Sampai di Cepu sekitar pukul setengah 2 pagi membuat saya sedikit kedinginan, untunglah di Cepu banyak sekali para penjual nasi pecel di sepanjang jalan, saya jadi bisa istirahat sebentar sambil menikmati nasi pecel hangat dan segelas teh manis. Nasi pecel merupakan salah satu kuliner khas Cepu yang paling pas dinikmati ketika pagi buta, tempenya masih panas, karena masih penggorengan pertama saat warung buka.

Saat pagi hari kita akan banyak menemui pedagang nasi pecel di pinggir jalan. Dari pukul 2 pagi beberapa warung para pedanga sudah membuka lapaknya, dan akan semakin ramai penjual ketika sudah menginjak pukul 5 pagi. Penjual nasi pecel paling mudah ditemui di area pasar tradisional, dan harganya pun sangat terjangkau. Nasi pecel paling murah harganya sekitar empat ribu rupiah, itu pun sudah termasuk lauk tempe goreng hangat.

Satu lagi kuliner di Cepu yang menjadi favorit saya di pagi hari, yaitu kue serabi, kuliner yang pasti akan saya cicipi jika berkunjung ke Cepu. Serabi di Cepu ini menurut saya unik, beda dengan bentuk serabi dari daerah lain. Misalnya saja dari segi penyajian, tekstur, dan toppingnya.

Tampilan Serabi Cepu

Untuk segi rasa saya sangat suka rasa gurih dari serabinya, taburan parutan kelapa, ketannya yang legit, dan rasa pedas dari serbuk merahnya. Di tulisan saya sebelumnya tentang serabi cepu, saya membelinya di depan toko Surya. Dan untuk kali ini saya membeli lagi di pertigaan pasar Cepu, di tempat ini saya bisa makan serabi hangat sambil duduk lesehan di trotar.

Berbicara tentang kuliner Cepu, saya masih sulit untuk menyebutkan macam kuliner yang pantas disebut “khas”, karena varian yang saya tahu sangat sedikit. Bagi sebagian orang, kuliner khas Cepu itu Ledre, Wingko Babat, dan Egg Roll Waluh. Itu pun sebenarnya belum bisa dikatakan “khas”. Lihat saja penganan Ledre, yang sesungguhnya adalah makanan khas Bojonegoro. Begitu pula dengan Wingko Babat, sesuai dengan namanya makanan ini berasal dari Babat, daerah kecil di Lamongan, Jawa TImur.

Menurut pendapat saya pribadi, alasan mengapa kuliner tersebut menjadi “khas” Cepu, karena memang letak daerahnya yang berada di perbatasan jawa timur. Maka tidak heran bila kuliner dari daerah jawa timur sangat mudah ditemui di daerah Cepu, yang paling banyak dijumpai adalah kuliner dari Bojonegoro dan Surabaya.

Beberapa juga ada yang menyebutkan bahwa kuliner khas Cepu yang sesungguhnya adalah enthung goreng, enthung merupakan ulat yang hidup di pohon Jati. Sesuai dengan namanya, enthung ini digoreng dengan minyak dan diberi tambahan bumbu rempah. Karena daerah Cepu dan Blora terkenal akan hutan jati, maka habitat enthung masih mudah ditemui ketika musim hujan. Namun kuliner ini tidak bisa sembarang orang bisa memakannya, bagi orang yang alergi dapat menimbulkan gatal dan bentol pada kulit.

Dari paparan di atas dapat dilihat bahwa kuliner khas Cepu masih abu-abu, alias masih belum dinilai secara pasti bahwa penganan tersebut memang menjadi kuliner andalan daerah Cepu. Selain itu masih sedikit produk kuliner yang sudah diberi merek atau dipatenkan menjadi kuliner khas Cepu. Setahu saya hanya egg roll waluh yang sudah memiliki merek dan label di kemasannya sebagai kuliner khas Cepu.

Bila dirasa kuliner khas Cepu masih abu-abu, pemerintah daerah sebaiknya melakukan riset untuk menemukan bahan-bahan makanan apa saja yang hanya bisa ditemui di Cepu atau yang jumlahnya berlimpah dan bisa diolah sebagai makanan khas. Pemerintah daerah juga bisa memancing masyarakat untuk membuat inovasi kuliner dengan mengadakan lomba menciptakan kuliner khas.

Setelah dikira sudah menemukan penganan yang bisa dijadikan sebagai kuliner khas Cepu, pemerintah bisa memulai untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana memaksimalkan produk yang mereka miliki, misalnya edukasi dari segi pengemasan, merancang sebuah brand, mendaftarkan merek dagang, mendaftarkan kuliner ke dinas kesehatan, dan lain sebagainya.

Supaya mudah dalam memasarkan, boleh lah untuk dibuatkan lokasi khusus untuk penjualan kuliner khas Cepu, misalnya saja area bernama “Pusat Kuliner dan Oleh-oleh Khas Cepu” supaya para pendatang atau wisatawan dapat dengan mudah membeli produk-produk kuliner yang dibuat oleh masyarakat Cepu.

Saya berharap pemerintah daerah dapat memaksimalkan potensi kuliner yang dimiliki Cepu supaya dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan mampu bersaing dengan daerah lain.