Lastboy

Suka jalan-jalan dan kuliner

Tag: Kuliner Jakarta (Page 1 of 3)

Mencicipi Masakan Italia yang Autentik di Restoran Ocha & Bella

Masakan Italia sangat mudah ditemui di berbagai belahan dunia. Ini karena masakan Italia merupakan hasil pengaruh kuliner-kuliner Barat dan Timur Tengah seperti Yunani dan Arab. Sehingga rasa masakannya dapat dinikmati oleh masyarakat di belahan dunia barat dan timur.

Restoran Ocha & Bella di Jalan Wahid Hasyim adalah salah satu restoran Italia yang cukup dikenal di Jakarta. Mereka mampu menyajikan berbagai masakan Italia dengan rasa yang mendekati autentik atau mirip dengan masakan rumahan orang Italia asli.

Saya mengetahui restoran ini seusai menginap di Hotel Morrissey, yang kebetulan keduanya memang bersebelahan. Saat itu saya mengunjungi restoran untuk makan siang. Pertama kali masuk, di bagian depan tampak kursi dan sofa-sofa kecil tertata dengan rapi. Suasana restoran agak sedikit gelap karena interiornya didominasi material kayu berwarna gelap. Lampu yang digunakan juga berwarna kuning yang menimbulkan kesan kalem dan hangat.

Suasana indoor di restoran Ocha & Bella. (Foto: Lastboy Tahara S)

Suasana indoor di restoran Ocha & Bella. (Foto: Lastboy Tahara S)

Masih di bagian depan, pengunjung disambut oleh aroma saus, keju, dan roti. Hal ini karena restoran Ocha & Bella mengusung konsep open kitchen, dimana mereka dapat melihat langsung para cheff mengolah makanan. Tak jarang kita juga dapat melihat langsung proses pembuatan pizza, mulai dari membuat adonan hingga memasukkannya ke tungku. Setelah matang, barulah aroma harum pizza mengelilingi ruangan.

Di Restoran Ocha & Bella pizza merupakan salah satu menu andalan mereka, maka tak heran bila tungku pemanggangan pizza selalu menyala. Selain pizza, di sini terdapat berbagai sajian masakan khas Italia, mulai dari appetizer, soup, salad, pasta dan yang lainnya. Daftar menunya pun menggunakan bahasa Italia. Misalnya untuk menu pizza, ada varian lain dalam bahasa Italia seperti margherita, calzone proscuitto e funghi, contadina, frutti di mare, dan masih banyak lagi.

Untuk orang yang awam dengan masakan Italia, pasti sedikit bingung ketika melihat daftar menu yang mereka berikan. Untungnya mereka juga memberikan keterangan dalam bahasa Inggris tentang bahan makanan yang mereka gunakan dalam satu menu. Sehingga pengunjung yang masih awam, dapat mengira-ngira seperti apa rasanya. Contohnya untuk menu pizza margherita dengan keterangan tambahan “tomato sauce, mozzarella, basil, and extra virgin olive oil”.

Beragamnya masakan Italia di resto Ocha & Bella, membuat para penggemar kuliner lokal tak perlu pergi ke Italia untuk merasakan sensasi masakan Italia. Hal ini tidak lepas dari peran cheff restoran Ocha & Bella yang kompeten untuk menghadirkan masakan Italia dengan rasa yang autentik. Beruntung, saat itu saya dapat ngobrol langsung dengan cheff mereka, Stephen Komala. Ia mengenalkan kepada saya beberapa menu appetizer dan main course yang ada di restoran Ocha & Bella.

Sous cheff restoran Ocha & Bella, Stephen Komala (Kiri) (Foto: Lastboy Tahara S)

Namun saya lebih tertarik dengan main course yang ia kenalkan, yaitu pizza dan pasta. Sebab dua makanan inilah yang menjadi ciri khas kuliner Italia. Berani mengangkat tema restoran Italia, pasti kedua makanan ini akan tersaji special di restoran Ocha & Bella. Benar saja, saat itu ia mengenalkan kepada saya satu porsi pizza quattro formaggi. Pizza ini memiliki cita rasa keju yang amat kuat , dalam satu porsi menggunakan 4 jenis keju.

 

“Di bawahnya cuman cheese base doang, dikasih keju 4 jenis (mozzarella,gorgonzolla, taleggio, dan grana padano), 4 rasa,” terang Stephen.

Ketika saya mencoba satu potong, rasanya tidak dapat dijelaskan, kejunya terasa gurih tapi ada campuran rasa manis dan pedas. Pizza ini cocok sekali bagi pecinta keju, sebab ada banyak kombinasi rasa keju di dalamnya. Misalnya saja pengaruh keju taleggio pada pizza yang membuat rasanya sedikit manis. Teksturnya yang amat lunak dan mudah mencair membuat tekstur pizza menjadi creamy.

Pizza quattro formaggi di Restoran Ocha & Bella yang memiliki empat rasa

Pizza quattro formaggi yang memiliki empat rasa. Pizza seharga Rp 150 ribu ini merupakan salah satu menu pizza andalan restoran Ocha & Bella. (Foto: Lastboy Tahara S)

Kemudian selanjutnya ada menu capellini AOP (Aglio Olio e Peperoncino), jenis pasta khas Italia yang amat tipis. Dari segi tampilan, pasta ini amat menggugah selera, pasalnya pasta terlihat lembut dengan balutan saus dari minyak zaitun. Kemudian pada bagian atas, diberi potongan udang dan taburan seledri serta potongan cabai.

Menu capellini AOP (Aglio Olio e Peperoncino) di Restoran Ocha & Bella. Capellini merupakan jenis pasta khas Italia yang amat tipis. (Foto: Lastboy Tahara S)

Sesuai dengan namanya, pasta ini menggunakan bahan bawang putih (aglio), minyak olive/zaitun (olio), dan cabai (peperocino). Campuran ketiga bahan tersebut membuat pasta terasa gurih dan sedikit pedas. Teksturnya yang lembut juga membuat sensasi makan menjadi menyenangkan.

Usai menikmati sajian spesial Ocha & Bella, sejauh mata memandang restoran ini ternyata cukup luas. Saya baru menyadari bahwa restoran ini juga memiliki tempat outdoor atau luar ruang, tepat di samping kiri meja bar. Untuk bagian outdoor, hanya berupa teras parquet dengan deretan meja dan kursi. Namun di sebelahnya lagi, ada tempat berupa gazebo yang cukup lengang dengan pepohonan di dekatnya. Ada pula satu set sofa panjang dan pendingin ruangan yang membuat suasana semakin santai.

Suasana outdoor di restoran Ocha & Bella. (Foto: Lastboy Tahara S)

Suasana outdoor di restoran Ocha & Bella dengan gazebo. (Foto: Lastboy Tahara S)

Sepertinya bakal seru kalau kesini ramai-ramai dengan menempati satu gazebo. Menikmati sore dan menyantap hidangan Italia sambil bersenda gurau. Tertarik untuk mengunjungi restoran Ocha & Bella juga? Berikut alamat lengkapnya:

  • Hotel Morrissey, Jl. KH Wahid Hasyim No. 70, Menteng, Jakarta. Panduan peta bisa klik di sini.
  • Waktu buka: 11:00 – 24:00 WIB

Kue Pancong, Kudapan yang Gurih dan Mengenyangkan

Kue Pancong, kue tradisional yang menggunakan bahan baku utama santan dan garam. Rasanya gurih dan memiliki tekstur lembut di dalamnya. (Foto: Lastboy Tahara S)

Kue Pancong adalah kudapan favorit saya di pagi hari, karena porsinya yang kecil namun cukup mengenyangkan dan nikmat. Kue ini berbentuk setengah lingkaran dan berwarna kecoklatan. Terbuat dari santan dan menggunakan garam, rasanya amat gurih. Kue tradisional ini dapat dengan mudah ditemui di pulau Jawa. Konon kue pancong berasal dari Jakarta. Di beberapa daerah kue ini memiliki nama yang beragam, misalnya di Bandung disebut dengan bandros dan di Jawa Tengah disebut kue rangin.

Saat ini penjual kue pancong tradisional makin sulit ditemui karena tergeser dengan kudapan yang lebih modern. Dulu masih banyak penjual pancong berkeliling sambil berjalan kaki dan memanggul loyang, mereka hanya berhenti untuk memasak pancong bila ada yang memesan. Meski kian tergeser dari jalanan, kue pancong masih tetap eksis, sebab beberapa restaurant sudah mengadopsinya sebagai dessert. Bahkan di Jakarta, kue ini sudah dimodifikasi dalam bentuk yang lebih modern, misalnya dipadukan dengan es krim, karamel, selai, dan yang lainnya.

Meski kini memiliki banyak varian, saya tetap menyukai versi original alias tanpa dipadukan topping apapun. Bagian dalamnya masih berwarna putih dengan kulit berwarna kecoklatan. Bila baru matang, rasanya akan terasa sedikit krispi dan lembut di bagian dalam. Dari segi rasa, versi original didominasi rasa kelapa yang gurih. Bisa juga ditaburi sedikit gula pasir jika dirasa terlalu asin.

Untuk menikmati kue pancong original harganya masih sangat murah. Para penjaja tradisional biasanya masih menjual Rp 10.000 untuk satu porsi. Namun bila sudah masuk rumah makan modern atau restaurant, harganya akan sedikit lebih mahal, terlebih lagi bila menggunakan topping. Misalnya satu porsi kue pancong dengan taburan messes coklat, biasanya dihargai Rp 20.000 atau dengan es krim bisa mencapai Rp 30.000.

Bakmi Amoy, Kuliner Khas Tionghoa yang Populer di Glodok

Akhir Januari lalu saya mengunjungi kawasan Petak Sembilan yang terletak di Glodok, Jakarta Barat. Kawasan ini dikenal sebagai Pecinan atau pemukiman etnis Tionghoa di Jakarta. Tak jarang kita akan menemukan beragam kuliner khas Tionghoa, mulai dari kue keranjang, berbagai macam bakmi, nasi hainam, dan yang lainnya. Kebetulan posisi saya saat itu berada di gang sempit yang terkenal dengan jejeran kuliner khas Tionghoa, Gang Gloria. Di sana terdapat warung bakmi populer bernama Bakmi Amoy.

Warung Bakmi Amoy di Gang Gloria, Glodok (Foto: Lastboy Tahara)

Sebenarnya nama warung ini hanya Amoy saja, bisa dilihat di papan yang mereka pasang dan tulisan di etalase menu mereka. Tapi orang terbiasa menyebutnya sebagai Bakmi Amoy, mungkin karena menu andalan mereka adalah Bakmi. Di sini mereka menyajikan Bakmi Ayam, Kwetiau Bakso, Bakso Goreng, Bihun Pangsit, Nasi Goreng, Nasi Campur, Nasi Hainam, Nasi Tim-Swi Kiau, dan Pangsit Goreng.

Setelah menentukan pesananan, saya harus susah payah mencari bangku kosong. Di sini tempatnya tidak terlalu lengang. Terletak di gang sempit dan ramai pelanggan, membuat banyak orang antri sambil berdiri.

Saya akhirnya menumpang di warung kosong sebelah yang sedang tutup dan meminjam bangku. Saya pikir bakal ditegur, ternyata di sini juga sudah biasa untuk menumpang di warung yang tutup. Pelanggan lain pun juga dituntun oleh pelayan mereka untuk mencari bangku-bangku kosong di warung kosong terdekat.

Suasana Warung Bakmi Amoy di Gang Gloria (Foto: Lastboy Tahara)

Setelah mendapatkan bangku, tak lama kemudian pesanan saya datang. Saat itu saya memesan satu porsi Bakmi, Bakso Goreng, dan Nasi Campur. Satu porsi Bakmi Amoy terdiri dari potongan daging yang gurih, sayur sawi, dan semangkuk kecil kuah sup segar yang tidak terlalu asin.

Bakmi Amoy paling enak bila dipadukan dengan bakso goreng yang tebal dan gurih, apa lagi kalau bakso masih tersaji hangat. Bagi yang suka pedas, bisa ditambahkan sambal agar terasa lebih menggigit. Satu porsi Bakmi harganya kira-kira Rp 25.000.

Satu porsi Bakmi Amoy (Foto: Lastboy Tahara)

Satu porsi Nasi Campur (Foto: Lastboy Tahara)

Sedangkan untuk satu porsi Nasi Campur Amoy terdiri dari potongan babi merah, potongan babi panggang, dan satu tusuk sate. Daging yang mereka sajikan sangat empuk dan juicy. Lemak dagingnya juga pas, sehingga sangat nikmat di setiap gigitan. Dan yang paling bikin nambah adalah aroma dagingnya yang harum. Satu porsi Nasi Campur harganya kira-kira Rp 35.000.

Untuk soal rasa, sebenarnya semua kuliner di Gang Gloria memang patut diacungi jempol, bukan hanya warung Amoy. Karena kuliner khas Tionghoa di sana otentik dan biasanya diolah langsung oleh pemiliknya. Namun, menurut saya, yang membuat banyak orang berkunjung adalah sensasi menikmati kuliner di gang kecil. Berbaur dengan pengunjung lain dan berbagi meja. Di sini semua orang bisa setara untuk menikmati kuliner istimewa yang tidak ada di restaurant mewah.

Penasaran ingin mencoba? Langsung saja ke Gang Gloria, Glodok, Jakarta Barat.

Lumernya Keju Raclette Steak Bikin Ngiler

Di daerah Kembangan, Jakarta Barat, terdapat restaurant steak yang populer di instagram bernama Willie Brothers Steakhouse. Salah satu menu yang fenomenal adalah Raclette Steak, menu steak yang disajikan dengan keju meleleh di atasnya. Steak ini paling banyak dibagikan di instagram karena tampilannya yang menggiurkan.

Pertama kali mengunjungi Willie Brothers Steakhouse, saya disambut tata ruang dekorasi yang apik dan kental suasana natal. Ada lampu kerlap-kerlip dan hiasan natal yang serba merah, begitu juga dengan kursinya yang diikat pita kain merah. Saya belum tahu bagaimana dekorasi awalnya bila bukan saat natal.

Untuk mendapatkan pelayanan saya tidak perlu repot untuk menunggu, sebab selalu ada pelayan yang stand by. Mereka juga sangat apik dalam berkomunikasi dengan pelanggan, seperti memberikan sapaan atau menjelaskan menu-menu steak yang saya tidak begitu paham dengan istilahnya. Salut atas interaksi dan komunikasi mereka yang baik dengan pelanggan.

Setelah telunjuk saya berputar-putar di buku menu, ternyata pilihan tetap saja jatuh ke menu Raclette Steak yang menawan. Instagramable kalau anak muda kekinian mengatakannya. Secara visual saya suka, namun untuk segi rasa, saya tidak begitu ahli untuk menilai steak seperti apa yang enak. Maka dari itu saya tidak ambil pusing untuk memilih menu.

Tidak menunggu lama, Raclette Steak akhirnya sampai di meja saya. Salah seorang pelayan kemudian membawa potongan keju setengah lingkaran dan langsung menuangkannya di atas steak di depan saya. Mengesankan, lelehan keju raclette yang masih berasap dan meluncur ke daging steak sungguh menggoda selera. Saya jadi tidak sabar untuk segera menyantapnya selagi hangat.

Tampilan Raclette Steak di Willie Brothers Steakhouse (Foto: Lastboy Tahara S)

Karena saya awam soal steak, saya hanya bisa menilai bahwa steak ini enak secara awam pula. Kematangan dagingnya pas, empuk dan juicy. Mungkin saus steak yang mereka gunakan juga berperan. Kombinasi antara keju dengan steak baru pertama kali ini saya coba. Rasanya mengejutkan, ada perpaduan gurihnya keju dan smoky dari steak. Hanya saja bila terlalu lama, keju akan semakin padat dan mengental. Teksturnya menjadi lebih kenyal, tidak lagi leleh dan mudah dipisahkan dengan garpu.

Saya rasa, menu Raclette Steak masih akan tetap eksis, mengingat tren kuliner dengan keju masih booming di Jakarta. Terlebih lagi Willie Brothers Steakhose adalah restaurant pertama yang menyajikan menu Raclette Steak di Jakarta.

Bagi Anda yang penasaran untuk mencoba, langsung saja menuju Jalan Pesanggrahan Raya No. 9, Meruya Utara, Kembangan, Kota Jakarta Barat. Restaurant ini buka mulai dari jam 11.00 WIB – 23.00 WIB.

Page 1 of 3

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén