Pengalaman Spektakuler bersama Puluhan Ribu Suporter Indonesia di GBK

Antusiasme ribuan suporter Indonesia di stadion GBK. (Foto: www.lastboytahara.com)

Sejak tinggal di Jakarta, ada satu aktivitas yang ingin saya lakukan, yaitu merasakan euforia pertandingan sepak bola di stadion Gelora Bung Karno (GBK). Bersama ribuan suporter Indonesia memerahkan stadion untuk mendukung timnas. Impian itu akhirnya tercapai saat rekan kerja saya bernama Hafiz, tiba-tiba mengajak nonton langsung laga perempat final Piala AFC U-19 2018, Indonesia melawan Jepang di stadion GBK.

Kebetulan sekali, sebab laga kali ini merupakan penantian Timnas Indonesia U-19 selama 40 tahun. Para garuda muda kembali lolos perempat final Piala AFC U-19 sejak 1978. Saat itu perjuangan mereka terhenti di babak 8 besar karena kalah 0-2 dari Korea Utara.

Tak ingin melewatkan momen bersejarah, kami akhirnya nonton langsung perempat final Piala AFC U-19 2018 di stadion GBK, Minggu (29 Oktober 2018). Kami berangkat menuju stadion sekitar jam setengah 5 sore dengan berjalan kaki dari Pasar Palmerah, Jakarta Pusat. Sesampainya di Jl. Gerbang Pemuda, saya mulai melihat puluhan suporter timnas Indonesia berkaus merah memadati trotoar.

Kondisi ini membuat langkah kami yang mulanya leluasa, menjadi berjalan selangkah demi selangkah sambil berdesakan. Tak hanya suporter, para pedagang kaki lima juga turut meramaikan euforia laga timnas hari ini dengan berjualan di trotoar. Mereka menjual aneka atribut untuk suporter, mulai dari sticker, syal, topi, hingga kaus timnas Indonesia.

Sesampainya di pintu 10 GBK, dari kejauhan mulai terlihat gedung stadion yang amat terang. Saya kira keramaian hanya ada di luar stadion, ternyata ratusan suporter sudah memenuhi area stadion. Antusiasme masyarakat Indonesia melihat laga kali ini sungguh luar biasa. Tak hanya dipadati kaum muda-mudi, para suporter yang sudah berkeluarga pun turut serta membawa anak mereka. Senang rasanya bahwa GBK juga ramah untuk penonton anak-anak.

Melihat ramainya area GBK, saya dan Hafiz kemudian masuk stadion lebih awal supaya tidak berdesakan. Tiba di pintu tribun atas, saya melewati lorong kecil menuju dalam stadion. Perlahan-lahan alunan musik mulai terdengar, kemudian terlihatlah lapangan hijau yang disorot lampu begitu terang. Sementara itu di sekeliling tribun telah dipenuhi puluhan ribu suporter timnas Indonesia.

Lautan manusia berkaus merah ini bersorak-sorai sambil memekikkan chant untuk mendukung timnas Indonesia. Padahal saat itu laga belum dimulai. Baru kali ini saya menyaksikan langsung antusiasme suporter sepak bola yang begitu tinggi. Jumlah suporter yang hadir pun luar biasa, sebab sangat jarang kompetisi usia muda ditonton oleh puluhan ribu orang.

Seperti dikutip dari Kompas.com, laga perempat final Piala AFC U-19 2018 telah ditonton 60.154 orang di stadion GBK. Menurut AFC, jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sejak 1977 dalam laga final antara Iran versus Irak di Teheran. Laga yang dimenangi Irak dengan skor 4-3 itu dihadiri 100.000 penonton yang hadir di Stadion Aryamehr (sekarang Azadi).

Kembali ke stadion, perhatian saya kemudian tertuju pada tengah lapangan hijau. Saat itu Timnas Indonesia U-19 dan Timnas Jepang U-19 mulai memasuki lapangan. Kehadiran mereka disambut chant suporter Indonesia yang makin bergemuruh hingga membuat saya bergidik. Kencangnya suara dalam stadion sungguh memekakkan telinga, dada saya kemudian berdegup kencang karena takjub. Antusiasme suporter yang sungguh luar biasa.

Suasana kemudian agak menurun setelah pengumuman lagu nasional akan dinyanyikan. Saat nada lagu Indonesia Raya dilantunkan, kami bersama puluhan ribu suporter ikut beryanyi dengan lantang. Setelah selesai, ada momen menarik saat lagu nasional Jepang akan dinyanyikan. Beberapa oknum suporter sempat ada yang memprovokasi untuk mengolok-olok lagu tersebut dengan bersuara “Huuuuuuuu!”. Aksi itu hampir diikuti oleh suporter lainnya.

Untunglah, aksi tidak terpuji itu bisa dihentikan karena ada suporter lain yang saling menegur untuk menghentikannya. Lagu nasional Jepang pun akhirnya bisa didengarkan di stadion hingga selesai tanpa gangguan. Heran, masih saja ada oknum usil yang ingin mencoreng nama Indonesia di laga internasional.

Usai menyanyikan lagu nasional kedua negara, laga pun dimulai. Suasana stadion kembali bergemuruh dengan teriakan para suporter Indonesia. Mereka berdiri sambil berteriak “Indonesia! Indonesia! Indonesia!” sambil diselingi tepuk tangan setiap meneriakkannya.

Kemudian yang paling berkesan bagi saya adalah saat melihat suporter Indonesia melakukan sebuah koreografi. Ribuan suporter mengangkat semacam plastik berwarna merah dan putih di atas kepala mereka. Dari kejauhan, bagian tribun yang awalnya berwarna merah, kemudian membentuk pola bendera merah putih raksasa. Puluhan ribu suporter ini juga terkadang membuat gerakan gelombang manusia dari tribun penonton. Sungguh pemandangan yang spektakuler!

Kembali ke laga, sesekali teriakan chant terhenti sejenak karena Jepang mulai agresif melakukan pressing ke pertahanan Indonesia. Kami sempat dibuat kaget saat penyerang Jepang, Daiki Hashioka, menjebol gawang timnas U-19 Indonesia pada menit ke-11. Untunglah goal tersebut gagal tercipta karena ia terjebak perangkap offside.

Pada menit-menit berikutnya Indonesia yang cenderung bertahan, kemudian mulai melakukan serangan balik. Seisi stadion kembali riuh saat Saddil Ramdani mendapat peluang. Sayang, tendangannya masih menyamping di samping gawang Jepang.

Indonesia yang terus mengandalkan taktik bertahan dan serangan balik, ternyata belum cukup membuat lawan kehabisan akal. Jepang akhirnya berhasil mencetak gol melalui tendangan keras Highasi Shunki pada menit ke-40. Saat tertinggal 0-1 itu chant para suporter sempat terhenti. Namun itu tak berlangsung lama, drum ditabuh dan suara nyanyian suporter Indonesia kembali bergemuruh di GBK.

“Ku yakin hari ini pasti menang!”, teriak mereka dengan penuh optimis. Kemudian pada babak kedua stadion diguyur hujan deras. Indonesia yang ketinggalan skor tidak pantang menyerah untuk membalas kedudukan. Peluang demi peluang kembali diciptakan Indonesia, hingga yang paling menyita perhatian adalah tendangan bebas Saddil pada menit ke-68.

Nyaris saja tercipta gol bila bola tidak ditepis oleh kiper timnas U-19 Jepang. Dikelilingi puluhan ribu suporter Indonesia ternyata tidak membuat para pemain Jepang gentar. Mereka justru kembali membobol gawang Indonesia pada menit ke-70. Skor 0-2 untuk keunggulan Timnas Jepang U-19 ahirnya tetap bertahan hingga wasit meniup peluit panjang.

Di bawah guyuran hujan deras, beberapa garuda muda langsung terkulai di lapangan. Sementara itu tim samurai biru berkumpul dan bersorak-sorai. Dengan hasil ini Indonesia dipastikan gugur di Piala AFC U-19 2018 dan gagal untuk tampil di Piala Dunia U-20 2019 yang dihelat di Polandia.

Usai pertandingan kedua tim saling bersalaman sebagai bentuk sportifitas. Meski laga perempat final Piala AFC U-19 2018 dinyatakan berakhir, para suporter Indonesia masih meneriakkan “Indonesia! Indonesia! Indonesia!” di segala penjuru tribun. Di akhir chant, mereka memberikan tepuk tangan panjang yang meriah. Ini adalah bentuk apresiasi suporter pada garuda muda yang telah berjuang keras selama Piala AFC U-19 2018.

Setelah pemain timnas Indoensia memasuki ruang ganti, perhatian suporter tertuju pada pemain Timnas U-19 Jepang yang mengelilingi lapangan. Mereka memberikan tepuk tangan ke arah tribun penonton sebagai tanda terima kasih. Sambil berjalan sebentar, tiba-tiba mereka berhenti dan membungkuk setengah badan.

Di Jepang sikap tersebut dilakukan untuk memberikan salam hormat pada seseorang. Mengerti akan maksud mereka, aksi tersebut kemudian mendapat apresiasi dari suporter Indonesia. Setiap kali mereka berhenti di sisi lapangan dan membungkukkan badan, para suporter bersorak-sorai sambil bertepuk tangan.

Timnas U-19 Jepang dan suporter Indonesia tampak saling memberikan apresiasi dengan cara masing-masing. Bentuk sportifitas antar suporter tuan rumah dan tim lawan seperti ini, semoga bisa menjadi contoh untuk laga lainnya di Indonesia, baik dalam skala lokal atau internasional.

Apa pun hasilnya semua harus saling menghormati. Tak perlu kecewa terlalu dalam, apalagi menimbulkan kericuhan. Sebab sesungguhnya sepak bola erat dengan nilai persaudaraan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *