Lastboy

Anak laki-laki terakhir, suka wisata, dan kuliner

Tag: Kuliner Jakarta (Page 1 of 3)

Kue Pancong, Kudapan yang Gurih dan Mengenyangkan

Kue Pancong, kue tradisional yang menggunakan bahan baku utama santan dan garam. Rasanya gurih dan memiliki tekstur lembut di dalamnya. (Foto: Lastboy Tahara S)

Kue Pancong adalah kudapan favorit saya di pagi hari, karena porsinya yang kecil namun cukup mengenyangkan dan nikmat. Kue ini berbentuk setengah lingkaran dan berwarna kecoklatan. Terbuat dari santan dan menggunakan garam, rasanya amat gurih. Kue tradisional ini dapat dengan mudah ditemui di pulau Jawa. Konon kue pancong berasal dari Jakarta. Di beberapa daerah kue ini memiliki nama yang beragam, misalnya di Bandung disebut dengan bandros dan di Jawa Tengah disebut kue rangin.

Saat ini penjual kue pancong tradisional makin sulit ditemui karena tergeser dengan kudapan yang lebih modern. Dulu masih banyak penjual pancong berkeliling sambil berjalan kaki dan memanggul loyang, mereka hanya berhenti untuk memasak pancong bila ada yang memesan. Meski kian tergeser dari jalanan, kue pancong masih tetap eksis, sebab beberapa restaurant sudah mengadopsinya sebagai dessert. Bahkan di Jakarta, kue ini sudah dimodifikasi dalam bentuk yang lebih modern, misalnya dipadukan dengan es krim, karamel, selai, dan yang lainnya.

Meski kini memiliki banyak varian, saya tetap menyukai versi original alias tanpa dipadukan topping apapun. Bagian dalamnya masih berwarna putih dengan kulit berwarna kecoklatan. Bila baru matang, rasanya akan terasa sedikit krispi dan lembut di bagian dalam. Dari segi rasa, versi original didominasi rasa kelapa yang gurih. Bisa juga ditaburi sedikit gula pasir jika dirasa terlalu asin.

Untuk menikmati kue pancong original harganya masih sangat murah. Para penjaja tradisional biasanya masih menjual Rp 10.000 untuk satu porsi. Namun bila sudah masuk rumah makan modern atau restaurant, harganya akan sedikit lebih mahal, terlebih lagi bila menggunakan topping. Misalnya satu porsi kue pancong dengan taburan messes coklat, biasanya dihargai Rp 20.000 atau dengan es krim bisa mencapai Rp 30.000.

Bakmi Amoy, Kuliner Khas Tionghoa yang Populer di Glodok

Akhir Januari lalu saya mengunjungi kawasan Petak Sembilan yang terletak di Glodok, Jakarta Barat. Kawasan ini dikenal sebagai Pecinan atau pemukiman etnis Tionghoa di Jakarta. Tak jarang kita akan menemukan beragam kuliner khas Tionghoa, mulai dari kue keranjang, berbagai macam bakmi, nasi hainam, dan yang lainnya. Kebetulan posisi saya saat itu berada di gang sempit yang terkenal dengan jejeran kuliner khas Tionghoa, Gang Gloria. Di sana terdapat warung bakmi populer bernama Bakmi Amoy.

Warung Bakmi Amoy di Gang Gloria, Glodok (Foto: Lastboy Tahara)

Sebenarnya nama warung ini hanya Amoy saja, bisa dilihat di papan yang mereka pasang dan tulisan di etalase menu mereka. Tapi orang terbiasa menyebutnya sebagai Bakmi Amoy, mungkin karena menu andalan mereka adalah Bakmi. Di sini mereka menyajikan Bakmi Ayam, Kwetiau Bakso, Bakso Goreng, Bihun Pangsit, Nasi Goreng, Nasi Campur, Nasi Hainam, Nasi Tim-Swi Kiau, dan Pangsit Goreng.

Setelah menentukan pesananan, saya harus susah payah mencari bangku kosong. Di sini tempatnya tidak terlalu lengang. Terletak di gang sempit dan ramai pelanggan, membuat banyak orang antri sambil berdiri.

Saya akhirnya menumpang di warung kosong sebelah yang sedang tutup dan meminjam bangku. Saya pikir bakal ditegur, ternyata di sini juga sudah biasa untuk menumpang di warung yang tutup. Pelanggan lain pun juga dituntun oleh pelayan mereka untuk mencari bangku-bangku kosong di warung kosong terdekat.

Suasana Warung Bakmi Amoy di Gang Gloria (Foto: Lastboy Tahara)

Setelah mendapatkan bangku, tak lama kemudian pesanan saya datang. Saat itu saya memesan satu porsi Bakmi, Bakso Goreng, dan Nasi Campur. Satu porsi Bakmi Amoy terdiri dari potongan daging yang gurih, sayur sawi, dan semangkuk kecil kuah sup segar yang tidak terlalu asin.

Bakmi Amoy paling enak bila dipadukan dengan bakso goreng yang tebal dan gurih, apa lagi kalau bakso masih tersaji hangat. Bagi yang suka pedas, bisa ditambahkan sambal agar terasa lebih menggigit. Satu porsi Bakmi harganya kira-kira Rp 25.000.

Satu porsi Bakmi Amoy (Foto: Lastboy Tahara)

Satu porsi Nasi Campur (Foto: Lastboy Tahara)

Sedangkan untuk satu porsi Nasi Campur Amoy terdiri dari potongan babi merah, potongan babi panggang, dan satu tusuk sate. Daging yang mereka sajikan sangat empuk dan juicy. Lemak dagingnya juga pas, sehingga sangat nikmat di setiap gigitan. Dan yang paling bikin nambah adalah aroma dagingnya yang harum. Satu porsi Nasi Campur harganya kira-kira Rp 35.000.

Untuk soal rasa, sebenarnya semua kuliner di Gang Gloria memang patut diacungi jempol, bukan hanya warung Amoy. Karena kuliner khas Tionghoa di sana otentik dan biasanya diolah langsung oleh pemiliknya. Namun, menurut saya, yang membuat banyak orang berkunjung adalah sensasi menikmati kuliner di gang kecil. Berbaur dengan pengunjung lain dan berbagi meja. Di sini semua orang bisa setara untuk menikmati kuliner istimewa yang tidak ada di restaurant mewah.

Penasaran ingin mencoba? Langsung saja ke Gang Gloria, Glodok, Jakarta Barat.

Lumernya Keju Raclette Steak Bikin Ngiler

Di daerah Kembangan, Jakarta Barat, terdapat restaurant steak yang populer di instagram bernama Willie Brothers Steakhouse. Salah satu menu yang fenomenal adalah Raclette Steak, menu steak yang disajikan dengan keju meleleh di atasnya. Steak ini paling banyak dibagikan di instagram karena tampilannya yang menggiurkan.

Pertama kali mengunjungi Willie Brothers Steakhouse, saya disambut tata ruang dekorasi yang apik dan kental suasana natal. Ada lampu kerlap-kerlip dan hiasan natal yang serba merah, begitu juga dengan kursinya yang diikat pita kain merah. Saya belum tahu bagaimana dekorasi awalnya bila bukan saat natal.

Untuk mendapatkan pelayanan saya tidak perlu repot untuk menunggu, sebab selalu ada pelayan yang stand by. Mereka juga sangat apik dalam berkomunikasi dengan pelanggan, seperti memberikan sapaan atau menjelaskan menu-menu steak yang saya tidak begitu paham dengan istilahnya. Salut atas interaksi dan komunikasi mereka yang baik dengan pelanggan.

Setelah telunjuk saya berputar-putar di buku menu, ternyata pilihan tetap saja jatuh ke menu Raclette Steak yang menawan. Instagramable kalau anak muda kekinian mengatakannya. Secara visual saya suka, namun untuk segi rasa, saya tidak begitu ahli untuk menilai steak seperti apa yang enak. Maka dari itu saya tidak ambil pusing untuk memilih menu.

Tidak menunggu lama, Raclette Steak akhirnya sampai di meja saya. Salah seorang pelayan kemudian membawa potongan keju setengah lingkaran dan langsung menuangkannya di atas steak di depan saya. Mengesankan, lelehan keju raclette yang masih berasap dan meluncur ke daging steak sungguh menggoda selera. Saya jadi tidak sabar untuk segera menyantapnya selagi hangat.

Tampilan Raclette Steak di Willie Brothers Steakhouse (Foto: Lastboy Tahara S)

Karena saya awam soal steak, saya hanya bisa menilai bahwa steak ini enak secara awam pula. Kematangan dagingnya pas, empuk dan juicy. Mungkin saus steak yang mereka gunakan juga berperan. Kombinasi antara keju dengan steak baru pertama kali ini saya coba. Rasanya mengejutkan, ada perpaduan gurihnya keju dan smoky dari steak. Hanya saja bila terlalu lama, keju akan semakin padat dan mengental. Teksturnya menjadi lebih kenyal, tidak lagi leleh dan mudah dipisahkan dengan garpu.

Saya rasa, menu Raclette Steak masih akan tetap eksis, mengingat tren kuliner dengan keju masih booming di Jakarta. Terlebih lagi Willie Brothers Steakhose adalah restaurant pertama yang menyajikan menu Raclette Steak di Jakarta.

Bagi Anda yang penasaran untuk mencoba, langsung saja menuju Jalan Pesanggrahan Raya No. 9, Meruya Utara, Kembangan, Kota Jakarta Barat. Restaurant ini buka mulai dari jam 11.00 WIB – 23.00 WIB.

Nikmatnya Aneka Masakan Khas Batak di Pasar Senen

Masakan khas Batak memang sudah tersebar di berbagai daerah, namun tidak semua daerah bisa menyajikan masakan khas Batak dengan rasa yang otentik. Maksudnya, rasa masakan yang hampir sama dengan  rasa masakan di daerah suku Batak, Sumatera Utara. Karena masakan khas suku Batak juga menggunakan bumbu khas yang hanya bisa diperoleh di Sumatera, misalnya andaliman atau onje.

Di Jakarta masakan khas Batak dengan rasa otentik sangat mudah ditemui, sebab ketersediaan rempah dan bumbu khas Batak sangat melimpah. Pasar Senen blok IV adalah salah satu pasar yang menjual bumbu khas Batak paling lengkap. Saking lengkapnya, sebagian aneka rempah dari Pasar Senen juga dikirim ke Pasar Mayestik di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Suasana Pasar Senen. Sayang, kurang bersih dan tidak terawat. | Foto: Lastboy Tahara

Suasana Pasar Senen. Sayang, kurang bersih dan seperti tidak terawat. | Foto: Lastboy Tahara

Menu masakan khas Batak yang sering tersedia di Pasar Senen adalah  Saksang, Na Niura, Ikan Mas Arsik, dan Babi Panggang khas Batak. Masakan tersebut tentu saja menggunakan bumbu khas Batak seperti andaliman. Maka jangan heran bila rasanya berbeda dengan masakan lain, karena Anda akan menemukan sensasi rasa pedas dan “getir”.

Babi Panggang adalah salah satu menu masakan khas Batak yang populer di Pasar Senen. Akan terasa nikmat bila dipadu dengan sambal cabe hijau, terlebih lagi bila ditemani nasi hangat. Selain itu, cara masak yang benar akan membuat rasa daging terasa gurih dan juicy. Belum lagi bila mendapat kulit babi panggang yang krispi, gurihnya nikmat bukan main!

Masakan Khas Batak: Ikan Mas Na Niura (Warna Kuning), Babi Panggang Khas Batak, Sup | Foto: Lastboy Tahara

Ikan Mas Arsik (Warna Kuning), Babi Panggang Khas Batak, Sup | Foto: Lastboy Tahara

Saksang juga masakan Batak yang paling banyak dicari, karena makanan ini paling cocok bila dipadu dengan andaliman. Saksang biasanya diolah menggunakan daging babi dan dipadu dengan banyak rempah, sehingga memiliki aroma yang khas.  Warna sajiannya agak coklat kehitaman dan menggunakan bumbu yang kental. Sedangkan dari segi rasa, Saksang memiliki rasa pedas yang menggigit akibat campuran bumbu andaliman.

Bila bosan dengan menu daging, masakan khas Batak juga ada yang berupa ikan. Salah satu yang cukup dikenal adalah Ikan Mas Arsik. Sesuai dengan namanya, menu ini menggunakan ikan mas sebagai bahan utama dan bumbu arsik yang berwarna kuning keemasan. Sama seperti masakan khas Batak lainnya, Ikan Mas Arsik menggunakan aneka rempah dan andaliman, sehingga rasanya menjadi khas dan getir di lidah. Selain itu tekstur dagingnya juga lembut karena ikan dan bumbunya diolah dengan cara direbus.

Badak, Minuman Soda Khas Siantar

Badak, Minuman Soda Khas Siantar

Puas menikmati masakan khas Batak yang dominan rasa pedas dan kaya rempah, Anda bisa memesan minuman Sarsaparila soda khas Pematang Siantar, Badak.  Minuman segar ini dikemas dalam botol kaca bening yang bertuliskan “Badak” dengan huruf berwarna hijau. Hal yang menarik, minuman ini kabarnya sudah berumur 100 tahun.

Berdasarkan berita di Kompas.com yang berjudul “Badak, Legenda Sebotol Minuman”, minuman Badak mulanya diproduksi pabrik minuman bersoda dan es batu NV Ijs Fabriek Siantar pada 1916. Pabrik ini didirikan oleh pria kelahiran Swiss bernama Heinrich Surbek. Setelah berganti kepemilikan, nama pabrik berubah menjadi PT Pabrik Es Siantar hingga sekarang.  Di Medan dan Pematang Siantar minuman Badak lumayan digemari. Mungkin karena banyak orang Batak di Jakarta yang rindu minuman ini, botol-botol Badak beredar hingga ke Jakarta.

Page 1 of 3

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén