Lastboy

Suka jalan-jalan dan kuliner

Tag: Cerita Kopi (Page 1 of 2)

Armor Kopi, Kafe Hit di Bandung dengan Suasana ala Pedesaan

Armor Kopi merupakan kafe hit di Dago Pakar (Bandung) yang menyuguhkan suasana luar ruang. Pengunjung dapat memilih untuk menikmati kopi di tengah taman yang dikelilingi pepohonan atau duduk lesehan di leuit (lumbung padi khas Sunda). Desain leuit dibuat autentik, berbentuk bangunan panggung serta semua komponennya terbuat dari kayu.

Sejak dulu Armor Kopi memang dikenal dengan suasana luar ruangnya. Saat awal berdiri, kafe ini terletak di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Djuanda, Bandung. Di lokasi tersebut pengunjung dapat menikmati kopi dengan suasana hutan, dikeliling pohon pinus yang tinggi menjulang. Saking kerennya, foto lokasi kafe ini jadi hit di media sosial.

Pada 2017 tempat tersebut harus tutup karena tidak memiliki izin mendirikan bangunan di lahan konservasi Bandung Utara. Mereka akhirnya pindah ke lokasi yang tidak jauh dari Tahura, tepatnya di Jl. Bukit Pakar Utara. Aksesnya sangat mudah, dari Tahura dapat dijangkau 5 menit dengan berjalan kaki.

Di leuit pengunjung dapat menikmati kopi sambil lesehan. (Foto: www.lastboytahara.com)

Salah satu tempat duduk outdoor di Armor Kopi. (Foto: www.lastboytahara.com)

Meski tak lagi menyuguhkan suasana hutan, lokasi baru Armor Kopi ternyata tidak mengecewakan. Mereka masih mempertahankan nuansa luar ruang. Di sini mereka memiliki area rumput yang luas dan terawat. Sekeliling kafe juga terdapat aneka pepohonan rindang, seperti cemara atau bambu.

Di ruang kaca ini pengunjung tidak boleh merokok. (Foto: www.lastboytahara.com)

Keistimewaan Armor Kopi yang juga tak berubah adalah kopi manual nikmat dan snack yang disajikan. Untuk menu kopi, ada tiga jenis kopi yang bisa dipilih, yaitu Robusta, Arabica, dan Liberica. Bila tak paham soal kopi, silakan bertanya pada barista jenis kopi apa yang cocok untuk Anda. Barista Armor Kopi sangat ramah, mereka akan dengan senang hati menjelaskan segala hal tentang kopi yang tersedia.

Tak butuh waktu lama, kopi pesanan Anda akan langsung diantarkan pelayan. Paling enak bila Anda memilih tempat duduk di tempat terbuka seperti leuit. Menyeruput segelas kopi panas di tengah-tengah udara Dago yang dingin merupakan moment yang istimewa. Racikan kopi dari barista mereka juga tidak mengecewakan; rasa pahit, keasaman dan segarnya kopi pas di lidah. Bila lapar tiba, jangan lupa untuk mencicipi snack andalan mereka, yaitu pisang goreng keju dan rujak cireng.

Snack andalan Armor Kopi, pisang goreng keju. (Foto: www.lastboytahara.com)

Segelas kopi panas dan rujak cireng. (Foto: www.lastboytahara.com)

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Armor Kopi, lokasi mereka terletak di Jl. Bukit Pakar Utara No. 10, Dago Pakar, Bandung. Armor Kopi buka mulai dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam. Untuk suasana terbaik saya sarankan untuk datang ketika masih pagi, saat udara masih terasa segar.

Viral Dikabarkan Tutup, Ternyata Pabrik Kopi Liong Bulan Masih Beroperasi

Kopi Liong Bulan (Foto: Lastboy Tahara S)

Para pecinta kopi sempat dibuat heboh soal tutupnya pabrik Kopi Liong Bulan, kopi khas Bogor. Kabar ini berawal dari unggahan foto toko Kopi Liong Bulan di daerah Pasar Anyar, Bogor, dengan sebuah pengumuman di pagar bertuliskan: “’Pengumuman Mulai 8 Nov 2017 Kopi Liong Bulan Tutup, Udahan”. Sontak para pecinta kopi pun heboh dan menyayangkan tutupnya pabrik tersebut. Unggahan foto tersebut kemudian dibagikan ramai-ramai di media sosial tanpa menunggu konfirmasi. Terlanjur viral, ternyata kabar tersebut tidak benar.

Pabrik Kopi Liong Bulan ternyata masih beroperasi seperti biasa. Hal tersebut dikonfirmasi oleh salah satu anak pemilik pabrik Kopi Liong Bulan, Sherly Fausta melalui akun Facebook di kolom komentar akun Facebook Pojok Bogor. Ia juga menambahkan bahwa unggahan foto pabrik kopi yang terlanjur viral di media sosial sebenarnya hanyalah salah satu agen Kopi Liong Bulan yang tutup. Ia juga menjamin bahwa stok kopi masih banyak, dan warga tidak perlu khawatir hingga memborong kopi karena takut kehabisan. Untuk sekadar diketahui, pusat pabrik Kopi Liong Bulan sebenarnya terletak di kawasan Nanggewer, Bogor.

Anak penerus pemilik pabrik Kopi Liong Bulan memberikan klarifikasi bahwa pabrik masih beroperasi secara normal. (Foto: Screenshot Facebook Pojok Bogor)

Berakhirnya rumor soal pabrik Kopi Liong Bulan yang tutup akhirnya membuat hati para pecinta kopi khas Bogor ini terasa lega. Selain disukai karena rasanya, kopi ini juga memiliki cerita yang menarik, yaitu kopi yang eksis selama tujuh dekade sejak 1945 lalu. Sulit untuk menelusuri sejarah lebih lanjut perihal kopi khas Bogor tersebut, sebab belum banyak media arus utama yang mengulasnya. Hanya satu yang pasti, produk Kopi Liong Bulan didirikan oleh warga Bogor Linardi Jap (1916-2004).

Meski dikenal sebagai kopi khas Bogor, ini juga sampai ke cangkir-cangkir penggemar kopi di Ibu Kota. Ada dua versi yang dijual, kopi tanpa gula dibungkus plastik warna coklat dan kopi dengan gula dibungkus dengan plastik warna biru. Harga yang ditawarkan juga sangat murah, hanya Rp 500 hingga Rp 1.000 rupiah per sachet.

Tertarik untuk mencobanya? Kopi Liong Bulan sangat mudah ditemukan di warung-warung kopi di Bogor, tak jarang kopi ini akan menjadi yang ditawarkan pertama oleh penjual. Namun bila malas berpergian ke Bogor, kini Kopi Liong Bulan juga sudah bisa dipesan secara online di media sosial atau di situs jual beli online lokal.

 

Menikmati Secangkir Kopi Guatemala di Louie Coffee

Hari ini saya berkesempatan mengunjungi coffee shop baru di kawasan Pondok Pinang, Louie Coffee. Berdiri pada November 2016, coffe shop ini hadir dengan konsep speciality coffee. Tempat yang pas bagi penikmat kopi kualitas premium yang diolah langsung dari tangan-tangan barista handal. Coffee shop ini dimiliki oleh Louise Leny Yohana Lihar, semi finalis Indonesia Barista Championship 2015.

Pertama kali menuju lokasi Louie Coffee, coffee shop ini bisa dikenali melalui logo biru terang bertuliskan “Louie” di depan kafe. Tampilan luarnya tampak segar dengan tanaman-tanaman cantik di terasnya. Beberapa kursi dan meja juga tersusun rapi bagi pengunjung yang ingin menikmati kopi dengan suasana outdoor.

Tampilan depan Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara S)

Suasana outdoor di Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara S)

Ketika masuk ke dalam, Louie Coffee tidak seperti coffee shop lainnya. Sebelum menuju kafe, terdapat satu ruangan yang dikelilingi kaca. Di sana saya disambut dengan ramah oleh seorang resepsionis dan mempersilahkan saya untuk masuk. Pelayanan yang bagus menurut saya, menimbulkan kesan “spesial” bagi pengunjung.

Setelah itu di bagian dalam kafe, ruangannya tampak terang dengan pencahayaan yang natural. Sebab bagian depan kafe menggunakan dinding kaca yang mudah tertembus oleh cahaya matahari.

Sedangkan untuk interior di dalamnya, coffee shop ini sangat kental dengan nuansa kayu. Hampir seluruhnya menggunakan kayu, mulai dari lantai, meja barista, meja pelanggan, dan kursi. Suasananya akan sangat cantik bila menjelang sore, warna coklat dari kayu berpadu dengan lampu kuning yang temaram.

Salah satu meja yang menghadap jendela (Foto: Lastboy Tahara S)

Nuansa kayu di Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara S)

Di bagian meja barista, saya bertemu dengan Tengku dan Angga. Mereka berdua adalah barista yang familiar bagi saya. Sebab saya pernah bertemu dengan mereka berdua bekerja di salah satu coffee shop ternama di kawasan Gandaria. Sedangkan Angga, namanya cukup dikenal di kalangan barista Indonesia. Tahun 2015 lalu ia masuk finalist dalam kompetisi Bandung Brewers Cup 2015.

Dilayani oleh barista-barista handal Louie Coffee, saya memesan V60 Guatemala El Pilar. Karakter fruity dari kopi dengan rasa sweet candy dan orange candy terasa pas di lidah. Sembari menikmati kopi, saya juga berkesempatan ngobrol dengan Tengku. Ia menjelaskan bahwa kopi di sini memiliki blend khas, yang mereka beri nama Louie Blend, perpaduan biji kopi El Savador dan Ethiopia.

Secangkir Kopi Guatemala El Pilar dari Louie Coffee (Foto: Lastboy Tahara Sinaga)

Coffee shop ini memang masih sepi pengunjung, namun bila masyarakat sudah mengenal dan tahu siapa yang berada di belakangnya, saya rasa coffee shop ini akan menjadi hype di kalangan penikmat speciality coffee. Dimiliki oleh semi finalis Indonesia Barista Championship 2015 dan kopi diolah langsung dari tangan-tangan barista terlatih, saya rasa tak perlu ada kata ragu untuk menikmati secangkir kopi premium Louie Coffee.

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Louie Coffee langsung saja ke Jalan Ciputat Raya No. 5, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Buka mulai dari jam 8 pagi hingga jam 7 malam.

Tanamera Coffee Populerkan Biji Kopi Lokal ke Dunia

Saya akhirnya berkesempatan mengunjungi kedai kopi ternama di Jakarta, Tanamera Cofee. Bagi para penikmat kopi, nama kedai ini dikenal menggunakan 100% biji kopi lokal berkualitas dan sering memenangkan kompetisi kopi di tingkat internasional. Prestasi terakhir yang diraih Tanamera Coffee adalah menyabet medali emas di ajang Australian International Coffee Award (AICA) 2016 dengan biji kopi dari Gunung Malabar (Jawa Barat), Malabar Natural.

Ciri khas Tanamera Coffee memang ahli dalam menyajikan biji kopi lokal berkualitas. Jadi, Anda tidak perlu menanyakan apakah ada biji kopi yang di datangkan dari luar negeri. Mereka juga memiliki mesin roaster sendiri di Serpong, sehingga mampu menjaga kualitas biji kopi tanpa campur tangan perusahaan lain. Dengan tagline “Fresh Roast Artisant” mereka konsisten menyajikan biji kopi segar kepada konsumen.

Kedai kopi Tanamera memiliki beberapa cabang, dan yang saya kunjungi saat ini berada di Thamrin City Office Park, Jakarta Pusat. Berdiri diantara gedung perkantoran yang menjulang, kedai kopi ini tampil minimalis dengan pintu kaca dan jeruji besi di belakangnya. Bila sore tiba, di depan kedai kopi akan dipasang payung lebar untuk pengunjung yang menginginkan suasana outdoor.

Sedangkan untuk bagian indoor, pengunjung akan disambut aroma kopi saat memasuki ruangan. Pasalnya meja barista meracik kopi sangat dekat dengan pintu masuk. Selain itu kita bisa melihat langsung proses pembuatan kopi dari dekat, bagaimana mereka menyeduh kopi atau membuat latte art. Sedangkan di belakang barista berjejer rapi kantong-kantong biji kopi berwarna merah yang terbuat dari kertas.

Bagian Depan Tanamera Coffee (Thamrin) | Foto: Lastboy Tahara .S

Bagian Depan Tanamera Coffee (Thamrin) | Foto: Lastboy Tahara .S

Di sana saya memesan secangkir Cafe latte dan menu Wraps: Tuna Mayo. Untuk menu kopi, sebenarnya paling pas bila memesan single origin lokal seperti Malabar Natural, Rasuna Natural, Papua Wamena, Mandheling, dan yang lainnya. Single origin yang paling dicari di Tanamera adalah Rasuna Natural. Sedangkan yang paling susah dicari adalah Papua Wamena, karena lokasi produksi yang jauh dan sedikitnya penyuplai kopi di Papua. Informasi tersebut saya dapat dari karyawan logistik Tanamera Coffee (Thamrin), Septian Hadi.

Cafe Latte dari Tanamera Coffee | Foto: Lastboy Tahara .S

Cafe Latte dari Tanamera Coffee | Foto: Lastboy Tahara .S

Wraps Tuna Mayo dari Tanamera Coffee | Foto: Lastboy Tahara .S

Wraps Tuna Mayo dari Tanamera Coffee | Foto: Lastboy Tahara .S

Berbicara tentang kopi Papua Wamena membuat saya teringat dengan artikel Nurullah di Kompasiana yang berjudul “Kopi Emas dari Tanah Papua”. Di artikel tersebut ia membahas kopi Mungme Gold dari Papua yang mahal dan sulit ditemukan di luar Papua. Hal itu karena pengangkutan biji kopi dari petani ke koperasi harus menggunakan Helikopter. Biaya sewa Helikopter yang mencapai jutaan rupiah itu lah yang menyebabkan harga biji kopi ikut naik. Selain itu biji kopi juga hanya dijual di kawasan Mimika, sebab para petani kopi belum sanggup untuk memproduksinya dalam jumlah besar.

Bisa menikmati biji kopi Papua di Tanamera, saya rasa adalah hal yang luar biasa, karena kita tidak perlu repot jauh-jauh ke Papua untuk mendapatkannya. Mungkin bila saya berkunjung ke sana lagi, saya akan memesan manual brew Papua Wamena. Semoga makin banyak kedai kopi yang bangga menggunakan biji kopi lokal seperti Tanamera Coffee, supaya biji kopi lokal dikenal luas oleh masyarakat dunia.

Kira-kira biji kopi lokal apa lagi yang akan diangkat Tanamera? Kita tunggu saja.

Page 1 of 2

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén