Tim Semar UGM (seragam merah) bersama tim mahasiswa lain dari Indonesia. (Foto: Flickr Shell Eco-marathon)

Di dunia yang kini dituntut serba cepat, manusia harus bijak untuk menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Sebab pasokan minyak bumi di dunia kini semakin berkurang seiring kebutuhan akan transportasi yang kian meningkat.

Di Indonesia misalnya, berdasarkan laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) cadangan minyak bumi Indonesia kini hanya tersisa 3,3 miliar barel. Bila tidak ditemukan sumber minyak baru, cadangan minyak Indonesia diprediksi akan ludes dalam 11 hingga 12 tahun ke depan.

Perusahaan minyak dan gas multinasional asal Amerika, Shell, juga menaruh keprihatinan akan kebutuhan sumber energi dunia. Mereka kemudian menciptakan sebuah kampanye bernama “Make the Future”. Kampanye ini berupa acara festival untuk mendukung ide-ide brilian atau inovasi dari masyarakat dalam menjawab tantangan energi dunia dan menyediakan ruang untuk berkolaborasi.

Inovasi tentang energi masa depan ini kemudian dapat diaplikasikan dalam program Shell Eco-marathon, sebuah kompetisi merancang kendaraan bermotor dengan energi yang efisien. Artinya kompetisi ini dinilai berdasarkan seberapa jauh mobil dapat melaju dengan sedikit bahan bakar. Untuk pesertanya, Shell Eco-marathon diikuti oleh ratusan mahasiswa dari seluruh dunia.

Dalam ajang Shell Eco-marathon juga terdapat ajang Drivers World Championship yang juga merupakan bagian dari festival Make The Future. Ajang ini merupakan adu cepat pengemudi mobil hemat energi.

Shell Eco-marathon 2018 kali ini diadakan di tiga benua berbeda, yaitu Asia, Amerika dan Eropa. Untuk regional Asia, ajang ini telah dilaksanakan pada 8 – 11 Maret 2018 di Singapura. Tim asal Indonesia tampil memukau dengan menguasai lima besar kategori UrbanConcept.

TIM SEMAR UGM RAIH JUARA “DRIVERS WORLD CHAMPIONSHIP ASIA 2018”

Kemudian untuk Drivers World Championship 2018 tingkat Asia, pemenangnya diraih oleh SEMAR URBAN UGM INDONESIA (Universitas Gadjah Mada). Pada ajang tersebut mereka menggunakan mobil berkonsep urban berbahan bakar bensin.  Tampil dengan warna body mobil serba hitam bernomor 507, mobil rancangan mereka melesat meninggalkan pebalap DWC Asia lainnya.

Kompetisi DWC ini memiliki gengsi tersendiri dalam ajang Shell Eco-marathon. Mobil yang dirancang tidak hanya soal kecepatan, tapi juga efisiensi energi. Selain itu diperlukan juga skill khusus dari pengemudi untuk mengendalikan mobil. Sebab pengemudi lah yang mengontrol kecepatan saat berada di lintasan, bahkan teknik pengereman juga diperhitungkan untuk menghemat energi.

Kemenangan SEMAR URBAN UGM ini ternyata merupakan pencapaian tertinggi selama mengikuti Shell Eco-marathon. Tahun 2017 lalu mereka tidak berhasil mencatatkan diri sebagai juara dalam DWC Asia. Saat itu, juga merupakan penampilan pertama mereka setelah 4 tahun vakum dari Shell Eco-marathon Asia.

Kini perjuangan mereka berbuah manis, pada penampilan kedua mereka memenangi DWC 2018 di Singapura dan melaju ke final untuk bersaing dengan tim-tim terbaik dunia. Untuk mengetahui lebih lanjut soal kemenangan tim SEMAR URBAN UGM INDONESIA, saya melakukan wawancara eksklusif dengan ketua tim mereka, Antonius Adhika, melalui aplikasi chatt Line. Kesempatan wawancara ini saya dapatkan setelah memohon izin melalui akun Line resmi SEMAR UGM.

WAWANCARA BERSAMA KETUA TIM SEMAR UGM

TIM SEMAR UGM ini hanya diisi oleh mahasiswa dan satu dosen pembimbing. Sungguh luar biasa, di sela-sela kesibukan untuk kuliah, mereka masih sempat untuk menciptakan cikal bakal mobil masa depan. Berkat perjuangan mereka, nama Indonesia harum di kancah internasional. Saya dan Anda tentu juga merasa bangga atas pencapaian mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh ketua tim SEMAR UGM, Antonius Adhika, yang merasa bangga atas kerhasilan timnya menyabet juara DWC 2018. Terlebih lagi, ia juga akan membawa nama UGM dan Indonesia untuk mewakili Asia dalam Make The Future di Inggris.

“Tentu senang dan bangga atas raihan kemarin mas. Selain karena meraih juara pertama, kami boleh melaju ke tahap selanjutnya mewakili Asia di babak grand final di Inggris, Juli nanti,” ungkapnya saat saya hubungi melalui Line, Selasa (24/4/2018).

Pada Shell Eco-marathon 2018 kali ini tim SEMAR URBAN UGM memboyong 2 mobil hemat energi, yaitu SEMAR PROTO ELECTRIC dan SEMAR URBAN GASOLINE. Untuk mobil SEMAR PROTO ELECTRIC, mereka harus puas dengan juara 4 untuk kategori proto battery-electric Asia.

Sedangkan untuk SEMAR URBAN GASOLINE, mobil berbahan bakar bensin ini berhasil menyabet juara 2 dalam kategori Internal Combustion Engine atau mesin pembakaran dalam. Mobil ini pula lah yang membawa SEMAR URBAN UGM menjuarai DWC 2018 tingkat Asia.

Tim sedang mempersiapkan mobil SEMAR URBAN GASOLINE di luar lintasan. (Foto: Antonius Adhika)

Mobil Semar Urban Gasoline saat berada di lintasan dengan nomor 507. (Foto: Flickr Shell Eco-marathon)

“Kami menggunakan mesin bensin. Untuk berat mobil kemarin 98 kilogram dengan coefficient of drag body mobil 0.2 (Besaran dimensi untuk mengukur hambatan dari segi aerodinamis),” terangnya saat menjelaskan mobil untuk DWC.

Keberhasilan SEMAR URBAN UGM memenangkan kompetisi ini juga terletak pada kegigihan mereka untuk terus berinovasi. Mobil SEMAR URBAN GASOLINE sebenarnya sudah pernah diikutkan pada Shell Eco-marathon 2017. Saat itu mobil ini hanya mampu melaju dengan kecepatan 186 kilometer per liter pada kategori UrbanConcept dengan pembakaran mesin dalam.

Dirasa performanya masih kurang, mereka kemudian melakukan pembaruan pada generasi mobil selanjutnya dengan merubah desain body mobil. Hasilnya mobil terbaru mereka mampu melaju dengan kecepatan 267 kilometer per liter dengan kategori yang sama seperti tahun lalu.

“Menurut saya faktor terpenting adalah persiapan yang lebih matang. Mobil yang kami lombakan di Singapura kemarin adalah mobil generasi terbaru kami dengan desain baru yang lebih aerodinamis, rigid, dan ringan,” terang mahasiswa Teknik Mesin UGM ini.

Salah satu poin penting yang tak boleh ditinggalkan adalah kemenangan yang mereka raih bukan sekadar mengandalkan kendaraan yang sudah dirancang. Namun juga orang yang berada di balik kendaraan tersebut, yaitu pengemudi SEMAR URBAN GASOLINE, Tito Setyadi Wiguna. Berkat dia mobil dapat dikendalikan secara gesit tapi tetap aman dan irit di atas lintasan.

“Driver kami Tito Setyadi Wiguna, mahasiswa teknik mesin UGM juga mas. Faktor gaya mengemudi driver sangat berpengaruh dalam mencapai hasil kemarin, selain tentunya faktor teknis dari mobil itu sendiri,” ungkapnya.

Tito Setyadi Wiguna (baju putih) pengemudi SEMAR URBAN GASOLINE (Foto: Flickr Shell Eco-marathon)

Tim SEMAR UGM sedang merayakan kemenangan DWC Asia 2018 (Foto: Flickr Shell Eco-marathon)

Kini setelah memenangkan DWS tingkat Asia, Dhika dan kawan-kawan masih harus berjuang kembali. Mereka hanya diberi waktu sekitar satu atau dua bulan untuk mempersiapkan mobil yang akan diberangkatkan ke Inggris. Untuk mengejar waktu, maka persiapan hanya berupa perbaikan minor pada rangka dan sistem pengereman.

“Waktu persiapannya sempit mas. Akhir Mei mobil sudah harus dikirim ke Inggris,” tutupnya.

Tim Indonesia Kuasai Podium untuk Kategori UrbanConcept

Selain tim SEMAR UGM yang tampil sebagai pemenang dan membawa nama harum Indonesia di DWC tingkat Asia, posisi selanjutnya diraih oleh ITS Team 2 dan GARUDA UNY ECO TEAM. Ketiga tim asal Indonesia ini akan melaju ke babak Final DWC di London, Inggris, yang berlangsung pada 5-8 Juli 2018. Mereka akan bersaing dengan tim terbaik dari Amerika dan Eropa.

Sedangkan untuk kategori UrbanConcept, tim mahasiswa Indonesia mendominasi peringkat lima besar. Pada kategori ini mereka ditantang untuk merancang mobil hemat energi yang mirip dengan mobil perkotaan. Bentuk mobil dalam kategori UrbanConcept harus menggunakan empat roda dan memenuhi fitur kelengkapan berkendara di jalan raya seperti spion, lampu kendaraan, dan bagasi.

Untuk kategori UrbanConcept dengan internal combustion atau mesin pembakaran dalam, lima posisi teratas ditempati oleh ITS Team 2 (ITS), SEMAR URBAN UGM INDONESIA (UGM), GARUDA UNY ECO TEAM (UNY), Sadewa (UI), dan Bengawan Team 2 (UNS). Dominasi kejuaraan juga terjadi untuk mesin mobil dengan energi listrik, hanya saja tidak ada tim Indonesia yang menempati posisi pertama.

Berikut tabel posisi para pemenang untuk kategori UrbanConcept:

Daftar penerima UrbanConcept Awards Shell Eco-marathon 2018 di Singapura. Klik pada gambar untuk melihat gambar lebih besar dan jelas. (Foto: www.shell.com)

Dengan prestasi para mahasiswa Indonesia yang gemilang dalam ajang Shell Eco-marathon tingkat Asia, semoga dapat menginspirasi para profesional yang bergerak di bidang energi dan teknologi. Bukan hal yang tak mungkin, bila ide-ide para anak muda Indonesia ini menjadi cikal bakal terciptanya kendaraan dengan energi masa depan yang efisien dan ramah lingkungan.

Sudah saatnya bagi dunia untuk mengurangi kendaraan dengan menggunakan bahan bakar fosil yang kerap menimbulkan polusi udara dan tak dapat diperbaharui. Pemanasan global merupakan contoh nyata dari penggunaan bahan bakar fosil yang makin tak terkendali.

Maka dengan munculnya alternatif energi masa depan yang rendah karbon, dapat meredam penyebaran polusi dan merawat bumi lebih baik. Semoga ajang Shell Eco-marathon dapat terus berlanjut dan memunculkan banyak inovasi untuk menjawab berbagai tantangan energi dunia yang masih belum terpecahkan. Tak lupa juga untuk PT. Shell Indonesia, semoga dapat terus mendukung anak Indonesia berprestasi di kancah internasional, khususnya di bidang energi dan otomotif.

Semangat Indonesia! Semoga menang di Final Drivers World Championsip 2018 di London, Inggris.

 

Referensi dan foto: