PUBG Global Invitational (PGI) 2018 di Berlin, Jerman. (Twitter/@PUBG)

Olahraga elektronik atau esports kini sedang berkembang pesat di berbagai belahan dunia. Di situs berbagi layanan video, Twitch, konten esports kerap meraih jutaan jam tayang.

Menurut laporan lembaga riset industri gim global, Newzoo, gim League of Legends (LoL) adalah yang terpopuler di Twitch dengan 274,7 juta jam tayang selama 2017. Meski jumlah jam tayang LoL amat fantastis, ada hal menarik lain dari laporan Newzoo edisi 2018 kali ini, yaitu masuknya gim PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG) sebagai esports.

Peringkat 25 besar gim dengan jumlah jam tayang terbanyak selama 2017 di Twitch. (Newzoo Report 2018)

Sejak diluncurkan pertama kali dalam versi PC pada Maret 2017, PUBG langsung meraih banyak penggemar di seluruh dunia. Berdasarkan laporan lembaga riset Newzoo, PUBG telah meraih 4,5 juta jam tayang di Twitch selama 2017 untuk kategori esports. Sedangkan untuk kategori non esports, PUBG menduduki peringkat 2 untuk jumlah jam tayang terbanyak selama 2017 di Twitch, yaitu 534,6 juta jam.

Pesatnya perkembangan gim PUBG ini karena genre gim “battle royale” disukai para pemain. Genre ini terinspirasi dari film Jepang “Battle Royale”, yang menampilkan sejumlah pemain masuk dalam satu area permainan dan saling bunuh. Satu-satunya pemain yang masih hidup hingga akhir akan tampil sebagai pemenang.

Sama seperti dalam film, misi utama permainan PUBG adalah saling bertempur dengan pemain lain dan bertahan hidup hingga akhir. Permainan dimulai dengan terjunnya 100 pemain dari pesawat ke pulau terpencil.

Usai mendarat, pemain tidak memiliki peralatan apa pun untuk bertahan hidup. Satu-satunya cara hanya berkelahi dengan tangan kosong. Supaya tidak rentan terbunuh, pemain harus segera mencari senjata dan peralatan tempur lain yang tersedia secara acak di reruntuhan bangunan.

Cara pemain mendapatkan senjata secara acak ini lah yang dinilai beberapa pihak bahwa PUBG tidak cocok untuk esports. Sebab dapat menyebabkan permainan menjadi kurang kompetitif atau tidak adanya kesempatan yang sama bagi semua pemain untuk saling mengalahkan.

Ingin menjajal tantangan esports lebih dalam, PUBG Corp kemudian menyelenggarakan PUBG Global Invitational (PGI) 2018, pada 25-29 Juli di Berlin. Seperti dikutip dari Forbes, CEO PUBG Corp, Changhan Kim, mengatakan bahwa “The PUBG Global Invitational 2018, adalah momen penting bagi PUBG Corp sebagai ajang unjuk gigi PUBG di ranah esports”.

Bakal menjadi turnamen esports terbesar pertama mereka, hadiah yang ditawarkan pun lumayan besar. Selama lima hari, 20 tim profesional papan atas dari seluruh dunia berkompetisi untuk memenangkan hadiah senilai US $ 2 juta.

Digemborkan sejak jauh-jauh hari, PUBG Corp justru mengeluarkan pernyataan mengejutkan sebelum turnamen dibuka di Berlin. Perancang gim PUBG, Brendan Greene, mengatakan ia tidak percaya diri bahwa gim mereka siap untuk esports.

“Ini adalah sesuatu yang selalu saya katakan–kami belum siap, dan kami tidak pernah mengatakan bahwa kami siap,” ungkap Brendan Greene, dalam wawancara menjelang dimulainya turnamen, seperti dikutip dari laman PCGamesN, Rabu (25/7/2018).

Rupanya PGI 2018 sekadar eksperimen mereka untuk mengetahui format turnamen dan alat penilai kelayakan. Hal ini bisa dimaklumi, sebab turnamen esports bukan sekadar mengumpulkan beberapa orang untuk bermain gim dan berkompetisi. Perlu perencanaan yang matang, termasuk sistem permainan yang kompetitif dan platform yang memadai.

“Kami benar-benar ingin menstabilkan platform. Kami harus membuat gim menjadi kompetitif, dan itu berarti mendapatkan semua bug yang rumit dan semua peningkatan kualitas hidup yang diinginkan para pemain, jadi kami dapat menambahkan fitur baru dan menambahkan fungsionalitas baru ke dalam game,” tambahnya.

Setelah sempat ragu-ragu dalam penyelenggaraan turnamen pada Juli lalu, kini PUBG Corp tampaknya benar-benar serius untuk terjun ke ranah esports. Pada 6 November lalu mereka kembali mengumumkan turnamen esports resmi pertama mereka “PUBG Global Championship” yang akan diselenggarakan akhir Januari 2019.

Ada sembilan wilayah independen yang akan mengikuti turnamen global, masing-masing dengan serangkaian kompetisi pro-nya sendiri, yaitu Amerika Utara, Eropa, Korea, China, Jepang, China Taipei/Hong Kong/Macao, Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Oceania.

Di antara sembilan wilayah tersebut, mereka akan bersaing pada garis waktu yang sama. Kemudian tim terbaik dari masing-masing wilayah akan mengikuti kejuaraan global pada bulan November dan memperebutkan hadiah senilai US $ 2 juta.

Kalender penyelenggaraan turnamen global PUBG 2019. (PUBG Corp)

Pengumuman turnamen ini tentu disambut gembira oleh para penggemarnya, tapi apakah kali ini mereka benar-benar sudah siap untuk masuk ke ranah esports? Perlu diperhatikan bahwa gim bisa masuk ranah esports bila gim tersebut kompetitif. Sederhananya, semua pemain memiliki kesempatan yang sama untuk saling mengalahkan. Menggunakan skill dan taktik untuk meraih kemenangan, bukan semata-mata karena keberuntungan.

Maka untuk menciptakan gim yang kompetitif diperlukan aturan yang jelas sebagai batas dalam permainan. Dalam kompetisi esports PUBG 2019 nanti, PUBG Corp akan menerapkan seperangkat aturan gim baru yang universal, baik untuk kompetisi pro regional dan global .

Langkah ini dilakukan setelah mereka menerima laporan bahwa turnamen PUBG selama ini diselenggarakan dengan aturan yang berbeda-beda oleh penyelenggara yang berbeda. Hal ini membuat pemain PUBG tidak dapat memperoleh pemahaman mendalam tentang alur permainan sesungguhnya.

Salah satu aturan yang kerap dibahas adalah mengenai mode permainan. PUBG memiliki beberapa peta dan mode permainan yang berbeda, seperti tim vs solo, perspektif orang pertama vs perspektif orang ketiga (atau FPP dan TPP).

Jika tidak ada aturan yang sama saat turnamen, hal itu bisa membingungkan pemain dan penonton. Contohnya dari sisi pemain, setiap mode permainan yang berbeda akan mempengaruhi strategi dalam menghadapi musuh.

Misalnya dengan perspektif orang ketiga, pemain memiliki pandangan yang cukup luas dan bisa menempatkan diri untuk menyerang atau bertahan. Sedangkan perspektif orang pertama menyajikan pandangan yang lebih real sebagai penembak, hal ini bisa mempengaruhi reflek dan akurasi ketika menembak.

Supaya tidak membingungkan pemain dan penonton pada turnamen 2019 nanti, PUBG Corp telah menetapkan aturan universal untuk semua wilayah. Seperti dikutip dari laman resmi PUBG, setiap kompetisi pro akan menempatkan 16 tim pada peta Erangel dan Miramar dalam mode perspektif orang pertama saja (FPP).

Selain aturan mode permainan, PUBG Corp juga telah menambahkan fitur dalam permainan supaya tidak membosankan bagi penonton. Bukannya aksi pertempuran di PUBG tidak seru untuk ditonton. Sebab bila inti permainan adalah bertahan hingga akhir, biasanya akan ada pemain yang memilih untuk bersembunyi daripada melakukan kontak dengan lawan.

Akan sangat menggelikan bila penonton hanya melihat pemain yang mendekam di balik pohon atau reruntuhan, hingga menunggu pertarungan 1 vs 1 dan akhirnya muncul pemenang. Maka untuk mengatasi hal tersebut PUBG Corp telah melakukan penyesuaian dengan menambah fitur baru.

Seperti dikutip dari laman PUBG, akan ada pengaturan terpadu untuk play zone dan item drope rates supaya permainan menjadi lebih kompetitif. Kemudian ada sistem poin baru yang sedang dirancang ulang untuk menyajikan gameplay yang seimbang dan menarik untuk ditonton.

Menjanjikan banyak hal baru untuk format turnamen yang lebih baik, tampaknya turnamen ini akan mendapat respon positif dari penikmat esports. Mari kita tunggu, euforia turnamen global esports PlayerUnknown’s Battleground di akhir Januari 2019.

Winner Winner Chicken Dinner!

One thought on “Gelar Turnamen Global 2019, PUBG Makin Serius Garap Esports

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *