintang-bintang di angkasa.

Malam itu kami terpaksa hanya meringkuk di dalam tenda sambil berbagi cerita. Hingga akhirnya, satu per satu dari kami tertidur. Tenggelam dalam cuaca dingin dan lelah.

– – –

Keesokan harinya saya bangun pukul setengah enam pagi. Perlahan-lahan tenda saya buka, berharap silaunya matahari terbit tidak menyilaukan mata. Baru saja tali pintu tenda saya tarik sepanjang 30 cm, udara dingin langsung masuk merambat ke kaki. Brrr! Cuacanya masih dingin menggigit! Setelah pintu tenda terbuka semua, tampaklah cahaya pagi beserta hamparan rumput yang amat segar.

Pagi hari disambut pemandangan bukit yang diselimuti kabut. (Foto: lastboytahara.com)

Memandang lebih jauh, tersaji panorama alam yang menakjubkan berupa hamparan rumput dan bukit yang hijau. Kumpulan kabut yang mengintip dari pepohonan di bukit juga menampilkan suasana pagi yang magis. Sayang, hari ini saya tidak bisa menyaksikan matahari terbit karena sedikit mendung. Saat pukul 7 pagi barulah pesona bukit-bukit di depan tenda mulai terlihat jelas, tanpa tertutup kabut.

Keindahan alam di bumi perkemahan Ranca Upas dengan hamparan rumput dan bukit yang hijau. (Foto: lastboytahara.com)

Pemandangan dari dalam tenda yang langsung menghadap bukit. (Foto: lastboytahara.com)

Setelahnya saya bersiap untuk berkeliling kawasan ranca upas. Di sini ada berbagai spot menarik untuk wisata, seperti waterboom, panahan, outbond, dan penangkaran rusa. Tempat paling hit adalah penangkaran rusa, dimana pengunjung dapat memberi makan rusa dan berfoto. Asyiknya, pengunjung dapat melihat rusa dari jarak yang sangat dekat, tanpa dibatasi kandang.

 

Bersambung…

(Lanjutan) Serunya Memberi Makan Rusa dari Dekat di Ranca Upas

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén